Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Laila, Buruh Perempuan yang Hidupnya Tak Pernah Istirahat
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Info

Laila, Buruh Perempuan yang Hidupnya Tak Pernah Istirahat

T. Budianto
Last updated: November 13, 2025 11:09 pm
By T. Budianto
5 Min Read
Share
Nur Laila saat mengikuti salah satu aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh buruh. (Foto: Ist)
SHARE

LIPSUS

Hidup Nur Laila nggak pernah benar-benar berhenti. Dari pagi sampai malam, selalu aja ada yang harus dikerjain. Pagi-pagi buta, sebelum matahari nongol, dia udah bangun, nyiapin sarapan dan segala tetek bengek rumah tangga.

 

KERIWEHENNYA kian bertambah karena ia tinggal di kawasan langganan banjir rob. Rumahnya di Tambakrejo, Semarang Utara, Kota Semarang. Dia dipaksa akrab dengan air rob.

Begitu anak-anak berangkat sekolah, dia buru-buru ke pabrik. Naik motor ke kawasan Lamicitra, Tanjungmas, tempat pabrik garmen PT Grand Best Indonesia berdiri.  Jalan menuju pabrik kadang tergenang rob. Drainase di situ memang kurang bagus. Tapi buat Laila, itu udah biasa.

Pukul 7.30 WIB dia sudah harus sampai di perusahaan garmen milik investor Tiongkok itu. Di PT Grand Best, Laila udah kerja sejak 2008. Awalnya operator jahit, sekarang udah jadi pengawas. Tugasnya muter keliling, ngawasin kerja teman-teman satu bagian, pastiin produksi jalan.

Suaranya harus kuat, sabarnya harus panjang. “Butuh mental yang harus dipersiapkan untuk menghadapi permasalah-permasalahan di pabrik,” ungkapnya saat ditemui, Kamis (13/11).

Jam kerjanya selesai jam 16.30 WIB. Kalah ada lembur biasanya nambah sejam. Pulang-pulang sampe rumah udah Magrib.  Di waktu luangnya Laila nggak sempat rebahan. Dia sering bantu jualan ikan ibunya di pasar.

Tapi dari situ juga dia bisa nambah sedikit penghasilan buat nutupin kebutuhan rumah tangga yang hampir nggak pernah cukup. “Suami nelayan, jadi penghasilannya tergantung laut. Kalau musim kemarau, bisa berbulan-bulan nggak melaut,” katanya.

Keuangan keluarganya memang bertumpu pada Laila. Dia punya empat anak. Dua anaknya sudah mentas, kerja di pabrik berbeda. Sementara dua buah hati lainnya masing-masing masih TK dan SD. Hidup Laila diatur sedemikian rupa biar nggak berantakan. Gajinya memang sudah lebih dari UMK. Pabriknya yang termasuk industri khusus, jadi gaji buruhnya mengacu pada Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK).

Meski begitu, gajinya per bulan ya hanya tiga setengah juta lebih dikit. Sementara pengeluarannya bisa nyampe enam juta. Sisanya ditambal utang dan usaha lainnya. Kebutuhan terbesarnya bukan makan keluarga atau pendidikan anaknya. Tapi justru pengeluaran tak terduga. Rumahnya yang berdiri di pesisir butuh perhatian ekstra.

Setiap tiga tahun, Laila harus ninggikan lantai biar nggak tenggelam. Sekali ninggikan, butuh sekitar sepuluh juta. Lama kelamaan, nggak cukup hanya menguruk lantai. Kalau alas udah mepet atap, otomatis harus renovasi.

“Atap rumah saya sekarang jadi lantai. Kalau renovasi total tambah tinggi biayanya. Kalau nggak ambil cicilan di bank, ya nggak bisa,” keluhnya. Motornya yang buat riwa-riwi juga butuh perhatian khusus. Tiap hari menerjang banjir rob bikin rangkanya keropos. Harus servis rutin. Tiap servis bisa keluar Rp400 ribu.

