BACAAJA, KUDUS- Suasana dingin khas pegunungan menyambut Ketua Dekranasda Jateng, Nawal Arafah Yasin saat mampir ke Pusat UMKM Desa Wisata Dukungwaringin, Kecamatan Dawe yang terletak di lereng Gunung Muria, Selasa (27/1/2026).
Kabut masih turun, hujan kecil ikut menemani, tapi aroma kopi justru jadi highlight. Di tengah hawa dingin, Nawal menyeduh dan menyeruput kopi produksi UMKM Kopi Tjolo. Satu cangkir belum cukup. Begitu tahu rasanya beda, unik, dan nggak pasaran, ia langsung borong beberapa varian. Dari ngopi santai, berubah jadi aksi belanja serius.
Kopi Tjolo sendiri berasal dari petani lokal di lereng Gunung Muria. Bukan kopi kaleng-kaleng. Lewat inovasi rasa dan pengolahan, kopi ini sudah melanglang buana ke Malaysia, Thailand, sampai sejumlah negara Timur Tengah.
Yang bikin makin bangga, Kopi Tjolo juga pernah naik kelas jadi sajian tamu-tamu negara di KTT G20 Bali 2022. Dari kebun Muria ke meja pejabat dunia, alur ceritanya sah jadi inspirasi UMKM.
Baca juga: Ngopi Cantik Bareng Dekranasda, Wali Kota Semarang Janji Jadi Brand Ambassador Produk Lokal
Menurut Nawal, Kopi Tjolo punya ciri khas yang bikin orang berhenti scroll. Salah satu varian yang paling mencuri perhatian adalah kopi dengan campuran bubuk alpukat. “Ada macam-macam varian kopi, sampai satu inovasinya adalah kopi dicampur bubuk avocado. Di sini unggulannya memang Camelo dan avocado,” ujar istri Wakil Gubernur Jateng itu sambil menikmati kopinya.
Buat Nawal, inovasi ini bukti kalau potensi lokal bisa naik level asal diolah dengan ide segar. Ia pun mendorong UMKM di Jawa Tengah untuk berani menggali kekayaan daerah masing-masing, bukan sekadar ikut tren. “Kalau di sini potensinya kopi dan avocado, ya inovasinya dicampur. Rasanya pasti beda,” katanya.
Tak cuma kopi, Nawal juga memboyong produk UMKM lain dari Desa Wisata Dukungwaringin, mulai dari tas anyaman pandan sampai tape singkong khas daerah yang rasanya nggak kalah nendang.
Go International
Ia menegaskan, Dekranasda Jateng siap terus mendampingi UMKM agar bisa naik kelas dan go international. Mulai dari pemasaran digital, pelatihan, pendampingan, sampai kurasi produk supaya siap ekspor. “Untuk pemasaran akan kita kembangkan lewat digital. Kurasi dan pendampingan ekspor juga akan kita bantu,” jelasnya.
Sementara itu, pengelola Kopi Tjolo, Anggung Safitri menyebut, semua produknya berbasis bahan lokal dengan proses yang terstandar. Dari petik biji merah, sortir, rendam, jemur, sampai uji kualitas, semuanya dikerjakan serius.
Baca juga: UMKM Jateng Siap Mendunia, Dekranasda Genjot Pendampingan dan Digitalisasi
Mereka bahkan punya mini laboratorium sendiri. Selain varian avocado, Kopi Tjolo juga mengembangkan kopi campur gula kelapa dan paket 4 in 1 berisi gula, krimer, bubuk alpukat, dan kopi.
Dengan harga mulai Rp2.500 per sachet, Kopi Tjolo bisa mengantongi omzet puluhan juta rupiah per bulan. Pasarnya tak hanya Jateng, tapi juga merambah luar negeri. “Harapannya UMKM lokal seperti kami terus di-support, terutama dari sisi pemasaran, supaya bisa ekspor lebih luas,” kata Anggung.
Jadi kalau selama ini kopi cuma dianggap teman begadang, Kopi Muria sudah membuktikan: secangkir kopi lokal, kalau diolah serius, bisa bikin pejabat jatuh hati, dompet terbuka, dan paspor produk ikut terisi cap luar negeri. (tebe)


