BACAAJA, SEMARANG – Selama ini golongan darah lebih sering dibahas saat seseorang membutuhkan transfusi atau hendak mendonorkan darah. Ternyata, urusan golongan darah juga menarik perhatian peneliti karena diduga punya kaitan dengan sejumlah kondisi kesehatan.
Sebuah penelitian besar mencoba menyaring berbagai temuan tentang hubungan golongan darah dan penyakit. Dari ratusan hubungan yang diteliti, hanya satu yang dinilai punya bukti paling kuat, yakni kaitan antara golongan darah B dan risiko diabetes tipe 2.
Temuan ini bukan berarti orang dengan golongan darah B pasti mengalami diabetes. Golongan darah lebih tepat dilihat sebagai salah satu faktor yang mungkin berkaitan dengan risiko, sementara banyak faktor lain seperti pola makan, aktivitas fisik, dan berat badan tetap punya peran penting.
Penelitian Saring Ratusan Hubungan
Studi yang dipublikasikan di jurnal BMC Medicine tersebut menggunakan metode umbrella review. Sederhananya, peneliti mengumpulkan dan menelaah hasil dari berbagai systematic review serta meta-analisis yang sudah pernah dilakukan.
Dalam prosesnya, tim peneliti mengevaluasi 51 studi dengan sekitar 270 hubungan antara golongan darah dan berbagai penyakit. Setiap hubungan kemudian diperiksa lagi menggunakan sejumlah metode statistik untuk melihat seberapa kuat bukti yang tersedia.
Peneliti tidak hanya melihat jumlah peserta penelitian. Konsistensi hasil, ukuran sampel, kemungkinan bias, hingga kekuatan bukti juga ikut diperhitungkan.
Setelah melalui penyaringan tersebut, banyak hubungan yang sebelumnya dilaporkan ternyata tidak memiliki bukti cukup kuat. Hanya satu hubungan yang berhasil memenuhi standar bukti tertinggi dalam penelitian tersebut.
Golongan Darah B Jadi Sorotan
Hubungan yang paling kuat ditemukan pada golongan darah B. Orang dengan golongan darah B, baik B positif maupun B negatif, dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 sekitar 28 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok non-B.
Angka tersebut merupakan peningkatan risiko relatif, bukan berarti 28 persen orang bergolongan darah B akan terkena diabetes. Besarnya risiko seseorang tetap dipengaruhi banyak faktor lain yang tidak berkaitan dengan golongan darah.
Penelitian tersebut juga tidak membuktikan bahwa golongan darah B secara langsung menyebabkan diabetes tipe 2. Temuannya lebih menunjukkan adanya hubungan yang terlihat dalam kumpulan data penelitian yang dianalisis.
Karena itu, hasil studi sebaiknya tidak dipakai untuk membuat kesimpulan bahwa seseorang akan terkena diabetes hanya berdasarkan golongan darahnya.
Kok Bisa Golongan Darah Dikaitkan dengan Penyakit?
Golongan darah ditentukan berdasarkan antigen tertentu yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Perbedaan biologis ini ternyata juga dapat berkaitan dengan berbagai proses di dalam tubuh.
Sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan perbedaan antigen golongan darah dengan respons sistem imun, proses peradangan, serta interaksi dengan mikrobiota atau bakteri yang hidup di saluran pencernaan.
Dalam kaitannya dengan diabetes tipe 2, salah satu kemungkinan yang masih diteliti adalah peran mikrobioma usus. Namun, mekanisme bagaimana perbedaan golongan darah bisa berhubungan dengan risiko diabetes belum sepenuhnya diketahui.
Artinya, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami apakah ada mekanisme biologis tertentu yang benar-benar menjelaskan hubungan tersebut.
Faktor Gaya Hidup Tetap Lebih Penting
Kalau melihat angka 28 persen, hasil penelitian ini memang terdengar cukup besar. Tetapi angka tersebut perlu ditempatkan dalam konteks karena risiko diabetes tipe 2 dipengaruhi banyak hal.
Faktor seperti pola makan, kurang bergerak, berat badan berlebih, serta kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu memiliki peran yang jauh lebih besar dalam membentuk risiko diabetes.
Dalam sumber penelitian yang dibahas, konsumsi daging olahan sekitar 50 gram per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes hingga 37 persen. Sementara gaya hidup sedentari dalam sejumlah penelitian bahkan dikaitkan dengan peningkatan risiko lebih dari 100 persen.
Perbandingan itu menunjukkan bahwa golongan darah bukan faktor yang berdiri sendiri. Ada banyak hal yang masih bisa dikendalikan seseorang untuk membantu menekan risiko diabetes.
Golongan Darah B Bukan Vonis
Temuan tentang golongan darah B bisa menjadi tambahan informasi dalam memahami mengapa risiko penyakit pada setiap orang tidak selalu sama. Tetapi informasi tersebut tidak seharusnya membuat seseorang langsung cemas hanya karena mengetahui golongan darahnya.
Diabetes tipe 2 merupakan kondisi yang dipengaruhi banyak faktor. Riwayat keluarga, pola makan, aktivitas fisik, berat badan, usia, serta berbagai faktor metabolik juga perlu diperhatikan.
Jadi, punya golongan darah B bukan berarti seseorang otomatis akan terkena diabetes. Sebaliknya, orang dengan golongan darah apa pun tetap bisa memiliki risiko diabetes jika faktor-faktor lain yang dapat dikendalikan tidak diperhatikan.
Pada akhirnya, mengetahui golongan darah hanya menjadi salah satu bagian dari gambaran kesehatan seseorang. Menjaga pola makan, rutin bergerak, mempertahankan berat badan sehat, dan melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan tetap jauh lebih relevan untuk mengelola risiko diabetes tipe 2. (*)

