Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kisah tentang Ramadan Bagi Orang-Orang yang Tak Punya Pilihan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Kisah tentang Ramadan Bagi Orang-Orang yang Tak Punya Pilihan

Redaktur Opini
Last updated: Februari 25, 2026 7:26 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Syauqibillah Prabowo tinggal di Boja, Kendal. Menempuh studi di UIN Walisongo Semarang.

Ramadan tidak datang sebagai suasana meriah. Ia datang sebagai hitungan baru. Berapa hari harus menahan lapar sambil tetap bekerja seperti biasa.

 

Tongkrongan kelas pekerja tidak pernah benar-benar ramai, tapi selalu saja ada yang betah berlama-lama di situ. Penuh keluhan yang dibungkus tawa. Penuh lelah yang pura-pura ringan. Di situlah baterai kesehatan sedikit demi sedikit diisi ulang walau tak pernah benar-benar penuh.

Malam itu saya duduk di serambi masjid bersama Adam, seorang supir, dan Akbar, penjual kopi keliling. Kami adalah kawan sejak masa kecil sekaligus keluarga dalam berbagai hal. Dari serambi terlihat di ujung gang jalan kecamatan masih ramai kendaraan berseliweran. Lampu motor selalu berlalu seolah tanpa sempat beristirahat.

Adam membakar ujung batang rokok sambil bersandar di tiang serambi masjid. “Saiki golek duit kok jan angel yo,” katanya. “Digas pol yo tetep ngene-ngene wae. Solar munggah, sing tuku panggah podo ae. Ra munggah-munggah.”

Akbar sambil menuang kopi “Bar Kopi” merek milik dagangannya. “Yo wis ngono kui, Dam,” katanya santai. “Sing penting awakmu isih iso mlaku. Akeh wong sing malah mandek tenan.”

Adam terkekeh kecil. “Mandek piye, Nda? Wong nek mandek yo rak mangan.”

Akbar menuang kopi panas ke gelas plastik fasilitas remaja masjid lalu menyodorkannya. “Kopi sek. Ben ra mumet.” Ia menepuk termosnya pelan. “Wong koyo dewe ki penting mlaku, ndas e rak pecah wes prestasi sangar, Dam.”

Aku perhatikan mereka bergantian menyeruput kopi. Tak ada pembicaraan besar. Sesekali membicarakan impiannya masing-masing. Lebih banyak cerita-cerita kecil tentang dagangan sepi, ban bocor, dan cicilan yang belum lunas.

Belakangan cerita seperti itu terasa semakin sering terdengar. Harga kebutuhan naik pelan-palan, tapi pendapatan jalan di tempat. Banyak orang bilang ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Tapi bagi orang seperti kami, keadaan sepeti ini bukan sebagai berita. Ini keseharian.

Saat Ramadan datang, Adam bilang biasanya orderan lebih ramai. Tapi badan terasa lebih berat. “Lek pas poso nyetir awan ki jan tambah abot,” katanya. “Telak garing, sirah mumet mobat-mabit. Tapi yo piye meneh, wong nyambut gawe kadang gaiso milah-milih.”

Akbar tertawa kecil. “Poso ki gawe wong sugih gen iso ngerasakke luwe,” katanya. “Nek wong koyo awake dewe mah. Rak poso wes biasa luwe.”

Adam tertawa keras. “Sing penting pas Magrib iso mangan anget-anget,”katanya. “Wis kui ae rasane koyo riyoyo versi lite.”

Saat bulan Ramadan datang  biasanya spanduk promo mulai bermunculan. Dari paket sahur hemat, diskon takjil, menu huka puasa spesial, dan lain sebagainya. Tapi bagi orang seperti Adam dan Akbar, Ramadan tidak datang sebagai suasana meriah. Ia datang sebagai hitungan baru. Berapa hari harus menahan lapar sambil tetap bekerja seperti biasa.

