Oleh: Clarissa Haninditha Putri || Mahasiswa Program Studi Magister Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFAR) Yayasan Pharmasi Semarang
DIABETES melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang menjadi masalah kesehatan global dan perlu mendapat perhatian serius. Setiap tahunnya, prevalensi diabetes melitus terus meningkat.
Diagnosis penyakit ini umumnya ditegakkan berdasarkan gejala khas dan hasil pemeriksaan kadar gula darah yang melebihi batas normal. Dalam jangka panjang, diabetes dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, seperti kerusakan saraf, gangguan penglihatan, gangguan fungsi ginjal, hingga stroke.
Meskipun diabetes bersifat herediter (keturunan), kini banyak remaja yang mengidap penyakit ini akibat pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. Oleh karena itu, upaya pengobatan dan pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh, baik melalui pengobatan medis, perubahan gaya hidup sehat, maupun pemanfaatan bahan alam.
Salah satu sumber daya alam Indonesia yang memiliki potensi besar untuk mendukung pengobatan diabetes melitus adalah umbi porang (Amorphophallus muelleri Blume). Tanaman porang dapat tumbuh pada ketinggian 0–700 mdpl dan banyak dibudidayakan oleh petani karena memiliki nilai ekonomi tinggi.
Iklim tropis Indonesia yang ideal membuat tanaman ini mudah dikembangkan dan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani. Sejumlah provinsi di Indonesia, misalnya Jawa Timur, NTB, NTT, dan Bali, dikenal ebagai daerah penghasil porang.
Umbi porang mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak. Saat ini, porang banyak diolah menjadi berbagai produk pangan, seperti nasi dan mi, yang telah dikenal luas di masyarakat. Dikutip dari laman ugm.ac.id, Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof Bambang Hudayana, menyebut porang memiliki nilai ekonomi sekaligus potensi besar untuk ketahanan pangan nasional.
Kandungan karbohidrat pada umbi porang dapat menjadi sumber energi alternatif dengan kadar glukosa yang lebih rendah dibandingkan nasi, sehingga cocok digunakan dalam pola makan sehat maupun diet bagi penderita diabetes. Hal ini menjadikan porang sebagai bahan pangan potensial untuk membantu mengontrol kadar gula darah.
Berbagai penelitian telah membuktikan potensi umbi porang sebagai agen antidiabetes. Salah satunya dilakukan oleh Ani Sutriningsih (2017), yang menunjukkan bahwa konsumsi mi shirataki dari umbi porang oleh penderita diabetes melitus selama dua minggu mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan.
Hasil tersebut mengindikasikan bahwa umbi porang efektif digunakan sebagai alternatif pencegahan dan penunjang terapi diabetes melitus, terutama jika disertai pola hidup sehat.
Penelitian lain oleh Nur Susanti (2014) menyebutkan bahwa tepung umbi porang memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan dalam manajemen diabetes melitus tipe 2. Sementara itu, penelitian oleh Khaira dkk (2025) melaporkan bahwa konsumsi beras porang selama 28 hari dapat menurunkan kadar HbA1C sebesar 0,2% dan menurunkan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebesar 0,56 kg/m².
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa umbi porang memiliki potensi nyata sebagai bahan pangan fungsional dan pendukung pengobatan diabetes melitus. Dengan pemanfaatan yang tepat dan penelitian lanjutan, porang dapat menjadi salah satu solusi alami dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia. (*)


