Muhammad Fiam Setyawan tinggal di Laweyan, Surakarta.
Kita sering letih bukan karena bekerja, tetapi karena jauh dari diri dan dari Tuhan.
Dunia bergerak semakin cepat dan manusia terhimpit tuntutan yang kian menekan. Dalam derasnya ambisi dan gegap gempita dunia digital yang tak pernah diam, hati perlahan kehilangan kekhusyukan. Sunyi menjadi langka, sementara hidup terasa semakin jauh dari makna.
Di tengah hiruk-pikuk itu, kitya perlu mengingat sosok Rabiah Al-Adawiyah. Ia tampil sebagai cahaya yang memulihkan. Manusia yang sepenuhnya memberikan cintanya kepada Tuhan. Sikap yang kini jadi sangat relevan bagi manusia yang letih mencari ketenangan batin.
Rabiah menunjukkan bahwa ibadah bukan transaksi, melainkan seni untuk merawat hati. Ia mengajarkan bahwa cinta Ilahi tidak lahir dari ketakutan atau pamrih, tetapi dari kelembutan jiwa yang sepenuhnya kembali kepada Tuhan tanpa syarat.
Rabiah lahir dalam kemiskinan yang menjerat hidup sejak awal. Ia kehilangan keluarga dan akhirnya masuk dalam perbudakan. Namun, dari keterpurukan itu justru muncul keteguhan hati yang menuntunnya kepada kedalaman spiritual yang langka.
Setiap malam, setelah bekerja sebagai budak, ia bersujud dalam kesunyian panjang. Dalam sujud itu, ia menemukan ruang di mana luka tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi sebuah jalan menuju makna yang lebih tinggi dan lebih lembut.
Sang Tuan pernah melihat cahaya halus muncul dari ruang sujudnya. Cahaya itu seolah menandai hati yang menyala karena ketulusan. Peristiwa itulah yang kemudian membuat Rabiah dibebaskan. Selepas itu, ia tetap tidak mengejar kenyamanan dunia. Ia memilih hidup sederhana dan dekat dengan Tuhannya.
Meski hidup dalam serba kekurangan, Rabiah merasa hatinya lapang. Rumahnya hanya berisi tikar dan kendi air, tetapi jiwanya penuh keutuhan. Ia menolak kemewahan agar hatinya tetap jernih untuk mencintai Tuhan dengan sepenuh keikhlasan. Dalam munajatnya yang masyhur, Rabiah berkata:
“Duhai Tuhanku. Aku ini perempuan yatim piatu yang menderita dalam belenggu perbudakan manusia. Aku rela menanggung sakit tubuh dengan seluruh kesabaran yang aku miliki… Wahai Tuhanku, kerelaan-Mu lah satu-satunya harapanku, anugerahi aku rasa cinta kepada-Mu dan pengetahuan tentang-Mu. Wahai Tuhanku. Itulah puncak cita-citaku.”
Munajatnya menunjukkan wajah cinta yang tulus. Ia menerima sakit sebagai bagian dari perjalanan menuju Allah. Bagi Rabiah, dunia bukan tempat menuntut keadilan, tetapi tempat belajar bersabar agar kelak pulang dengan hati yang bersih.
Dalam kesunyian itu, Rabiah menjelma simbol cahaya yang tumbuh dari luka. Ia tidak mencari perhatian, tetapi menjadi panutan bagi banyak pencari Tuhan. Kesederhanaannya mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada dunia, tetapi pada ketenangan batin.
Rabiah menolak menjadikan ibadah sebagai perhitungan untung rugi. Doanya yang masyhur menolak cinta yang didorong oleh takut atau harap, dan menghadirkan cinta yang murni hanya karena Tuhan layak dicintai.
Di dunia modern, cinta tanpa syarat seperti itu malah terasa asing. Kita terbiasa menilai semua hal dari manfaatnya. Bahkan ibadah sering dijalani dengan logika hadiah. Rabiah hadir sebagai pengingat bahwa cinta suci tidak dihitung seperti transaksi.
Cinta tanpa syarat melahirkan kebebasan batin. Ketika seseorang mencintai Tuhan tanpa pamrih, ia tidak mudah goyah oleh ujian. Musibah bukan hukuman, tetapi cara Tuhan mendekatkan hamba pada pengenalan yang lebih dalam.
Doa, bagi Rabiah, bukan daftar keinginan, tetapi ruang untuk kembali. Sujud adalah ungkapan rindu, bukan beban kewajiban. Cinta Ilahi adalah rumah tempat manusia menemukan dirinya sendiri setelah lama tersesat dalam hiruk-pikuk dunia. Salah satu doa Rabiah yang paling terkenal dan kontroversial ialah:
“Jika aku menyembah-Mu karena takut akan api neraka-Mu, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu, haramkanlah aku daripadanya. Namun jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu, jangan palingkan wajah-Mu dariku.”
Ajaran Rabiah selaras dengan kegelisahan manusia modern. Kita sering letih bukan karena bekerja, tetapi karena jauh dari diri dan dari Tuhan. Rabiah mengingatkan bahwa keheningan adalah jembatan untuk pulang ke pusat jiwa yang selama ini kita abaikan.
Cinta Rabiah mengajarkan kita untuk melepaskan diri dari tuntutan dunia. Ia tidak meminta hidup yang sempurna, tetapi hati yang jujur dalam mencari Tuhan. Dari kejujuran itulah tumbuh ketabahan yang membuat hidup terasa lebih utuh.
Pada akhirnya, Rabiah bukan sekadar sufi perempuan. Ia adalah potret manusia yang menemukan Tuhan di tengah keterpurukan. Cintanya menjadi penanda bahwa ketenangan tidak datang dari banyaknya kepemilikan, tetapi dari kelapangan hati.
Dalam dunia yang riuh dan mendorong kita berlari tanpa arah, ajaran Rabiah menjadi tempat berlabuh. Ia mengajarkan bahwa berhenti sejenak dan kembali kepada Tuhan adalah cara terbaik untuk merawat jiwa.
Jika kita merasa jauh dari diri sendiri, mungkin kita hanya perlu menenangkan hati seperti Rabiah. Menyebut Tuhan dengan lembut, merawat rindu dengan sederhana, dan mencintai tanpa syarat. Karena dalam cinta seperti itulah manusia akhirnya menemukan arti damai.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


