Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Pasar Spekulatif dan Batas Rasionalitas Ekonomi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Pasar Spekulatif dan Batas Rasionalitas Ekonomi

Redaktur Opini
Last updated: Februari 26, 2026 8:11 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi. Tinggal di kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Spekulasi, dengan demikian, bukan penyimpangan dari kapitalisme modern, tetapi justru memperlihatkan logikanya yang paling murni.

 

Di pasar spekulatif modern, bukan hal aneh seseorang membeli aset yang ia sendiri yakini sudah terlalu mahal. Ia tetap membeli bukan karena percaya pada nilai produktifnya, melainkan karena percaya akan ada orang lain yang bersedia membelinya dengan harga lebih tinggi di masa depan.

Selama ekspektasi itu bertahan, harga dapat terus naik sehingga keuntungan tidak lagi bergantung pada nilai aset itu sendiri, tetapi pada pengakuan atas klaim terhadapnya. Anehnya, teori ekonomi modern tetap menyebut perilaku seperti ini sebagai rasional.

Masalahnya, pasar spekulatif tidak selalu bekerja seperti di atas. Banyak keputusan justru tidak didasarkan pada nilai aset, tetapi pada perkiraan tentang bagaimana orang lain akan bertindak.

Seorang trader membeli bukan karena aset tersebut bernilai, tetapi karena ia memperkirakan orang lain akan menganggapnya bernilai. Dengan demikian, fokusnya bukan lagi pada nilai, tetapi pada ekspektasi tentang bagaimana ekspektasi itu sendiri akan terbentuk di pasar.

Bayangkan Anda membeli satu unit crypto di harga 10.000. Anda sadar harganya tidak sepenuhnya masuk akal secara produktif, tetapi tetap membeli karena percaya akan ada orang lain yang bersedia membelinya dengan harga lebih tinggi. Ketika harga mencapai 100.000, pembeli baru tetap masuk dengan logika yang sama.

Dalam kerangka ekonomi neoklasik, keputusan itu dianggap rasional karena individu diasumsikan memaksimalkan kepentingannya berdasarkan informasi dan ekspektasi yang tersedia. Alasannya, harga dipahami sebagai hasil agregasi penilaian rasional para pelaku pasar.

Sebaliknya, pada praktiknya pembeli di harga 100.000 tidak mengevaluasi objeknya secara langsung, melainkan ekspektasi orang lain terhadapnya. Mereka membeli karena percaya akan ada pembeli berikutnya di harga 110.000, dan pembeli di harga tersebut akan bertindak dengan keyakinan serupa terhadap pembeli berikutnya.

Proses itu membentuk regresi ekspektasi. Keputusan tidak lagi berorientasi pada nilai objek, tetapi pada ekspektasi tentang ekspektasi. Pada titik ini, harga tidak mencerminkan nilai objek melainkan stabilitas pengakuan kolektif atas klaim terhadapnya.

Keynes (1936) pernah menggambarkan situasi itu melalui analogi kontes kecantikan. Peserta tidak diminta memilih wajah yang menurut mereka paling cantik, tetapi wajah yang menurut mereka akan dipilih oleh mayoritas orang lain. Dalam situasi seperti ini, rasionalitas tidak lagi berarti menilai objek secara langsung. Tetapi menebak pikiran orang lain yang juga sedang menebak pikiran orang lain. Rasionalitas menjadi semacam permainan cermin tanpa ujung.

Akibatnya harga tidak lagi mencerminkan nilai substantif, tetapi kekuatan klaim yang diakui oleh pasar. Harga dapat diproduksi dan diperkuat melalui hype dan ekspektasi yang mendorong permintaan tanpa perubahan berarti pada basis produktifnya.

Dampaknya pergerakan harga lebih mencerminkan dinamika kepercayaan kolektif daripada nilai nyata. Dalam kondisi ini, rasionalitas tidak lagi berfungsi untuk menemukan nilai, tetapi untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang digerakkan oleh ekspektasi.

Spekulasi, dengan demikian, bukan penyimpangan dari kapitalisme modern, tetapi justru memperlihatkan logikanya yang paling murni. Pasar tidak hanya mengorganisir produksi nilai, tetapi juga mengorganisir sirkulasi klaim atas nilai.

Di titik tersebut, rasionalitas tidak lagi menjadi fondasi yang menciptakan pasar. Sebaliknya, pasar membentuk rasionalitas, dalam arti menentukan hal yang masuk akal, menguntungkan, dan hal yang, pada akhirnya, dianggap rasional.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

CEO yang Menyamar dan Fantasi Kenaikan Kelas

Manfaat Sambiloto untuk Mengobati Diabetes Melitus

Dalang di Balik Perpecahan PPP dan Bayangan Jokowi

Pajak dan Kisah Suami-Istri

Menimbang Keadilan Upah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi BPJS Kesehatan. Iuran BPJS Mau Naik, Siapa yang Kena? Ini Kata Menterinya
Next Article Mantan Bupati Karanganyar, Juliyatmono. Suara Terdakwa Korupsi Masjid Agung Karanganyar: Juliyatmono Ikut Nikmati, tapi Bebas

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Publik Bicara Setahun Agustina-Iswar: Jalan Bolong-bolong, Masih Langganan Banjir

Regulasi Tar-Nikotin: Adaptasi Bijak untuk Ekosistem Tembakau Nusantara

IGD Yowari Memanas, Emosi Keluarga Pasien Meledak, Dokter dan Perawat Dianiaya

Takjil Simpel Murah Meriah, Pahalanya Tetap Ngalir

Ngebut Lawan Arah, Calya Hitam Bikin Geger

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Presiden Prabowo merombak kabinet dengan mencopot lima menteri, termasuk Sri Mulyani dan Budi Arie. Langkah ini dinilai sebagai konsolidasi politik, sekaligus melepaskan bayang Jokowi. Publik menanti, apakah reshuffle ini akan bawa perubahan nyata atau sekadar ganti nama. Foto: dok.
Opini

Dari Reshuffle, Prabowo Mulai Lepas Bayang Jokowi, Siapa Masuk Siapa Tersingkir?

September 15, 2025
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah sebenarnya punya niat baik: anak sekolah kenyang, cerdas, dan sehat. Tapi realitanya, justru banyak siswa keracunan massal di berbagai daerah. Programnya keren di pidato, tapi di lapangan? Bisa bikin perut mules berjamaah.
Opini

Makan Bergizi Gratis, Tapi Rakyatnya Masuk IGD

September 21, 2025
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk Tim Transformasi Reformasi Kepolisian di saat Presiden Prabowo juga sedang membentuk Tim Reformasi Kepolisian dari eksternal kepolisian. Foto: dok.
Opini

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

September 15, 2025
Opini

Reklamasi sebagai Kunci Resiliensi

Desember 4, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pasar Spekulatif dan Batas Rasionalitas Ekonomi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?