BACAAJA, PURBALINGGA – Purbalingga lagi rame banget! GOR Sasana Krida Perwira jadi lautan semangat ketika Kejuaraan Antar Kampung (Tarkam) Kemenpora RI 2025 resmi dibuka Jumat (7/11/2025). Suara musik, sorak penonton, dan warna-warni atribut bikin suasana kayak festival olahraga rakyat.
Acara dibuka langsung oleh Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, yang datang dengan semangat menggebu. Ia menyebut, kepercayaan dari Kemenpora buat jadi tuan rumah bukan hal sepele. “Purbalingga jadi satu dari dua kabupaten di Jawa Tengah yang dipercaya. Ini bukti bahwa kita bisa!” katanya di depan peserta.
Tarkam 2025 ini berlangsung selama tiga hari, dari 7 sampai 9 November. Empat cabang olahraga yang dilombakan bikin semua kalangan bisa ikut: senam sehat bugar, gerak jalan, tenis meja, dan Fun Run 5K yang pastinya jadi magnet warga.
Dimas menegaskan, Tarkam bukan cuma soal menang atau kalah. Ini tentang silaturahmi antarwarga, tentang semangat olahraga yang tumbuh dari kampung. “Dari ajang kayak gini, kita bisa lihat bibit-bibit atlet masa depan, bahkan mungkin calon juara nasional,” ujarnya.
Perwakilan Kemenpora, Dwijayanto Saroso Putera, juga datang menyampaikan pesan khusus. Ia menjelaskan kalau Tarkam punya tiga misi penting: bikin masyarakat makin aktif olahraga, munculkan talenta muda, dan gerakkan ekonomi lokal.
“Kegiatan kayak gini nggak cuma bikin sehat, tapi juga bikin warung-warung di sekitar rame, UMKM jalan, dan semangat warga naik,” kata Dwijayanto dengan senyum lebar.
Kemeriahan Tarkam Purbalingga makin terasa karena jumlah pesertanya luar biasa banyak. Ketua KONI Kabupaten Purbalingga, R. Budi Setiawan, mencatat total ada 1.369 peserta dari berbagai desa dan puskesmas.
“Peserta senam ada 126 orang, gerak jalan 418, tenis meja 132, dan Fun Run 5K sampai 693 peserta,” sebutnya. Angka yang bikin GOR dan jalanan kota terasa hidup lagi.
Setiap cabang punya lokasi berbeda. Senam SKJ dan sehat bugar digelar di GOR Mahesa Jenar, tenis meja di GOR Sasana Krida Perwira, gerak jalan di GOR Goentoer Darjono, dan puncaknya, Fun Run start di depan Mahesa Jenar pada Minggu pagi.
Di sepanjang rute Fun Run, warga udah siap nyemangatin peserta. Ada yang bawa peluit, ada yang nyemprot air biar adem, bahkan ada penjual minuman yang laris manis. Purbalingga beneran jadi satu panggung besar penuh energi.
Kehadiran Tarkam tahun ini bukan cuma soal olahraga, tapi juga soal rasa bangga. Banyak warga yang bilang, acara kayak gini bikin kampung terasa hidup lagi setelah sekian lama fokus pada urusan kerja dan rutinitas.
Budi Setiawan bilang, Tarkam adalah bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. “Olahraga rakyat itu penting. Lewat Tarkam, kita bisa lihat sportivitas dan kebersamaan tumbuh dari akar rumput,” tuturnya.
Tak sedikit peserta yang datang bukan sekadar mau menang. Banyak yang ikut buat seru-seruan bareng teman sekampung. “Yang penting sehat, hepi, dan dapat kenalan baru,” kata Sari, peserta senam yang datang bareng rombongan PKK.
Fun Run jadi penutup paling ditunggu. Ratusan pelari berkaus seragam warna cerah memenuhi jalanan. Di garis start, musik upbeat bikin semua orang pemanasan dengan tawa lepas.
“Lari bareng, tapi foto-foto juga wajib!” celetuk seorang peserta sambil selfie di depan spanduk raksasa Tarkam 2025.
Selain lomba, banyak booth komunitas yang buka lapak — dari jual minuman herbal, kaos olahraga lokal, sampai makanan tradisional kayak mendoan dan gethuk goreng. Suasana benar-benar kayak pesta rakyat.
Warga yang nggak ikut lomba pun tetap datang. Ada yang dukung keluarga, ada yang sekadar pengen nonton dan ikut vibe-nya. Anak-anak berlarian, orang tua duduk di tribun, semuanya menikmati suasana hangat khas Purbalingga.
Menurut panitia, antusiasme ini melebihi ekspektasi. Mereka bahkan harus menambah relawan di titik-titik acara buat ngatur peserta dan penonton.
Dimas Prasetyahani menutup sambutannya dengan kalimat penuh semangat, “Yang penting bukan cuma siapa yang menang, tapi siapa yang bisa bawa semangat sehat dan bahagia pulang ke rumah!”
Tiga hari pelaksanaan Tarkam 2025 ini diharapkan jadi momentum buat melahirkan atlet-atlet potensial dari desa. Tapi yang paling terasa, Tarkam sudah berhasil bikin Purbalingga tersenyum — dan itu kemenangan tersendiri. (*)