Laila nggak pernah bikir beli baju baru. Kalau nggak butuh banget ya nggak beli. “Satu tahun sekali belum pasti. Yang penting anak bisa, saya gak pernah pernah mikir,” curhatnya.

Pengurus Serikat

Di tengah rutinitas yang nyaris nggak ada jedanya, Laila masih sempat ngurus serikat buruh. Sekarang dia Ketua Serikat Buruh Merdeka (SBM) di pabriknya, sekaligus Sekretaris Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Jawa Tengah.

Malam hari setelah anak-anak tidur, dia sering rapat daring atau nyusun rencana aksi. Lewat serikat, Laila belajar banyak hal. Mulai dari soal hak cuti perempuan, sampai gimana memperjuangkan upah yang layak.

Dia sering ngasih semangat ke teman-teman buruh perempuan lain yang masih takut bersuara. “Banyak yang belum sadar, kalau mereka sebenernya punya hak yang sama,” ujarnya.

Kondisi buruh di tempat kerjanya banyak yang senarib. Rata-rata malah tambah ngenes. Upahnya stagnan karena jarang ada overtime, perlu mikir keras mencukupi kebutuhan.

Hari-hari Laila selalu padat. Dari ngurus rumah, kerja di pabrik, jualan ikan, sampai rapat serikat. Kadang tubuhnya capek banget, tapi pikirannya nggak bisa berhenti.  Buat Laila, hidup memang nggak pernah mudah. Tapi dia juga nggak mau kalah. Capek boleh, tapi nyerah jangan. Hidup harus terus diperjuangkan. (bae)

You Might Also Like

Kodam IV/Diponegoro Terseret Kasus Korupsi BUMD Cilacap Rp 237 M, Bagaimana Duduk Perkaranya?

KSPN Desak Kenaikan UMK 2026 Minimal 10 Persen

Jalur Pantura Jadi Kolam, Sopir Cuma Bisa Pasrah

Geger PBJS Kesehatan Warga Miskin, Dirut Buka Suara: yang Nonaktifkan PBI Kemensos

Semangat Kampung Bangkit, Tarkam Purbalingga Bikin GOR Serasa Pesta

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Dari K-Pop ke Green Energy: Puan Ajak Korea Investasi Hijau Bareng Indonesia
Next Article Ahmad Yani Buka Rute Baru ke Singapura

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ketua DPP PDIP, Ganjar Pranowo.

Survei IPI: Ganjar Masuk Tiga Besar Kandidat Capres 2029, Ada Nama Baru Masuk Radar

Terdakwa Andhi Nur Huda duduk di kursi pesakitan saat sidang putusan kasus korupsi BUMD Cilacap, di Tipikor Semarang, Rabu (11/2/2026). (bae)

Ringan Banget Banyak Diskon! Dituntut 18 Tahun, Koruptor Cilacap hanya Dihukum 2 Tahun

Sejumlah bambu ditanam warga untuk menyangga jembatan akses keluar-masuk dari dan ke Deliksari, Rabu (11/02/2026).

Longsor Ancam Akses Warga Gunungpati, Jembatan Deliksari Nyaris Ambruk

Nurul, pria asal pesisir selatan Blitar, mencium sarang tawon vespa peliharaannya.

Kisah Nurul, Pawang Tawon Vespa dari Blitar: Dengungnya seperti Lagu Nostalgia

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Direktur LBH Semarang, Syamsuddin Arief (pegang mik) paparan tentang kerja-kerja advokasi organisasinya, Rabu (21/1/2026). (bae)
Hukum

Curhat LBH Semarang: Katanya Jateng Mau Jadi Lumbung Pangan, Kok Kriminalisasi Petani

Januari 22, 2026
Sepak Bola

Eks Pemain PSIS Jadi Rebutan

Juni 14, 2025
Sepak Bola

Ronaldo Prediksi Duel Final Liga Champions: PSG Lawan Berat Inter

Mei 31, 2025
Daerah

Wagub Jihan Minta Orang Tua Melek Digital

Januari 26, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Laila, Buruh Perempuan yang Hidupnya Tak Pernah Istirahat
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?