Syauqibillah Prabowo tinggal di Boja, Kendal. Menempuh studi di UIN Walisongo Semarang.
Ramadan tidak datang sebagai suasana meriah. Ia datang sebagai hitungan baru. Berapa hari harus menahan lapar sambil tetap bekerja seperti biasa.
Tongkrongan kelas pekerja tidak pernah benar-benar ramai, tapi selalu saja ada yang betah berlama-lama di situ. Penuh keluhan yang dibungkus tawa. Penuh lelah yang pura-pura ringan. Di situlah baterai kesehatan sedikit demi sedikit diisi ulang walau tak pernah benar-benar penuh.
Malam itu saya duduk di serambi masjid bersama Adam, seorang supir, dan Akbar, penjual kopi keliling. Kami adalah kawan sejak masa kecil sekaligus keluarga dalam berbagai hal. Dari serambi terlihat di ujung gang jalan kecamatan masih ramai kendaraan berseliweran. Lampu motor selalu berlalu seolah tanpa sempat beristirahat.
Adam membakar ujung batang rokok sambil bersandar di tiang serambi masjid. “Saiki golek duit kok jan angel yo,” katanya. “Digas pol yo tetep ngene-ngene wae. Solar munggah, sing tuku panggah podo ae. Ra munggah-munggah.”
Akbar sambil menuang kopi “Bar Kopi” merek milik dagangannya. “Yo wis ngono kui, Dam,” katanya santai. “Sing penting awakmu isih iso mlaku. Akeh wong sing malah mandek tenan.”
Adam terkekeh kecil. “Mandek piye, Nda? Wong nek mandek yo rak mangan.”
Akbar menuang kopi panas ke gelas plastik fasilitas remaja masjid lalu menyodorkannya. “Kopi sek. Ben ra mumet.” Ia menepuk termosnya pelan. “Wong koyo dewe ki penting mlaku, ndas e rak pecah wes prestasi sangar, Dam.”
Aku perhatikan mereka bergantian menyeruput kopi. Tak ada pembicaraan besar. Sesekali membicarakan impiannya masing-masing. Lebih banyak cerita-cerita kecil tentang dagangan sepi, ban bocor, dan cicilan yang belum lunas.
Belakangan cerita seperti itu terasa semakin sering terdengar. Harga kebutuhan naik pelan-palan, tapi pendapatan jalan di tempat. Banyak orang bilang ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Tapi bagi orang seperti kami, keadaan sepeti ini bukan sebagai berita. Ini keseharian.
Saat Ramadan datang, Adam bilang biasanya orderan lebih ramai. Tapi badan terasa lebih berat. “Lek pas poso nyetir awan ki jan tambah abot,” katanya. “Telak garing, sirah mumet mobat-mabit. Tapi yo piye meneh, wong nyambut gawe kadang gaiso milah-milih.”
Akbar tertawa kecil. “Poso ki gawe wong sugih gen iso ngerasakke luwe,” katanya. “Nek wong koyo awake dewe mah. Rak poso wes biasa luwe.”
Adam tertawa keras. “Sing penting pas Magrib iso mangan anget-anget,”katanya. “Wis kui ae rasane koyo riyoyo versi lite.”
Saat bulan Ramadan datang biasanya spanduk promo mulai bermunculan. Dari paket sahur hemat, diskon takjil, menu huka puasa spesial, dan lain sebagainya. Tapi bagi orang seperti Adam dan Akbar, Ramadan tidak datang sebagai suasana meriah. Ia datang sebagai hitungan baru. Berapa hari harus menahan lapar sambil tetap bekerja seperti biasa.
Adam memandang jalan yang mulai sepi. “Urip ki koyo nyetir adoh,” katanya. “Ngantuk yo kudu tahan. Mosok mandek neng tengah dalan.” Akbar menuang sisa kopi ke gelas terakhir malam itu. “Sing penting awakmu isih iso ngguyu,”katanya. “Wong nek wis raiso ngguyu kuwi sing bahaya.”
Baru belakangan saya sadar, mungkin yang mereka lakukan setiap malam bukan sekadar nongkrong. Obrolan pendek, kopi murah bahkan gratis, dan tawa kecil seperti itu terasa seperti jeda kecil dari tegangnya hidup.
Mungkin Ramadan memang mengajarkan kesabaran. Tapi bagi sebagian orang, sabar bukan sesuatu yang dipelajari setahun sekali. Ia sudah menjadi kebiasaan sejak lama. Dan kadang, bagi mereka yang hidupnya harus terus berjalan, kewarasan memang bukan sesuatu yang mewah. Ia hanya soal cukup kuat untuk kembali bekerja besok pagi.
Begitu seterusnya.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


