BACAAJA, JAKARTA- Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN), Ristadi bilang, lebih dari 126 ribu pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja sejak 2022 hingga saat ini. Angka itu menurutnya, bukan main.
Sepanjang 2024 aja ada 79.045 orang yang kehilangan kerja, dan di 2025 (baru sampai Oktober) udah 47.115 orang lagi yang ikut nyusul. Mayoritas dari industri tekstil, garmen, dan sepatu, alias sektor yang padat karya banget.
“Total laporan PHK anggota KSPN sampai Oktober 2025 sebanyak 126.160 pekerja,” kata Ristadi, Selasa (11/11). Ia nyebutin, sekitar 79 persen atau 99.666 pekerja datang dari tiga sektor itu. Sisanya, tersebar di ritel, perkebunan, otomotif, hotel, mebel, dan kertas.
Kalo dilihat dari wilayah, Jawa Tengah jadi yang paling kena getahnya. Ada sekitar 47.940 pekerja di sana yang harus cabut dari pabrik, alias 38 persen dari total nasional. Nyusul di belakangnya, Jawa Barat dengan 39.109 pekerja, Banten 21.447, lalu Sulawesi Tenggara 7.569, dan daerah lain kayak Jakarta dan NTB nyumbang sisanya.
Enam Penyebab
Ristadi juga nyebutin enam biang kerok utama PHK massal ini. Mulai dari pesanan yang makin sepi, pabrik yang tutup, mesin tua yang gak efisien, sampai perusahaan yang gagal bayar dan akhirnya kolaps. Belum lagi produk lokal makin keok sama barang impor, ditambah relokasi pabrik yang ngejar upah lebih murah.
Dari sisi data resmi, BPS juga ngasih catatan: PHK ini nyumbang besar ke angka pengangguran nasional. Dari total pengangguran 7,46 juta orang per Agustus 2025, sekitar 0,77 persen adalah mereka yang baru aja di-PHK. Mayoritas datang dari sektor industri pengolahan, pertambangan, dan perdagangan.
Tiap kali ada pabrik tutup, katanya sih demi efisiensi. Tapi yang efisien malah pengurangan manusia, bukan masalahnya. Dunia kerja makin “modern”, tapi rasa amannya makin “purba”. (tebe)

