Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Menguak Faktor di Balik Insiden Keracunan Massal Program MBG di Bogor
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Menguak Faktor di Balik Insiden Keracunan Massal Program MBG di Bogor

Tragedi keracunan massal yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor bukan sekadar kejadian insidental, melainkan cerminan dari kerentanan sistemik dalam manajemen pengolahan makanan berskala besar.

Nugroho P.
Last updated: Mei 21, 2025 12:18 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
BGN mengajukan anggaran untuk program MBG tahun 2026 sebesar Rp 335 triliun. Sasaran 82,9 juta penerima. Dalam setiap bulan sebesar Rp25 triliun.
Ilustrasi MBG.
SHARE

NARAKITA, BOGOR – Tragedi keracunan massal yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor bukan sekadar kejadian insidental, melainkan cerminan dari kerentanan sistemik dalam manajemen pengolahan makanan berskala besar. Hingga pertengahan Mei 2025, ratusan pelajar dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, hingga diare akut usai menyantap makanan dari program tersebut. Pemerintah Kota Bogor pun menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kasus ini mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi, salah satunya Guru Besar Keamanan Pangan dari IPB University, Prof Ratih Dewanti-Hariyadi. Ia menyoroti bahwa pangan siap santap yang disiapkan dalam kuantitas besar memiliki risiko kontaminasi yang jauh lebih tinggi dibanding makanan dalam kemasan industri.

“Kategori makanan siap saji yang langsung dikonsumsi tanpa proses pengawetan, seperti yang digunakan dalam program MBG, sangat rentan terhadap gangguan mikroba. Apalagi jika tidak dikelola dengan protokol sanitasi yang ketat,” ujar Prof Ratih dalam keterangan yang dikutip dari laman resmi IPB University.

Dalam praktiknya, sumber pencemaran makanan dapat datang dari berbagai aspek. Mulai dari bahan baku yang tak dicuci bersih, alat-alat masak yang tidak disterilkan, hingga tangan pekerja yang tidak higienis. Belum lagi, metode penyimpanan yang kurang tepat juga dapat memperparah kondisi.

Dari aspek mikrobiologis, sejumlah jenis bakteri diketahui sebagai pemicu utama kasus keracunan, di antaranya Clostridium perfringens dan Bacillus cereus. Kedua mikroorganisme ini memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kondisi panas saat makanan dimasak, lalu aktif kembali saat suhu turun ke zona bahaya (20–50°C).

“Begitu makanan selesai dimasak, proses penurunan suhu menjadi krusial. Jika makanan tetap dibiarkan dalam wadah besar dan tidak segera diporsikan, suhu akan turun secara perlahan dan memberi waktu bagi spora bakteri untuk berkembang dan menghasilkan toksin,” papar Prof Ratih.

Salah satu metode pencegahan paling efektif menurutnya adalah memecah makanan ke dalam wadah-wadah kecil segera setelah proses masak selesai. Dengan cara ini, suhu bisa turun dengan cepat dan mengurangi peluang bakteri berkembang.

Ia menambahkan, sanitasi menyeluruh bukan hanya soal alat dan bahan, melainkan juga soal pemenuhan standar air bersih yang digunakan saat memasak. “Air harus sesuai standar air minum. Tidak cukup sekadar bening atau tidak berbau, tapi harus diuji kelayakannya secara laboratorium,” tegasnya.

Sistem Operasional Prosedur (SOP) dalam dapur massal, lanjut Prof Ratih, harus berjalan dengan disiplin tinggi. Pengawasan terhadap para juru masak, alat pemrosesan makanan, serta ruang produksi tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan harus menjadi bagian dari sistem audit yang berkelanjutan.

“Dalam skema seperti program MBG, di mana ribuan porsi makanan disiapkan dan didistribusikan dalam waktu singkat, aspek manajerial menjadi sangat menentukan. Satu kesalahan kecil di dapur bisa berdampak pada ratusan anak sekolah,” katanya.