Adam memandang jalan yang mulai sepi. “Urip ki koyo nyetir adoh,” katanya. “Ngantuk yo kudu tahan. Mosok mandek neng tengah dalan.” Akbar menuang sisa kopi ke gelas terakhir malam itu. “Sing penting awakmu isih iso ngguyu,”katanya. “Wong nek wis raiso ngguyu kuwi sing bahaya.”

Baru belakangan saya sadar, mungkin yang mereka lakukan setiap malam bukan sekadar nongkrong. Obrolan pendek, kopi murah bahkan gratis, dan tawa kecil seperti itu terasa seperti jeda kecil dari tegangnya hidup.

Mungkin Ramadan memang mengajarkan kesabaran. Tapi bagi sebagian orang, sabar bukan sesuatu yang dipelajari setahun sekali. Ia sudah menjadi kebiasaan sejak lama. Dan kadang, bagi mereka yang hidupnya harus terus berjalan, kewarasan memang bukan sesuatu yang mewah. Ia hanya soal cukup kuat untuk kembali bekerja besok pagi.

Begitu seterusnya.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Secuil Cerita dari Sebuah Museum di Kota Lama Semarang

Grup WA Kelas Bukan Ruang Penghakiman

Pasar Spekulatif dan Batas Rasionalitas Ekonomi

Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026

Urgensi Pengakuan Ekosida sebagai Sebuah Kejahatan dalam Kerangka Hukum di Indonesia

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini. (bae) Pengurus DPC PSI Semarang Mundur Massal, Pengamat Sebut Partai Gajah Gak Laku untuk Orang Kritis
Next Article Bupati Temanggung, Agus Setyawan, berbuka puasa bersama komunitas disabilitas di rumah dinas Pendopo Pengayoman, Selasa (24/2/2026). Keterbatasan Bukan Penghalang Prestasi, Bupati Temanggung Apresiasi 3 Atlet ASEAN Para Games

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Demokratisasi Akses Literasi Hukum Sejak Bangku Sekolah Dasar

Ilustrasi petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT).

KPK Boyong 12 Pejabat Tulungagung ke Surabaya, Kasus OTT Bupati Gatut Masih Gelap

Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo.

Dasco Klarifikasi Status Kader Gerindra Bupati Tulungagung: Daftar setelah Menjabat

Warga menikmati makan siang gratis melalui program Dapur Marhaen yang digelar PDIP Jateng. (dul)

Dapur Marhaen PDIP Gak Cuma Makan Gratis, tapi Jadi Ruang Sosial Warga

Warga berkerumun melihat dan membeli produk keramik di Bazar PT Sango Ceramics Indonesia di area pabrik Wonosari, Ngaliyan, Kota Semarang, Jumat (10/4/2026). (bae)

Warga Kalap Borong Keramik di Bazar Sango: Mumpung Murah!

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah sebenarnya punya niat baik: anak sekolah kenyang, cerdas, dan sehat. Tapi realitanya, justru banyak siswa keracunan massal di berbagai daerah. Programnya keren di pidato, tapi di lapangan? Bisa bikin perut mules berjamaah.
Opini

Makan Bergizi Gratis, Tapi Rakyatnya Masuk IGD

September 21, 2025
Menteri Purbaya, ya? Mungkinkah dia cuma jadi bayang-bayang Luhut Binsar Panjaitan, ikut-ikutan tanpa suara sendiri? Atau malah jagoannya Luhut yang siap jadi pemain cadangan di panggung besar?. Gambar ilustrasi: Tim Kreatif/dok. 
Opini

Dari Bayangan Luhut ke Menteri Keuangan: Purbaya Si Anak Buah Kini Jadi Bos

September 10, 2025
Opini

Rabiah dan Seni Mencintai Tuhan

Desember 24, 2025
Opini

Mentalitas “Jalur Ordal” Ternyata Bisa Bikin Negara Gagal

Januari 22, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kisah tentang Ramadan Bagi Orang-Orang yang Tak Punya Pilihan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?