BACAAJA, GROBOGAN- Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) lagi-lagi bikin heboh. Bukan karena menunya viral, tapi karena ratusan siswa dan santri dilaporkan mengalami mual hingga muntah usai menyantap makanan gratis tersebut.
Kali ini kejadannya di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat, jumlah korban dugaan keracunan sudah tembus 658 orang. Kasus ini terjadi sejak Jumat hingga Sabtu (9-10/1/2026) dan tersebar di sejumlah sekolah serta satuan pendidikan di Kecamatan Gubug.
Kepala Dinkes Grobogan, Djatmik, menyebut, lokasi terdampak meliputi Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari. Korban didominasi siswa SD, SMP, SMK, PAUD, hingga santri pondok pesantren.
Baca juga: 204 Siswa SMPN 1 Blora Keracunan MBG, 20 Dirawat di RS
“Sebagian besar sudah ditangani rawat jalan, tapi ada juga yang masih dirawat lanjutan,” kata Djatmiko, Minggu (11/1/2026). Menu MBG yang dikonsumsi korban diketahui berasal dari SPPG Kuwaron, dengan sajian nasi kuning lengkap dengan telur, abon, dan tempe orek. Bukannya nambah energi belajar, makanan ini justru bikin banyak siswa harus bolak-balik ke toilet.
Hingga Minggu pagi, 79 orang masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan. Mulai dari RS Ki Ageng Getas Pendowo, RS Soedjati, hingga sejumlah puskesmas di sekitar Gubug, Kedungjati, dan Penawangan. “Datanya dinamis. Ada yang sudah pulang karena membaik, tapi tetap kami update setiap 12 jam,” jelasnya.
Gejala Umum
Gejala yang paling sering muncul adalah mual dan muntah, dengan keluhan mulai terasa sejak Jumat sore sampai Sabtu pagi. Sejak Sabtu, tim Dinkes bersama puskesmas langsung turun ke lapangan untuk pengobatan, pendataan, sekaligus memilah mana pasien yang cukup ditangani di tempat dan mana yang perlu dirujuk ke rumah sakit.
Tak cuma fokus ke pasien, Dinkes juga melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dan mengambil sampel makanan. Sampel tersebut dijadwalkan diperiksa di laboratorium kesehatan pada Senin (12/1) untuk memastikan penyebab pasti kejadian ini.
Baca juga: Maraknya Keracunan MBG, Begini Kata Ahli UGM
Djatmiko mengingatkan seluruh penyedia layanan MBG agar benar-benar patuh pada standar higiene dan sanitasi, termasuk soal waktu distribusi makanan. “Kalau distribusi molor lebih dari empat jam, kualitas makanan bisa turun dan berisiko gangguan kesehatan,” tegasnya.
MBG sejatinya dibuat biar anak-anak tambah gizi dan semangat belajar. Tapi kalau ujung-ujungnya malah nambah antrean di puskesmas, mungkin yang perlu ditambah bukan cuma gizinya tapi juga ketelitiannya. (tebe)


