Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Nasi Sisa Jangan Asal Digoreng, Ada Risiko Bakteri
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Nasi Sisa Jangan Asal Digoreng, Ada Risiko Bakteri

Nugroho P.
Last updated: September 24, 2026 11:20 am
By Nugroho P.
7 Min Read
Share
Nasi goreng (ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Nasi putih yang tersisa setelah makan malam sering kali masuk kulkas untuk kemudian diolah lagi menjadi nasi goreng. Cara ini memang praktis dan terasa seperti solusi agar makanan tidak terbuang percuma.

Contents
Spora Bakteri Bisa Bertahan dari Proses MasakMuntah dan Diare Punya Waktu Muncul BerbedaBukan Cuma Nasi yang Perlu DiwaspadaiUmumnya Ringan, Tapi Jangan Abaikan Gejala BeratPemeriksaan Dilihat dari Gejala dan Riwayat MakanPanaskan Lagi Belum Tentu Aman

Tapi, ada satu hal yang sering luput diperhatikan. Nasi matang yang terlalu lama berada di suhu ruang bisa menjadi tempat berkembangnya Bacillus cereus atau B. cereus, bakteri yang dikenal dapat menghasilkan toksin penyebab keracunan makanan.

Keluhannya memang sering hanya berlangsung singkat, seperti mual, muntah, diare, dan kram perut. Namun, jika kehilangan cairan cukup banyak, kondisi tersebut bisa berujung pada dehidrasi dan membutuhkan penanganan medis.

Spora Bakteri Bisa Bertahan dari Proses Masak

B. cereus sebenarnya bukan bakteri yang hanya ditemukan pada nasi. Bakteri ini ada di lingkungan dan dapat mencemari berbagai jenis makanan.

Yang membuatnya perlu diwaspadai adalah kemampuannya membentuk spora. Bentuk ini membuat bakteri bisa bertahan melewati proses memasak dalam kondisi tertentu.

Masalah bisa muncul ketika makanan matang dibiarkan dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri. Spora yang bertahan kemudian dapat berkembang kembali menjadi bakteri.

Keracunan akibat B. cereus sendiri memiliki dua pola utama. Ada tipe muntah yang berkaitan dengan toksin cereulide yang sudah terbentuk di makanan sebelum dikonsumsi, serta tipe diare yang terjadi ketika bakteri menghasilkan enterotoksin di dalam usus.

Muntah dan Diare Punya Waktu Muncul Berbeda

Pada tipe muntah, keluhan biasanya berupa mual dan muntah, meski diare juga bisa muncul. Gejalanya dapat terasa cukup cepat, sekitar 30 menit hingga lima jam setelah makanan dikonsumsi.

Sementara itu, tipe diare biasanya ditandai dengan diare, kram atau nyeri perut, dan terkadang disertai mual. Keluhan umumnya baru muncul sekitar 8–16 jam setelah makan.

Tipe muntah biasanya membaik dalam kisaran 6–24 jam. Untuk tipe diare, gejala umumnya mereda dalam waktu sekitar 12–24 jam.

Rentang tersebut merupakan pola umum yang bisa terjadi pada keracunan B. cereus. Waktu munculnya gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami keracunan bakteri tersebut.

Bukan Cuma Nasi yang Perlu Diwaspadai

Risiko B. cereus juga dapat muncul pada makanan lain. Pasta, daging, saus, susu, dan sayuran termasuk makanan yang bisa tercemar.

Kuncinya bukan sekadar jenis makanannya, tetapi bagaimana makanan matang tersebut disimpan. Makanan yang terlalu lama dibiarkan pada suhu ruang atau didinginkan dengan lambat memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang.

Siapa saja bisa mengalami keracunan makanan akibat bakteri ini. Namun, infeksi B. cereus yang terjadi di luar saluran pencernaan merupakan kondisi yang jauh lebih jarang dan dapat lebih berisiko pada orang dengan daya tahan tubuh lemah.

Kondisi tersebut juga tidak sama dengan keracunan makanan yang biasanya hanya menimbulkan gangguan pencernaan sementara.

Umumnya Ringan, Tapi Jangan Abaikan Gejala Berat

Sebagian besar kasus keracunan B. cereus dapat membaik tanpa komplikasi serius. Meski begitu, kehilangan cairan akibat muntah atau diare tetap perlu diperhatikan.

Dehidrasi bisa terjadi ketika cairan yang keluar jauh lebih banyak daripada yang berhasil masuk ke tubuh. Tanda seperti tubuh sangat lemas, pusing, atau sulit mempertahankan asupan cairan perlu menjadi perhatian.

Dalam kasus yang jarang, komplikasi yang lebih serius juga pernah dilaporkan. Laporan dalam World Journal of Hepatology pada 2024 mendokumentasikan kasus perempuan berusia 48 tahun yang mengalami gagal hati setelah keracunan makanan yang berkaitan dengan B. cereus.

Sejumlah laporan lain juga membahas kemungkinan komplikasi seperti kerusakan otot dan gangguan ginjal. Kasus seperti ini tergolong jarang, tetapi menunjukkan bahwa infeksi atau keracunan berat tidak seharusnya disepelekan.

