BACAAJA, PATI – Apes banget ya jadi warga Pati. Sudah lebih dari dua minggu kebanjiran, eh sekarang Bupatinya, si Sudewo, ditangkap KPK.
Banjir di Kabupaten Pati belum juga tuntas. Air mulai naik sejak 9 Januari 2026. Sampai sekarang, dampaknya masih terasa di banyak desa.
Data BPBD mencatat sedikitnya banjir menerjang 77 desa. Total warga terdampak mencapai 20.960 kepala keluarga atau 62.892 jiwa. Angka ini jadi gambaran betapa luasnya dampak banjir kali ini.
Bacaaja: Gus Yasin Respons OTT KPK Bupati Pati Sudewo: Pelayanan Publik Tetap Jalan
Bacaaja: Walhi Ungkap Akar Masalah Banjir Jateng, Tata Ruang Semrawut Banget
Hingga Selasa (20/1/2026) pukul 18.00 WIB, ratusan warga masih bertahan di pengungsian. Tercatat 650 jiwa atau sekitar 200 keluarga belum bisa pulang ke rumah.
Banjir dipicu hujan deras dengan durasi panjang. Sungai tak sanggup menampung debit air. Di beberapa titik, tanggul jebol dan aliran sungai tersumbat material.
Tak hanya rumah warga, infrastruktur ikut kena imbas. Ada 44 titik kerusakan, mulai dari talud, tanggul, bendungan, sampai akses jalan. Aktivitas warga pun ikut terganggu.
Sektor pertanian juga terpukul. Luasan sawah yang terdampak banjir mencapai sekitar 1.300 hektare. Banyak petani terancam gagal panen.
Melihat kondisi itu, Pemprov Jateng menyiapkan langkah darurat. Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen menyebut fokus utama saat ini adalah mengurangi limpahan air ke permukiman.
“Dalam waktu cepat kita usulkan penanggulangan, karena ini limpahan. Berarti tanggulnya memang kurang tinggi,” kata Taj Yasin saat meninjau pengungsian di Pati, Rabu (21/1/2026).
Salah satu rencana yang disiapkan adalah peninggian tanggul. Selain itu, Pemprov juga mengkaji pemasangan tanggul karet di wilayah utara Pati. Dorongan air rob disebut ikut memperparah banjir.
Pompanisasi juga disiapkan untuk mempercepat pembuangan air. Menurut Gus Yasin, langkah ini harus hati-hati karena pembuangan air di satu titik bisa berdampak ke wilayah lain. (bae)