Insiden ini juga memantik diskusi soal kesiapan teknis dan SDM dalam pelaksanaan program sosial berskala besar. Apakah pihak penyelenggara sudah cukup matang dalam menyusun protokol keamanan pangan? Apakah pelaksana di lapangan telah terlatih sesuai standar industri makanan?

Dengan status KLB yang telah ditetapkan, investigasi menyeluruh perlu dilakukan, tidak hanya untuk menentukan patogen penyebab keracunan, tetapi juga untuk mengevaluasi seluruh rantai distribusi makanan: mulai dari dapur, logistik, hingga pengantaran ke sekolah-sekolah.

Selain itu, edukasi terhadap petugas masak dan penyedia katering juga menjadi penting. Pengetahuan tentang suhu aman penyimpanan makanan, tanda-tanda kerusakan bahan, serta teknik sanitasi harus menjadi kurikulum wajib dalam pelatihan pelaksana program pangan massal.

Tak kalah pentingnya adalah komunikasi risiko kepada masyarakat. Transparansi informasi mengenai hasil uji laboratorium, langkah mitigasi, dan upaya pemulihan kepercayaan publik harus dilakukan secara terbuka oleh pemerintah.

Kejadian ini semestinya menjadi momentum untuk merancang ulang protokol keamanan pangan nasional, terutama pada program-program intervensi gizi yang menyasar kelompok rentan seperti anak-anak sekolah.

“Keamanan pangan tidak bisa dianggap sebagai pelengkap dalam perencanaan program, tetapi harus menjadi fondasi utamanya,” pungkas Prof Ratih.

You Might Also Like

Ternyata Menyusui Pakai ASI Bisa Selamatkan Bumi, Begini Faktanya

Menyambut Maulid Nabi 2025, Ini Amalan Sunah yang Bisa Dilakukan agar Berkah

Prabowo Gaspol di Pidato Perdana, Anggarkan Rp335 Triliun buat Makan Bergizi Gratis 2026

DPR Siap Berbenah! Puan Maharani Pimpin Langsung Reformasi, Tunjangan & Kunker Dihentikan!

6 Langkah Skincare Pria,  Simpel, Anti Ribet, dan Tetap Maskulin

TAGGED:keracunan bogorkeracunan MBGMBG bogorsiswa keracunan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Nasib Menteri Kesehatan di Ujung Tanduk, Seruan Pencopotan Menggema
Next Article Eks Dirut Sritex yang kini menjadi Komisaris Utama (Komut), Iwan Setiawan Lukminto. Eks Dirut Sritex Iwan Lukminto Ditangkap Kejagung, Dugaan Korupsi Kredit Fiktif

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Jateng Mau Sulap 70 Persen Sampah Jadi Listrik, Mimpi atau Jalan Keluar?

96 Ribu Pejabat “Belum Lapor”, MAKI: KPK Jangan Cuma Kasih Angka, Spill Namanya!

MBG Lima Hari Aja? Santai, Daerah 3T Dapat “Bonus Sabtu”

Bukan Sekadar Haul, Ini “Push Rank” KH Sholeh Darat Jadi Pahlawan Nasional

Haji 2026 Tetap Berangkat, Meski Timur Tengah Lagi Panas-Panasnya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi BMKG.
Unik

Negara Ormas Berkibar? GRIB Jaya Duduki Lahan Kantor BMKG, Minta Duit Rp5 Miliar

Mei 23, 2025
Terdakwa Baiquni (baju putih) menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang. (bae)
Unik

Baiquni Justicia Pegawai Kejati Jateng Calo PNS Kejaksaan, Dihukum Ringan Hanya 1,5 Tahun Penjara

Juli 2, 2025
Ketua DPR RI Puan Maharani saat diwawancara awak media di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
Unik

Soal Rencana Bansos Permanen untuk Tiga Golongan, Puan Ingatkan Perkara Validasi Data

Juli 15, 2025
Unik

Bangkit Lebih Tenang, 7 Tanda Seseorang Pernah Gagal tapi Sekarang Hidupnya Lebih Damai

Agustus 23, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Menguak Faktor di Balik Insiden Keracunan Massal Program MBG di Bogor
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?