BACAAJA, SEMARANG — Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang tumplek blek di Kota Lama, Jumat siang. Titik kumpul di depan Kantor Pos, lalu longmarch ke DPRD Jawa Tengah buat satu tujuan: tolak KUHAP.
Koordinator lapangan dari tiap kampus—As’ad (UIN Walisongo), Seyla (UPGRIS), Fajrul (Undip), dan Faiz (Unnes)—sibuk ngatur barisan.
“Kita jalan kalau semua siap. Jangan sampai ada yang nyasar dari kelompoknya,” teriak As’ad.
Di belakang, tim media yang dipimpin Seyla beres-beres poster dan spanduk.
Baca Juga: KUHAP Baru Diketok, Akademisi Waswas: Ancaman Intelektual dan Peneliti Kritis
Baca Juga: RUU Perampasan Aset Dibahas Setelah RUU KUHAP
“Pastikan tulisan tuntutan kebaca jelas, jangan ada yang ngaco,” katanya.
Sepanjang jalan, mahasiswa terus teriak yel-yel dan orasi soal pasal-pasal KUHAP yang dinilai nginjek HAM. Mereka bawa tujuh tuntutan, mulai dari:
Cabut pasal kontroversial yang dianggap melanggar HAM
Stop kriminalisasi dan tindakan represif aparat
Dorong revisi KUHAP yang bener-bener pro HAM, reformasi Polri, penyelesaian kasus HAM berat masa lalu, sampai desakan Presiden terbitkan Perppu perpanjangan KUHP dan KUHAP
Mereka juga nuntut pejabat publik yang abuse of power dikasih sanksi tegas.
Sampai depan Gedung DPRD Jateng, massa berhenti dan formasi dirapatkan. Fajrul naik ke mobil komando dan teriak:
“Kita datang bukan buat bikin gaduh, tapi buat jaga hak rakyat biar nggak dikebiri!”
Massa langsung pecah sorak.
Di pinggir barisan, tim medis kampus standby dengan tabung oksigen dan NaCl.
“Kalau pusing atau sesak, langsung ke sini, jangan sok kuat,” kata salah satu petugas.
Menjelang sore, tensi aksi berubah setelah perwakilan DPRD Jateng akhirnya keluar menemui massa.
“Silakan bacakan lagi tuntutannya. Kami siap mendengar dan cari solusi,” ujar pejabat itu.
Ketua PC PMII Semarang maju, baca satu per satu tujuh tuntutan. Di akhir, perwakilan dewan menandatangani berkas sebagai bentuk respons atas desakan mahasiswa.
Aksi ditutup dengan imbauan pulang tertib. Lelah, suara serak, tapi banyak yang merasa: perjuangan hari itu nggak sia-sia.
Mahasiswa Semarang nunjukin, demokrasi bukan cuma soal hak memilih, tapi juga berani turun ke jalan saat ada aturan yang berpotensi nyikut rakyat. (*)


