BACAAJA.CO, SEMARANG– Mimpi kuliah ke luar negeri tak harus mentok di urusan biaya. Pemprov Jawa Tengah mulai menjajaki kerja sama pendidikan dengan Malaysia, membuka peluang beasiswa, kuliah S2-S3, hingga penguatan keterampilan vokasi.
Peluang tersebut dibahas dalam Seminar Strategik dan Pameran Pendidikan Tinggi Malaysia 2026 di Wisma Perdamaian, Kota Semarang, Kamis (8/10/2026). Forum ini mempertemukan jajaran Pemprov Jateng dengan perwakilan institusi pendidikan Malaysia untuk menjajaki kolaborasi yang bisa ditindaklanjuti.
Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Jateng, Sunarto mengatakan, perguruan tinggi di Malaysia membuka kesempatan bagi pelajar Indonesia, termasuk aparatur sipil negara (ASN) yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister maupun doktoral.
“Ini memberikan gambaran kepada kita, bagaimana perguruan tinggi-perguruan tinggi yang ada di Malaysia open untuk siswa-siswa dari Indonesia atau bahkan bagi ASN yang ingin melanjutkan S2, S3 di sana sangat terbuka,” ujar Sunarto.
Baca juga: 942 Santri Berebut Beasiswa Pemprov Jateng
Menurutnya, peluang tersebut tak harus berujung pada gelar akademik. Pendidikan vokasi juga menjadi sasaran penting, terutama bagi siswa SMA dan SMK yang ingin mengasah keterampilan praktis melalui politeknik di Malaysia.
Artinya, kerja sama ini berpotensi menjadi jalur untuk memperluas pengalaman belajar sekaligus menyiapkan lulusan yang lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Seminar tersebut diikuti hampir 300 ASN di lingkungan Pemprov Jateng. Pesertanya berasal dari berbagai unsur, mulai dari kepala sekolah SMA dan SMK, perangkat daerah, bidang kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan, hingga Badan Kepegawaian Daerah.
Bagi ASN yang berminat melanjutkan studi, Sunarto mengingatkan bahwa prosedur dan perizinan kepegawaian tetap harus dipenuhi. Kualifikasi pendidikan yang diperoleh nantinya dapat mendukung pengembangan karier sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kalau nanti ada ASN yang ingin melanjutkan perguruan tinggi Malaysia, secara prosedural perizinan juga harus ditempuh, sehingga kualifikasi pendidikan sampai tingkat doktoral nanti, bisa digunakan sebagai karier kepegawaian bagi ASN di Jateng,” terangnya.
Pengembangan Beasiswa
Pemprov Jateng juga menjajaki peluang pengembangan beasiswa sesuai arahan Gubernur. Program beasiswa yang dimiliki pemerintah setiap tahun berpotensi diarahkan pada bidang studi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Sunarto secara khusus menyoroti kesempatan bagi siswa vokasi untuk mengembangkan keterampilan melalui politeknik di Malaysia. “Kami tertarik untuk anak-anak yang vokasional ini bisa mengembangkan kemampuan keterampilan vokasinya, berada di politeknik-politeknik yang ada di Malaysia,” imbuhnya.
Menteri Kedutaan (Pendidikan) merangkap Pengarah Education Malaysia Indonesia (EMI), Hasnul Faizal Hushin Amri menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Malaysia memperluas kerja sama pendidikan dengan Jawa Tengah.
Menurutnya, peluang kolaborasi tak hanya mencakup kuliah jenjang S1, S2, dan S3. Kerja sama juga bisa dikembangkan melalui pelatihan, pemanfaatan kepakaran perguruan tinggi, mobilitas mahasiswa, KKN internasional, hingga edutourism atau wisata berbasis pendidikan.
Baca juga: Gus Yasin Ingin Santri Jateng dan Malaysia Bertukar Ilmu
Sebanyak delapan perguruan tinggi Malaysia, baik negeri maupun swasta, hadir bersama sejumlah agen pendidikan untuk memperkenalkan program studi dan membangun jejaring dengan pihak Jateng.
“Bukan hanya produk-produk pendidikan, tapi juga bagaimana kepakaran ini juga boleh dimanfaatkan secara bersama di masyarakat di Jateng itu sendiri,” ungkap Hasnul.
Kedekatan geografis, keterjangkauan, serta pengakuan kualifikasi pendidikan menjadi sejumlah faktor yang dinilai mendukung minat pelajar Indonesia memilih negara tetangga tersebut.
Hasnul juga menyinggung keterkaitan pengakuan kualifikasi pendidikan antara Indonesia dan Malaysia melalui sistem akreditasi masing-masing negara, termasuk Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan Malaysia Qualifications Agency (MQA).
Sebab, kuliah ke luar negeri bukan cuma soal foto di depan kampus keren atau unggahan mengenakan toga. Yang benar-benar dibutuhkan adalah kesempatan yang bisa dijangkau, bukan sekadar dipamerkan. Jangan sampai peluangnya sudah lintas negara, tetapi aksesnya masih sebatas lintas slide presentasi. (tebe)