Pemeriksaan Dilihat dari Gejala dan Riwayat Makan

Dokter biasanya akan melihat makanan apa saja yang dikonsumsi serta kapan keluhan mulai muncul. Informasi tersebut dapat membantu mengarahkan pemeriksaan.

Dalam kondisi tertentu, sampel tinja, muntahan, atau makanan dapat diperiksa untuk mencari penyebab keracunan. Pemeriksaan darah juga bisa dilakukan jika ada dugaan infeksi yang lebih luas.

Untuk keracunan makanan tanpa komplikasi, penanganan umumnya berfokus pada istirahat dan mengganti cairan yang hilang. Oralit dapat digunakan untuk membantu mengganti cairan dan elektrolit.

Antibiotik tidak selalu diperlukan dan tidak diberikan secara rutin pada keracunan makanan akibat toksin yang sudah terbentuk. Pasalnya, antibiotik tidak berfungsi untuk menetralkan toksin tersebut.

Jika dehidrasi sudah berat, pasien bisa membutuhkan cairan melalui infus. Sementara infeksi B. cereus yang terjadi di luar saluran pencernaan membutuhkan penanganan medis yang berbeda.

Segera cari pertolongan medis jika muntah membuat tubuh tidak mampu mempertahankan cairan, diare berlangsung berat, atau muncul rasa sangat lemas dan pusing.

Panaskan Lagi Belum Tentu Aman

Menggoreng kembali nasi memang bisa membuat makanan terasa lebih enak dan panas. Namun, pemanasan ulang bukan jaminan makanan yang sudah terkontaminasi menjadi aman.

Salah satu alasannya adalah toksin cereulide yang dihasilkan B. cereus bersifat tahan panas. Karena itu, makanan yang sudah mengandung toksin tersebut tidak bisa begitu saja dianggap aman hanya karena digoreng atau dipanaskan kembali.

Cara paling penting justru dimulai dari penyimpanan makanan sejak awal. Makanan matang yang mudah rusak sebaiknya segera dimasukkan ke kulkas, maksimal dalam waktu dua jam setelah dimasak atau disajikan.

Jika suhu lingkungan lebih dari sekitar 32 derajat Celsius, batas waktunya sebaiknya dipersingkat menjadi sekitar satu jam.

Makanan juga lebih cepat dingin jika dibagi ke dalam porsi kecil dan ditempatkan pada wadah yang dangkal. Suhu kulkas sebaiknya dijaga sekitar 4 derajat Celsius atau lebih rendah.

Kalau makanan mudah rusak sudah terlalu lama berada di suhu ruang, lebih aman membuangnya daripada mencoba menyelamatkannya dengan cara dipanaskan ulang.

Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah nasi sisa akan dibuat nasi goreng atau tidak. Cara menyimpan nasi setelah matang justru menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko keracunan makanan. (*)

You Might Also Like

Kebanyakan Daun Pepaya Bisa Bikin Tubuh Bereaksi, Simak!

Telur Ceplok Nempel di Wajan? Coba Trik Ini

Tips Mudik Pakai Mobil Listrik, Gaspol Tanpa Drama

Sering Dianggap Sepele, Tiga Gerak Tubuh Ini Bikin Kesan Kurang Asyik

Otak Tetap Ngegas Tanpa Ribet, Ini Rahasia Kebiasaan Simpel

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Jangan Anggap Sepele, Ini Dampak Kesepian
Next Article Golongan Darah B Dikaitkan dengan Risiko Diabetes

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Warga Takut Kasus Geotermal Dieng Terulang di Gunung Ungaran

CEK KESEHATAN RUTIN - PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah mendorong seluruh personel untuk mengenali kondisi tubuh melalui pelaksanaan Daily Health Checking. Pemeriksaan rutin kesehatan ini dilakukan bagi personel sebelum memulai aktivitas kerja.

PLN Icon Plus Dorong Penerapan Budaya HSSE melalui Daily Health Checking

AKSI DI GUBERNURAN--Warga yang melakukan aksi jalan kaki dari Gedong Songo membaur dengan massa aksi Jateng Guyub di depan Gubernuran, Semarang, Kamis (24/9/2026). (bae)

Jalan Kaki dari Gedong Songo, Warga Suarakan Penolakan Geotermal di Gubernuran

Tujuh Kafilah Semarang Dapat Hadiah Umrah dari Wali Kota

Belajar Disiplin, Warga Binaan Lapas Purwodadi Jadi Petugas Upacara

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Suka Mandi Tengah Malam? Baca Dulu Risikonya

Februari 24, 2026
Tips

Skin Barrier Lagi Drop? Skincare Ini Jadi Andalan Kulit Sensitif Modern

Juli 2, 2026
Tips

Bangun Malam, Ini Tata Cara Sholat Tahajud

September 11, 2026
Tips

Saat Hutan Jadi Tempat Pulang, Cara Jepang Redakan Penat

Juni 6, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Nasi Sisa Jangan Asal Digoreng, Ada Risiko Bakteri
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?