LIPSUS
Hidup Nur Laila nggak pernah benar-benar berhenti. Dari pagi sampai malam, selalu aja ada yang harus dikerjain. Pagi-pagi buta, sebelum matahari nongol, dia udah bangun, nyiapin sarapan dan segala tetek bengek rumah tangga.
KERIWEHENNYA kian bertambah karena ia tinggal di kawasan langganan banjir rob. Rumahnya di Tambakrejo, Semarang Utara, Kota Semarang. Dia dipaksa akrab dengan air rob.
Begitu anak-anak berangkat sekolah, dia buru-buru ke pabrik. Naik motor ke kawasan Lamicitra, Tanjungmas, tempat pabrik garmen PT Grand Best Indonesia berdiri. Jalan menuju pabrik kadang tergenang rob. Drainase di situ memang kurang bagus. Tapi buat Laila, itu udah biasa.
Pukul 7.30 WIB dia sudah harus sampai di perusahaan garmen milik investor Tiongkok itu. Di PT Grand Best, Laila udah kerja sejak 2008. Awalnya operator jahit, sekarang udah jadi pengawas. Tugasnya muter keliling, ngawasin kerja teman-teman satu bagian, pastiin produksi jalan.
Suaranya harus kuat, sabarnya harus panjang. “Butuh mental yang harus dipersiapkan untuk menghadapi permasalah-permasalahan di pabrik,” ungkapnya saat ditemui, Kamis (13/11).
Jam kerjanya selesai jam 16.30 WIB. Kalah ada lembur biasanya nambah sejam. Pulang-pulang sampe rumah udah Magrib. Di waktu luangnya Laila nggak sempat rebahan. Dia sering bantu jualan ikan ibunya di pasar.
Tapi dari situ juga dia bisa nambah sedikit penghasilan buat nutupin kebutuhan rumah tangga yang hampir nggak pernah cukup. “Suami nelayan, jadi penghasilannya tergantung laut. Kalau musim kemarau, bisa berbulan-bulan nggak melaut,” katanya.
Keuangan keluarganya memang bertumpu pada Laila. Dia punya empat anak. Dua anaknya sudah mentas, kerja di pabrik berbeda. Sementara dua buah hati lainnya masing-masing masih TK dan SD. Hidup Laila diatur sedemikian rupa biar nggak berantakan. Gajinya memang sudah lebih dari UMK. Pabriknya yang termasuk industri khusus, jadi gaji buruhnya mengacu pada Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK).
Meski begitu, gajinya per bulan ya hanya tiga setengah juta lebih dikit. Sementara pengeluarannya bisa nyampe enam juta. Sisanya ditambal utang dan usaha lainnya. Kebutuhan terbesarnya bukan makan keluarga atau pendidikan anaknya. Tapi justru pengeluaran tak terduga. Rumahnya yang berdiri di pesisir butuh perhatian ekstra.
Setiap tiga tahun, Laila harus ninggikan lantai biar nggak tenggelam. Sekali ninggikan, butuh sekitar sepuluh juta. Lama kelamaan, nggak cukup hanya menguruk lantai. Kalau alas udah mepet atap, otomatis harus renovasi.
“Atap rumah saya sekarang jadi lantai. Kalau renovasi total tambah tinggi biayanya. Kalau nggak ambil cicilan di bank, ya nggak bisa,” keluhnya. Motornya yang buat riwa-riwi juga butuh perhatian khusus. Tiap hari menerjang banjir rob bikin rangkanya keropos. Harus servis rutin. Tiap servis bisa keluar Rp400 ribu.
Laila nggak pernah bikir beli baju baru. Kalau nggak butuh banget ya nggak beli. “Satu tahun sekali belum pasti. Yang penting anak bisa, saya gak pernah pernah mikir,” curhatnya.
Pengurus Serikat
Di tengah rutinitas yang nyaris nggak ada jedanya, Laila masih sempat ngurus serikat buruh. Sekarang dia Ketua Serikat Buruh Merdeka (SBM) di pabriknya, sekaligus Sekretaris Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Jawa Tengah.
Malam hari setelah anak-anak tidur, dia sering rapat daring atau nyusun rencana aksi. Lewat serikat, Laila belajar banyak hal. Mulai dari soal hak cuti perempuan, sampai gimana memperjuangkan upah yang layak.
Dia sering ngasih semangat ke teman-teman buruh perempuan lain yang masih takut bersuara. “Banyak yang belum sadar, kalau mereka sebenernya punya hak yang sama,” ujarnya.
Kondisi buruh di tempat kerjanya banyak yang senarib. Rata-rata malah tambah ngenes. Upahnya stagnan karena jarang ada overtime, perlu mikir keras mencukupi kebutuhan.
Hari-hari Laila selalu padat. Dari ngurus rumah, kerja di pabrik, jualan ikan, sampai rapat serikat. Kadang tubuhnya capek banget, tapi pikirannya nggak bisa berhenti. Buat Laila, hidup memang nggak pernah mudah. Tapi dia juga nggak mau kalah. Capek boleh, tapi nyerah jangan. Hidup harus terus diperjuangkan. (bae)


