Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi. Tinggal di kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Spekulasi, dengan demikian, bukan penyimpangan dari kapitalisme modern, tetapi justru memperlihatkan logikanya yang paling murni.
Di pasar spekulatif modern, bukan hal aneh seseorang membeli aset yang ia sendiri yakini sudah terlalu mahal. Ia tetap membeli bukan karena percaya pada nilai produktifnya, melainkan karena percaya akan ada orang lain yang bersedia membelinya dengan harga lebih tinggi di masa depan.
Selama ekspektasi itu bertahan, harga dapat terus naik sehingga keuntungan tidak lagi bergantung pada nilai aset itu sendiri, tetapi pada pengakuan atas klaim terhadapnya. Anehnya, teori ekonomi modern tetap menyebut perilaku seperti ini sebagai rasional.
Masalahnya, pasar spekulatif tidak selalu bekerja seperti di atas. Banyak keputusan justru tidak didasarkan pada nilai aset, tetapi pada perkiraan tentang bagaimana orang lain akan bertindak.
Seorang trader membeli bukan karena aset tersebut bernilai, tetapi karena ia memperkirakan orang lain akan menganggapnya bernilai. Dengan demikian, fokusnya bukan lagi pada nilai, tetapi pada ekspektasi tentang bagaimana ekspektasi itu sendiri akan terbentuk di pasar.
Bayangkan Anda membeli satu unit crypto di harga 10.000. Anda sadar harganya tidak sepenuhnya masuk akal secara produktif, tetapi tetap membeli karena percaya akan ada orang lain yang bersedia membelinya dengan harga lebih tinggi. Ketika harga mencapai 100.000, pembeli baru tetap masuk dengan logika yang sama.
Dalam kerangka ekonomi neoklasik, keputusan itu dianggap rasional karena individu diasumsikan memaksimalkan kepentingannya berdasarkan informasi dan ekspektasi yang tersedia. Alasannya, harga dipahami sebagai hasil agregasi penilaian rasional para pelaku pasar.
Sebaliknya, pada praktiknya pembeli di harga 100.000 tidak mengevaluasi objeknya secara langsung, melainkan ekspektasi orang lain terhadapnya. Mereka membeli karena percaya akan ada pembeli berikutnya di harga 110.000, dan pembeli di harga tersebut akan bertindak dengan keyakinan serupa terhadap pembeli berikutnya.
Proses itu membentuk regresi ekspektasi. Keputusan tidak lagi berorientasi pada nilai objek, tetapi pada ekspektasi tentang ekspektasi. Pada titik ini, harga tidak mencerminkan nilai objek melainkan stabilitas pengakuan kolektif atas klaim terhadapnya.
Keynes (1936) pernah menggambarkan situasi itu melalui analogi kontes kecantikan. Peserta tidak diminta memilih wajah yang menurut mereka paling cantik, tetapi wajah yang menurut mereka akan dipilih oleh mayoritas orang lain. Dalam situasi seperti ini, rasionalitas tidak lagi berarti menilai objek secara langsung. Tetapi menebak pikiran orang lain yang juga sedang menebak pikiran orang lain. Rasionalitas menjadi semacam permainan cermin tanpa ujung.
Akibatnya harga tidak lagi mencerminkan nilai substantif, tetapi kekuatan klaim yang diakui oleh pasar. Harga dapat diproduksi dan diperkuat melalui hype dan ekspektasi yang mendorong permintaan tanpa perubahan berarti pada basis produktifnya.
Dampaknya pergerakan harga lebih mencerminkan dinamika kepercayaan kolektif daripada nilai nyata. Dalam kondisi ini, rasionalitas tidak lagi berfungsi untuk menemukan nilai, tetapi untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang digerakkan oleh ekspektasi.
Spekulasi, dengan demikian, bukan penyimpangan dari kapitalisme modern, tetapi justru memperlihatkan logikanya yang paling murni. Pasar tidak hanya mengorganisir produksi nilai, tetapi juga mengorganisir sirkulasi klaim atas nilai.
Di titik tersebut, rasionalitas tidak lagi menjadi fondasi yang menciptakan pasar. Sebaliknya, pasar membentuk rasionalitas, dalam arti menentukan hal yang masuk akal, menguntungkan, dan hal yang, pada akhirnya, dianggap rasional.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


