BACAAJA, SEMARANG- Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Jawa Tengah mencatat total kunjungan Perpustakaan Daerah Jateng sepanjang 2025 mencapai 4.377.263 orang. Angka ini jelas bukan kaleng-kaleng, bahkan melampaui target yang cuma 3,1 juta kunjungan.
Kepala Dinas Arpus Jateng, Rahmah Nur Hayati bilang, tingginya angka ini karena perpustakaan sekarang nggak lagi monoton. “Yang datang langsung aja penuh terus. Mahasiswa, peneliti, sampai masyarakat umum,” ujarnya.
Dari total itu, sekitar 4,2 juta orang datang langsung ke lokasi di Jalan Sriwijaya, Semarang. Sisanya, lebih dari 122 ribu pengunjung memanfaatkan layanan digital lewat aplikasi iJateng.
Baca juga: Bus Pintar Nongkrong di Kota, Surakarta Gaspol Tingkatkan Budaya Literasi
Menariknya, kunjungan bulanan bisa tembus 200 ribu sampai 400 ribu orang. Bahkan, Juli jadi bulan paling rame dengan hampir 700 ribu pengunjung, kayak lagi musim diskon, tapi yang dicari buku.
Soal koleksi, Perpusda Jateng juga nggak main-main. Ada lebih dari 178 ribu judul buku cetak dengan ratusan ribu eksemplar. Belum lagi e-book, titik baca digital di ruang publik, sampai koleksi braille buat penyandang disabilitas.
Cara Menjual
Tapi yang bikin beda bukan cuma jumlah buku, melainkan cara “menjual” pengalaman literasinya. Sejak direvitalisasi pada 2024, gedung perpustakaan makin luas dan estetik. Ada ruang audiovisual, JPO ikonik, sampai interior yang lebih nyaman buat betah berlama-lama.
Masuk 2025, inovasi makin “niat” dengan hadirnya Aksara Kafe D’ Rooftop. Konsepnya angkringan tapi vibes-nya literasi, jadi pengunjung bisa baca buku sambil ngopi santai. “Di sini orang bisa diskusi sambil ngopi. Jadi literasi itu nggak kaku,” tambah Rahmah.
Nggak berhenti di fasilitas, berbagai event juga rutin digelar. Mulai dari lomba resensi, bazar buku, lomba puisi, sampai pameran, biar literasi terasa lebih hidup dan relate buat semua kalangan.
Baca juga: Nawal Yasin Ajak Pesantren Hidupkan Lagi “DNA Literasi”
Bunda Literasi Jateng, Nawal Arafah Yasin juga ikut mendorong agar gerakan ini terus jalan dengan melibatkan banyak pihak, dari pemerintah sampai komunitas. Menurutnya, literasi itu bukan kerja sendirian, tapi butuh “rame-rame” biar dampaknya makin luas.
Di saat banyak orang betah berjam-jam di kafe cuma buat scroll tanpa arah, perpustakaan justru naik level jadi tempat nongkrong yang lebih “berisi”. Mungkin sekarang bukan zamannya lagi pamer kopi mahal, tapi pamer insight yang nggak semua orang punya. (tebe)


