BACAAJA, SEMARANG- Walhi Jateng ngasih warning keras: kalau kondisi pesisir nggak segera dibenerin, Kota Lama Semarang bisa beneran jadi lautan tahun 2045. Bukan metafora, bukan drama, tapi akibat kombinasi banjir menahun, amblesan tanah, dan ekosistem pesisir yang makin rusak.
Direktur Walhi Jateng, Fahmi Bastian bilang, kawasan Pantura mulai Pekalongan, Semarang, sampai Demak udah masuk fase kritis banget. Indikasinya? Kaligawe sempat mandi banjir lebih dari seminggu, dan angka land subsidence yang bikin tanah turun terus setiap tahun.
Di Semarang, amblesan tanah ada di angka 8-12 cm, dengan rata-rata 5 cm per tahun. Pekalongan bahkan lebih ngeri: 12-15 cm. Sementara di Sayung, Demak, tanah ambles bukan cuma karena air tanah disedot, tapi juga karena ombak “menggerus” daratan gara-gara mangrove yang hilang.
Fahmi bilang banjir besar dua pekan lalu itu semacam “alarm darurat” bahwa Pantura udah nggak kuat nahan beban ekologisnya. Sungai-sungai yang harusnya jadi jalur buangan air malah mampat karena nggak pernah dinormalisasi serius.
Alih Fungsi
Mangrove yang harusnya jadi benteng malah diganti pabrik, pergudangan, dan kawasan industri. “Banjir kiriman datang, rob datang, air laut dorong balik. Ya airnya mentok di situ semua,” katanya.
Proyek Tanggul Laut Semarang-Demak yang molor juga memperparah keadaan. Kolam retensi yang seharusnya nahan debit air belum tuntas. Di sisi lain, wilayah tangkapan air di Mijen dan Ngaliyan rusak karena pembangunan perumahan tanpa perhitungan daya dukung.
Menurut Fahmi, pemerintah justru makin getol ngasih ruang ke industri, padahal itu mempercepat kerusakan pesisir. Kalau pola pembangunan kayak gini terus dipertahankan, Pantura bakal makin nggak siap ngadepin krisis iklim.
Pihaknya ngusulin empat langkah darurat, bangun kolam retensi yang bener-bener berfungsi, kembalikan dan perbanyak ekosistem mangrove, normalisasi serius sungai di Semarang dan Demak dan tata ulang bentang alam berdasarkan daya dukung ekologis
Sebab, kalau semua dibiarkan kayak gini, 2045 nanti warga Kota Lama mungkin nggak perlu wisata ke pantai, karena pantainya bakal “datang sendiri”. (tebe)


