BACAAJA, SOLO — Persoalan sampah di TPA Putri Cempo akhirnya bikin Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, turun langsung ke lapangan, Selasa (10/2/2026). Nggak datang kosong, Respati sekaligus bawa “pasukan” alat berat buat ngurai antrean truk sampah yang sempat mengular.
Didampingi Dandim, Wakapolresta, dan jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Respati meninjau jalur masuk kendaraan pengangkut sampah yang jadi salah satu titik masalah.
“Kita siapkan tiga ekskavator dan beberapa dozer supaya jalur mobil pengangkut sampah bisa lancar,” kata Respati.
Bacaaja: Solo Punya Logo Baru di Usia ke-281, Respati Gandeng ISI: Biar Nggak Ada Unsur Subjektif
Bacaaja: Pimpin Kurvei Pasar Gedhe Solo, Respati Sorot Buruknya Manajemen Sampah
Langkah cepat ini juga dibarengi rencana penataan Blok D di Putri Cempo. Targetnya jelas: sampah yang masuk bisa langsung tertangani tanpa bikin penumpukan baru.
“Yang harus kita selesaikan adalah pembukaan jalur kembali. Kita juga akan lakukan pendalaman untuk cut and fill penataan beberapa blok,” jelasnya.
Tapi menurut Respati, akar masalahnya nggak cuma soal alat atau jalur. Ia menyoroti masih banyaknya sampah rumah tangga yang tercampur, bikin mesin pengolah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) di PLTSa sering error.
“Mesin pemilah sering rusak karena sampah masih tercampur. Karena itu, kami mengajak seluruh warga Solo untuk mulai memilah sampah dari rumah. Ini permasalahan bersama,” tegasnya.
Dalam waktu dekat, Pemkot berencana menggencarkan sosialisasi ke tingkat RT/RW supaya kebiasaan pilah sampah bisa dimulai dari hulu.
Sementara itu, Kepala DLH Surakarta, Herwin Tri Nugroho, mengakui penanganan sampah sebelumnya sempat tersendat gara-gara minim alat berat. Bahkan, sempat cuma satu ekskavator yang berfungsi.
“Alhamdulillah sudah ada keputusan dari Pak Wali untuk mendatangkan tambahan alat berat. Hari ini semuanya sudah datang dan bisa memenuhi kebutuhan dasar pengelolaan sampah harian,” terangnya.
Ke depan, DLH juga bakal mengatur jadwal keluar-masuk truk agar volume sampah—yang bisa tembus ratusan ton per hari—nggak melampaui kapasitas.
Herwin kembali mengingatkan bahwa peran warga itu krusial. Kalau pemilahan dilakukan sejak dari rumah, beban TPA bisa berkurang dan mesin pengolahan pun nggak gampang rusak.
“Kalau proses pemilahan bisa dilakukan dari hulu, itu akan sangat membantu mengurangi timbulan sampah dan tentu lebih baik bagi lingkungan,” pungkasnya. (*)


