SETIAP KALI Ramadhan tiba, vibe-nya selalu beda. Masjid makin rame, kajian di mana-mana, timeline penuh pengingat ibadah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya seistimewa apa sih Ramadhan dibanding bulan lainnya?
Dalam salah satu ceramahnya yang dikutip dari kanal YouTube @StoryCancer9, Ustadz Adi Hidayat membedah hal ini dengan penjelasan yang cukup nendang. Menurutnya, Ramadhan itu bukan sekadar bulan puasa, tapi bulan yang paket lengkap banget.
Ada empat hal yang bikin Ramadhan terasa beda kelas. Pertama, ampunan Allah yang luar biasa luas. Kedua, pahala yang dilipatgandakan tanpa tanggung-tanggung.
Ketiga, ada peluang besar buat menjauh dari godaan setan. Dan keempat, hampir semua waktu—siang maupun malam—jadi momen yang cepat banget untuk dikabulkannya doa.
“Kenapa Ramadhan istimewa? Karena ada ampunan Allah yang sangat luar biasa. Kenapa Ramadhan istimewa? Karena ada pelipatgandaan pahala. Kenapa Ramadhan istimewa? Karena ada peluang untuk menjauhkan dari setan. Dan yang terakhir, Ramadhan istimewa karena semua waktu siang dan malam mempercepat terkabulnya doa,” begitu penjelasannya.
Penegasan soal doa ini nyambung langsung dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 186. Ayat ini berada di tengah rangkaian ayat tentang puasa, seolah jadi highlight bahwa Ramadhan itu erat banget dengan doa yang tembus langit.
Allah berfirman:
“Wa idzā sa’alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb. Ujību da‘wata d-dā‘i idzā da‘ān.”
Artinya: “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”
Bukan cuma itu, dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan ada tiga golongan yang doanya susah banget ditolak. Imam yang adil, orang yang terzalimi, dan orang yang berpuasa sampai berbuka.
Nah, di sini letak spesialnya. Orang yang lagi puasa punya jalur doa yang kuat banget. Apalagi kalau puasanya di bulan Ramadhan, saat pahala dilipatgandakan dan pintu rahmat dibuka lebar.
Ada juga penjelasan bahwa di bulan ini setan-setan dibelenggu. Artinya, distraksi untuk berbuat maksiat jauh lebih kecil. Bukan berarti langsung auto saleh, tapi peluang buat konsisten dalam kebaikan jadi lebih besar.
Karena gangguan berkurang, Ramadhan jadi momen reset diri. Banyak orang yang awalnya biasa aja, mendadak rajin sholat, rajin ngaji, bahkan mulai belajar menahan emosi.
Salah satu ibadah khas yang bikin Ramadhan makin terasa adalah sholat tarawih. Suasananya beda, ada kebersamaan, ada semangat yang nggak selalu ditemukan di bulan lain.
Belum lagi interaksi dengan Al-Qur’an yang biasanya meningkat drastis. Ramadhan memang dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an, jadi wajar kalau umat Islam berlomba-lomba lebih dekat dengan kitab suci.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 disebutkan:
“Syahru Ramadhānalladzī unzila fīhil Qur’ān, hudan linnās wa bayyinātim minal hudā wal furqān.”
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang batil.”
Belum lagi ada satu malam yang nilainya lebih dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Satu malam yang kalau dimaksimalkan, pahalanya seperti ibadah lebih dari 83 tahun.
Dalam Surah Al-Qadr ayat 3 ditegaskan:
“Lailatul qadri khairum min alfi syahr.”
Artinya: “Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”
Selain ibadah personal, Ramadhan juga identik dengan berbagi. Sedekah jadi makin ringan dilakukan, dan pahalanya pun dilipatgandakan.
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok paling dermawan, dan di bulan Ramadhan kedermawanannya meningkat drastis. Ini jadi teladan bahwa Ramadhan bukan cuma soal hubungan vertikal, tapi juga horizontal.
Akhirnya, Ramadhan bukan cuma urusan nahan lapar dan haus dari subuh sampai magrib. Lebih dari itu, ini bulan percepatan—percepatan taubat, percepatan pahala, percepatan doa.
Pesan yang sering ditekankan, jangan sampai Ramadhan lewat begitu saja tanpa ada perubahan nyata dalam diri. Jangan cuma sibuk ngabuburit dan buka bareng, tapi lupa upgrade kualitas ibadah.
Ramadhan itu kesempatan emas yang datang setahun sekali. Kalau dilewatkan tanpa kesungguhan, bisa jadi kita cuma dapat capeknya saja.
Jadi, saat Ramadhan datang lagi, mungkin pertanyaannya bukan lagi “Seistimewa apa sih?” tapi “Sudah sejauh mana kita manfaatin keistimewaannya?” (*)


