BACAAJA, JAKARTA — Istana merespons soal teror yang diterima Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Alih-alih berjanji mengusut tuntas pelaku teror, Istana justru menyoroti adab dalam menyampaikan kritik.
Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. mengaku diteror setelah vokal menyoroti kasus tragis anak SD di Ngada, NTT. Mulai dari ancaman penculikan sampai penguntitan, semuanya terjadi dalam rentang 9–11 Februari 2026.
Istana akhirnya buka suara. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi bilang, pihaknya nggak tahu siapa dalang teror tersebut.
“Kalau teror kita enggak tahu siapa yang meneror ya,” kata Prasetyo di Gedung DPR, Rabu (18/2/2026).
Bacaaja: Kritik MBG Disuarakan, Teror Datang Bertubi-tubi
Bacaaja: MBG Bikin Sampah Kian Menumpuk, Pemprov Jateng Akui Banyak Makanan Terbuang Sia-sia
Namun, sebagai alumni Universitas Gadjah Mada dan pernah aktif di BEM, Prasetyo juga kasih pesan khusus. Intinya, kritik itu sah-sah aja.
Demokrasi ya memang ruang buat beda pendapat. Tapi, menurutnya, cara penyampaiannya tetap harus pakai etika dan adab.
“Kita mengimbau untuk menyampaikan segala sesuatu dengan penuh tanggung jawab, mengedepankan etika, adab ketimuran,” ujarnya.
Ia menegaskan, ini bukan cuma buat Tiyo, tapi buat semua pihak. Kritik boleh keras, tapi jangan sampai kebablasan pakai kata-kata yang dinilai kurang pantas.
Di sisi lain, Tiyo mengaku mengalami serangkaian teror. Ia mendapat pesan ancaman dari nomor tak dikenal yang menyebut akan menculiknya.
Nggak cuma itu, ia juga sempat diikuti dua pria tak dikenal saat berada di sebuah kedai. Bahkan disebut sempat dipotret dari jarak jauh.
“Dua pria itu ketika kami kejar menghilang,” kata Tiyo.
Kasus ini bermula setelah Tiyo bersama BEM UGM menyurati UNICEF untuk menyoroti tragedi anak 10 tahun di NTT yang meninggal dunia karena tak mampu membeli alat tulis kurang dari Rp10.000.
Dalam suratnya, Tiyo menulis kalimat yang bikin publik ikut tersentuh: “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”
Ia menyebut tragedi itu sebagai bentuk kegagalan sistemik, bukan sekadar kejadian biasa. BEM UGM pun mendesak agar perlindungan anak dan jaminan anggaran pendidikan diperkuat.
Situasi ini jadi pengingat penting: ruang kritik harus tetap aman, tapi cara menyampaikan juga perlu bijak. (*)


