BACAAJA, SEMARANG- Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro di salah satu bank BUMN di Semarang malah diselewengkan pegawainya sendiri. Muhammad Rifky Fadhillah (MRF), mantri atau account officer bank Unit Semarang Barat, diduga mengorupsi fasilitas kredit hingga negara rugi Rp2,2 miliar.
“Perbuatan tersangka mengakibatkan kerugian sebesar Rp2,2 miliar,” kata Kepala Kejari Kota Semarang, Andhie Fajar Arianto, Selasa (11/11). Kejaksaan langsung menahan MRF selama 20 hari ke depan di Lapas Kelas I Semarang. Sebelumnya, saat masih diperiksa penyidik Polrestabes Semarang, MRF tidak ditahan.
Kasus ini bermula dari aksi MRF yang mengatur 43 kredit fiktif KUR Mikro pada 2022. Ia bekerja sama dengan seseorang bernama BWS, yang kini buron. BWS bertugas mencari orang untuk dijadikan debitur palsu, dengan bayaran antara Rp500 ribu sampai Rp2 juta per orang. Ia juga menyiapkan dokumen palsu seperti KTP, KK, dan surat keterangan usaha.
Lolos Verifikasi
MRF kemudian mengondisikan agar data itu lolos verifikasi dan disetujui pimpinan cabang. Setelah kredit cair, para debitur fiktif cuma menerima uang imbalan, sementara buku tabungan dan ATM mereka dikuasai MRF dan BWS.
Uang pinjaman yang seharusnya buat usaha mikro justru dipakai untuk kepentingan pribadi. Kejaksaan menjerat MRF dengan pasal-pasal korupsi di UU Tipikor dan KUHP. Kasus ini segera dilimpahkan ke pengadilan.
Yang niat bantu usaha mikro malah bikin korupsi makro. Kadang bukan cuma rakyat kecil yang butuh kredit, tapi nurani juga butuh “disuntik” biar nggak bangkrut. (bae)


