BACAAJA, SRAGEN – Muhammad Idris (36) lagi-lagi cuma bisa geleng kepala. Warga Sragen ini bingung lihat bekal makan bergizi gratis (MBG) yang dibawa pulang dua anaknya dari sekolah PAUD. Program dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Sragen itu niatnya bagus, tapi respons anak-anaknya malah sebaliknya: nggak mau makan.
“Katanya nggak enak, nggak segar,” ujar Idris saat dihubungi.
Selama Ramadan, menu MBG nggak dimakan di sekolah, tapi dibawa pulang pakai kantong plastik. Kemarin, salah satu anaknya dapat paket isi satu roti merek My Joy, satu buah pir, dan sebungkus kacang. Semuanya dibungkus plastik, simpel banget. Tapi yang bikin Idris makin heran, nggak ada keterangan tanggal kedaluwarsa di kemasannya.
Menurutnya, ukuran rotinya kecil dan rasanya juga kurang oke. Buah pir yang diterima pun dinilai kualitasnya kurang bagus. Sebelumnya, anaknya juga sempat dapat kurma, tapi kondisinya sudah kering dan terlihat kurang layak makan.
Idris jadi curiga. Ia menduga kualitas makanan yang dibagikan nggak sebanding dengan anggaran yang seharusnya ada. Hitung-hitungan kasarnya, nilai makanan yang diterima anaknya mungkin nggak sampai Rp8 ribu sampai Rp15 ribu per paket.
“Saya duga ada mark up harga,” katanya.
Program makan bergizi gratis seharusnya jadi solusi buat asupan anak-anak, apalagi di usia emas PAUD. Tapi kalau kualitasnya bikin anak ogah makan, wajar orang tua mulai bertanya-tanya. Buat Idris, ini bukan soal gratis atau nggak, tapi soal kelayakan dan transparansi. (*)


