BACAAJA, SEMARANG- Gelandang Mahesa Jenar, Tegar Infantrie alias Fantrie, ngomong blak-blakan jelang duel panas di Stadion Jatidiri, Minggu (15/2/2026). Pesannya simpel tapi dalem: tim sudah paham maunya pelatih baru, sistem sudah klik, sekarang tinggal buktiin di lapangan.
“Teman-teman sudah tahu karakter pelatih. Sistemnya bagus. Semoga ini jadi pacuan buat menang di round ketiga,” kata Fantrie di sesi jumpa pers, Sabtu, (14/2/2026).
Bukan rahasia lagi, PSIS Semarang lagi ada di posisi nggak nyaman. Peringkat sembilan Grup Timur, poin 18, dan bayang-bayang playoff degradasi mulai kelihatan dari kejauhan. Belum jatuh, tapi sudah di bibir jurang.
Baca juga: Andri Ramawi Pelatih PSIS: Misi Bertahan Dimulai
Masuknya pelatih anyar Andri Ramawi dengan dukungan Direktur Teknik Angel Alfredo Vera diharapkan jadi shock therapy. Perombakan skuad juga sudah dilakukan. Energi baru, wajah baru, harapan baru.
Adaptasi jadi kata kunci. Nggak ada waktu buat pelan-pelan. Putaran ketiga ini ibarat episode penentuan: lanjut aman atau masuk babak tambahan yang bikin jantung copot.
Fantrie tegas, targetnya cuma satu: bertahan tanpa drama. “Target utama kami jelas. Bertahan tanpa harus lewat babak tambahan. Adaptasi cepat jadi senjata utama,” ujarnya.
Rekor Oke
Secara head-to-head, PSIS pantas pede. Dalam sepuluh pertemuan terakhir, Mahesa Jenar lebih dominan atas Laskar Jaka Tingkir. Bahkan Januari 2026 lalu, PSIS menang 1-0. Tapi sepak bola bukan soal nostalgia. Statistik nggak bisa cetak gol.
Di sisi lain, kubu Persela juga datang nggak main-main. Asisten pelatih Ragil Sudirman memastikan 26 pemain diboyong ke Semarang. Targetnya jelas: curi poin dan balas kekalahan.
Artinya? Ini bukan sekadar laga biasa. Ini duel dua tim dengan misi berbeda: satu ingin menjauh dari zona merah, satu lagi ingin jaga posisi di papan atas.
PSIS sendiri masih inkonsisten musim ini. Catatan 3 menang, 2 seri, dan belasan kekalahan jadi alarm keras. Tapi justru di titik inilah biasanya mental diuji.
Baca juga: PSIS Kunci Skuad: Thaufan-Kristof Jadi Puzzle Terakhir
Latihan difokuskan pada transisi cepat dari bertahan ke menyerang. Mental pemain juga dibenahi. Karena kadang yang bikin kalah bukan taktik, tapi rasa takut duluan. Laga di Jatidiri nanti bisa jadi titik balik. Atau malah jadi pengingat pahit kalau sepak bola itu kejam.
Dan di tengah semua strategi, statistik, dan janji kebangkitan, satu kalimat Fantrie terasa paling jujur: mereka cuma nggak mau masuk lubang playoff. Karena di kasta kedua, bertahan itu bukan cuma target. Kadang itu satu-satunya cara supaya mimpi nggak benar-benar terdegradasi. (tebe)


