BACAAJA, SEMARANG – Dugaan praktik perundungan di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Undip menjadi sorotan.
Salah satu hal yang ramai dibicarakan di media sosial yakni dugaan adanya PPDS senior yang memanggil juniornya dengan sebutan “babu”.
Kabar tersebut muncul setelah meninggalnya dr Yuda Nabella Prameswari, M.Biomed, mahasiswa PPDS Undip.
Salah satu akun media sosial mempertanyakan dugaan praktik tersebut di lingkungan PPDS Kedokteran Jiwa Undip.
Bacaaja: Dokter Residen PPDS Undip di RSUP dr Kariadi Ada yang Meninggal, Bullying Lagi?
Bacaaja: Bantah Bullying, Undip Ungkap Penyebab Kematian Dokter Residen PPDS
“Smoga ppds kedokteran jiwa undip tdk ada Ig 3 senior memanggil yunior dgn sebutan babu….dan perlakuan yg tdk manusiaw 55 lg…stop ya,” tulis akun umi_nur**.
Komentar lain merespon dugaan bullying tersebut. Akun @trnyasmenulis, “Ppds kesehatan jiwa lhooo, kok ya bully” dalam pembahasan mengenai panggilan “babu”.
Sorotan juga datang dari akun @dr.piprim yang diketahui merupakan akun milik Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
“Kenapa sih baru PPDS senior aja udah sesombong itu, manggil juniornya babu?” tulis akun tersebut.
Sementara itu, Undip menyatakan serius mencermati informasi mengenai dugaan perundungan yang beredar di media sosial.
Direktur Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Undip, Nurul Hasfi, mengatakan pihak kampus masih melakukan klarifikasi internal.
“Undip sendiri saat ini tetap terus mengawal isu ini dengan melakukan klarifikasi internal untuk memastikan kebenaran informasi yang berkembang serta memperoleh gambaran yang lengkap dan objektif mengenai dugaan tersebut,” kata Nurul.
Undip juga menyebut proses klarifikasi dilakukan dengan terus berkoordinasi dengan RSUP Dr Kariadi.
“Undip termasuk FK sendiri terus berkomitmen menjaga lingkungan pendidikan yang aman, profesional, dan bebas dari segala bentuk perundungan,” ujar Nurul. (bae)

