BACAAJA, JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto bilang Indonesia adalah “teman sejati” Amerika Serikat (AS). Pernyataan itu ia sampaikan saat Gala Iftar Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Rabu (18/2) waktu setempat.
“Kami selalu mencoba meyakinkan Amerika Serikat bahwa Indonesia adalah teman sejati, meskipun secara politik kami memiliki tradisi non-blok,” kata Prabowo.
Secara garis besar, pesannya simpel: Indonesia mau hubungan yang makin erat dengan AS, tapi tetap pegang prinsip bebas aktif. Dekat, tapi nggak mau kelihatan memihak.
Bacaaja: Prabowo-Trump Sepakat: Indonesia Kena Tarif 19 Persen, Produk AS Bebas Bea Masuk RI
Bacaaja: Cerita Prabowo ‘Hilangkan’ 48 Juta Jiwa Penduduk Indonesia saat Lapor Trump di Forum BoP
Dalam forum itu, Prabowo juga menyebut Indonesia bukan lagi “raksasa yang tertidur”. Menurutnya, Indonesia sedang bangkit dan siap jadi pemain penting di kawasan.
Ia bahkan menyinggung bahwa hubungan RI–AS sudah terjalin sejak masa awal kemerdekaan dan Amerika disebut pernah membantu Indonesia di masa-masa kritis.
Narasinya terdengar optimistis. Tapi di luar ruangan gala, publik nggak cuma lihat masa depan—mereka juga ingat masa lalu.
AS di balik sejarah kelam Indonesia
Kalau bicara soal hubungan Indonesia–Amerika, sulit menghindari satu bab gelap sejarah: peristiwa 1965.
Sejumlah dokumen yang telah dideklasifikasi pemerintah AS menunjukkan adanya dukungan politik dan intelijen Amerika terhadap militer Indonesia pada masa pergolakan pasca-30 September 1965.
Dalam periode itu, terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituduh terkait Partai Komunis Indonesia (PKI). Korbannya diperkirakan ratusan ribu jiwa.
Isu ini bukan teori konspirasi pinggiran. Arsip-arsip diplomatik AS yang dibuka ke publik memperlihatkan bagaimana pemerintah Amerika saat itu melihat perubahan rezim di Indonesia sebagai kemenangan strategis dalam konteks Perang Dingin.
Artinya, hubungan “teman sejati” ini punya sejarah yang kompleks, bahkan traumatis.
Prabowo menegaskan Indonesia menghormati semua kekuatan besar dan ingin bersahabat dengan semua bangsa. Prinsip bebas aktif disebut sebagai fondasi utama.
Secara konsep, itu ideal. Indonesia nggak mau terjebak blok mana pun. Mau fleksibel, mau jadi penengah.
Tapi di era persaingan geopolitik yang makin panas, publik juga makin kritis. Kedekatan ekonomi dan politik dengan satu kekuatan besar pasti punya implikasi.
Apalagi ketika memori sejarah belum sepenuhnya direkonsiliasi.
Catatan lama keterlibatan Amerika
Nggak salah membangun kemitraan strategis. Dunia sekarang memang butuh kolaborasi, investasi, dan kerja sama dagang.
Tapi menyebut “teman sejati” juga berarti siap melihat hubungan itu secara jujur, termasuk sisi kelamnya.
Generasi sekarang mungkin nggak hidup di 1965. Tapi dampaknya masih terasa sampai hari ini.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan cuma: seberapa dekat Indonesia dengan Amerika?
Tapi juga: seberapa siap kita berdamai dengan sejarah sebelum melangkah makin jauh? (*)


