BACAAJA, BANYUMAS – Zaman sekarang, LDR alias Long Distance Relationship sering banget dianggap biasa. Termasuk setelah nikah. Suami di kota A, istri di kota B. Ketemu? Nunggu cuti. Video call jadi andalan, pelukan diganti emoji.
Padahal kalau bisa milih, sebenarnya jangan LDR-an.
Ada kisah menarik dari Fatimah binti Qais. Beliau pernah cerita, ada dua lelaki yang melamarnya: Abu Jahm dan Mu’awiyah. Lalu beliau minta saran ke Muhammad. Nabi menjelaskan, Mu’awiyah itu nggak punya harta. Sementara Abu Jahm “tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim.
Ucapan “nggak pernah naruh tongkat” itu kata para ulama punya dua makna. Salah satunya: dia sering banget safar. Jarang di rumah.
Dari sini, sebagian ulama paham bahwa Nabi nggak merekomendasikan lelaki yang bakal sering ninggalin istrinya dalam waktu lama. Karena kehidupan rumah tangga itu bukan cuma status halal, tapi soal kebersamaan.
Al-Qur’an sendiri bilang dalam QS. Al-Baqarah: 187, suami dan istri itu “libas” satu sama lain — pakaian. Pakaian itu nempel, dekat, saling nutupin, saling ngangetin. Nggak kebayang kan kalau “pakaian” tapi beda lemari, beda kota?
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir ngejelasin bahwa suami-istri itu mestinya hidup bareng, saling bersentuhan, tidur seranjang, berbagi ruang yang sama. Di situ ada ketenangan, ada penjagaan, ada kehangatan yang nggak bisa diganti sinyal internet sekuat apa pun.
Bukan berarti LDR itu otomatis haram. Ada kondisi tertentu yang mungkin bikin harus terpisah sementara—kerja, studi, atau alasan mendesak lainnya. Tapi kalau bisa dihindari, ya dihindari. Karena makin sering berjauhan, makin besar juga celah masalah: rindu numpuk, komunikasi rawan salah paham, kebutuhan emosional nggak keisi penuh.
Nikah itu bukan cuma sah di kertas. Tapi hidup bareng, tumbuh bareng, berantem lalu baikan di ruang yang sama.
Kalau memang harus LDR, pastikan itu sementara dan ada target jelas kapan bisa serumah lagi. Karena idealnya, suami-istri itu bukan cuma saling cinta dari jauh—tapi saling ada, saling jaga, dan benar-benar berbagi hidup dalam satu atap.
Semoga Allah mudahkan kita punya rumah tangga yang nggak cuma sah, tapi juga hangat dan utuh. (*)


