Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kisah Street Photographer, Pemburu Momen di Pinggir Jalan Semarang
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Kisah Street Photographer, Pemburu Momen di Pinggir Jalan Semarang

Bagi para street photographer, jalanan adalah panggung kehidupan, dan setiap klik kamera adalah cerita yang berhasil diselamatkan dari waktu.

R. Izra
Last updated: Juli 8, 2026 4:52 pm
By R. Izra
3 Min Read
Share
PEMBURU MOMEN - Sejumlah orang menunggu untuk mengabadikan momen di pinggir Jalan Untung Suropati, Semarang, saat menjelang senja, Selasa (7/7/2026). (dul)
PEMBURU MOMEN - Sejumlah orang menunggu untuk mengabadikan momen di pinggir Jalan Untung Suropati, Semarang, saat menjelang senja, Selasa (7/7/2026). (dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Bagi para street photographer, jalanan bukan cuma tempat orang berlalu-lalang. Jalanan adalah panggung kehidupan, dan setiap klik kamera adalah cerita yang berhasil diselamatkan dari waktu.

Saat sebagian orang memilih pulang atau nongkrong menjelang sore, sekelompok fotografer justru bersiap mengambil posisi di pinggir jalan. Kamera di tangan, mata fokus ke arah lalu lintas, mereka menunggu satu hal: momen yang tak bisa diulang.

Pemandangan itu hampir setiap hari bisa ditemui di kawasan Jalan Burangrang Utara IV, Jangli, Tembalang, Kota Semarang. Menjelang matahari terbenam, para street photographer berkumpul untuk berburu foto kendaraan dan aktivitas jalanan yang melintas di depan lensa mereka.

Salah satunya adalah Gigi Wardana (35), fotografer asal Semarang yang sudah sekitar dua tahun menekuni street photography. Baginya, aktivitas ini bukan sekadar memotret motor atau mobil yang lewat, tetapi juga cara menikmati suasana kota dari sudut yang berbeda.

“Kalau sore itu vibes-nya beda. Cahaya mataharinya lebih estetik, terus banyak teman-teman yang lewat juga. Jadi sekalian hunting foto, sekalian nongkrong,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Setiap hari, sekitar pukul 15.30 WIB hingga menjelang magrib, Gigi dan beberapa fotografer lain sudah standby di titik favorit mereka. Saat ada pengendara melintas dengan momen yang pas, kamera langsung bekerja.

Sekilas terlihat sederhana. Tapi di balik satu foto yang keren, ada proses panjang mulai dari memilih angle, mengatur komposisi, sampai menunggu timing yang tepat dalam hitungan detik.

Menariknya, hasil foto yang mereka ambil biasanya diunggah ke media sosial. Tak jarang para pengendara yang sadar dirinya difoto akan menghubungi fotografer lewat Instagram untuk meminta file aslinya.

“Kalau ada yang tertarik biasanya beli soft file. Harganya sekitar Rp8 ribu per foto,” kata Gigi.

Meski sering terlihat nongkrong bareng, para fotografer jalanan ini ternyata tidak tergabung dalam komunitas resmi. Mereka bergerak secara independen dan hanya dipertemukan oleh hobi yang sama.

“Enggak ada komunitas khusus. Paling cuma saling kenal karena sering ketemu di lokasi yang sama,” jelasnya.

Namun solidaritas mereka cukup kuat. Belum lama ini, saat terjadi tumpahan solar di jalan yang menyebabkan sejumlah pengendara terjatuh, para fotografer justru berhenti memotret dan turun membantu membersihkan jalan menggunakan pasir.

“Waktu itu banyak yang jatuh. Kami langsung bantu bersihin supaya enggak ada korban lagi,” kenangnya.

Di luar aktivitas hunting foto jalanan, Gigi juga menerima berbagai pekerjaan profesional. Mulai dari event lari, sesi foto model, hingga prewedding.

Meski begitu, ia menilai profesi fotografer jalanan masih minim perhatian. Belum ada wadah resmi maupun sertifikasi yang bisa mendukung para pelaku street photography berkembang lebih jauh.

“Harapannya ke depan ada ruang atau wadah yang bisa mengakomodasi fotografer seperti kami supaya profesi ini lebih dihargai,” ungkapnya.

Bagi Gigi, yang membuatnya terus kembali ke pinggir jalan setiap sore bukanlah soal uang atau penghargaan. Melainkan sensasi ketika berhasil menangkap satu momen yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. (dul)

You Might Also Like

Pemkot Klaim Anak Muda Semarang Mulai Lirik Budaya Lokal di Tengah Gempuran K-Pop, Benarkah?

Dari Gang Desa Benang Rajut Nyebrang Sampai Luar Negeri

Bongkar Dugaan Korupsi Pelabuhan, Eks-Bos HRD JICT Tewas Dibunuh

Rumah Mewah Disita, Bos Minyak Masih Raib

Wali Kota: Media Itu Bukan Cuma Mitra, Tapi Teman Hidup Pemerintah

TAGGED:headlinepemburu momenpemburu senjaSemarangstreet photographerstreet photography
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article BUS LISTRIK--Penumpang baru saja turun dari bus listrik Trans Semarang. Hore! Bus Listrik Trans Semarang bakal Layani Warga Mulai September
Next Article Pelajar SMA di Semarang Babak Belur Dikeroyok Orang Ngaku Intel

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PSI Jateng Respons Rumor Hendi, Tegaskan Partai Terbuka untuk Siapa Saja

Tambah Banyak, Penerima Bisyaroh di Kota Semarang Nyaris 10 Ribu Orang

Bawahan Bupati Sudewo Ubah BAP, KPK Ingatkan Risiko Pidana

Jateng Perkuat Pencegahan HIV Lewat Edukasi dan Konseling Gratis

JALAN RUSAK - Beberapa titik Jalan Untung Suropati Kalipancur yang rusak dan menimbulkan banyak debu dan membahayakan pengendana, Selasa (7/7/2026). Menurut warga, jalan baru diperbaiki lalu rusak lagi setelah terus-terusan dilintasi truk pengangkut galian C. (dul)

Warga dan DPU Ungkap Fakta Berbeda Ihwal Debu Jalan Rusak di Kalipancur, Siapa yang Benar?

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Dari Irbid Buat Dunia: Mahasiswa Indonesia Gaspol di Irbid Expo 2026

Februari 4, 2026
Info

Sobo Roworejo, Cara Warga Wonolopo Rawat Tradisi Kampung

Juli 7, 2026
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kebijakan dan komentarnya bikin gaduh negeri ini. Terutama komentar soal guru yang menjadi beban negara. Foto: dok./humas Kemenkeu
Unik

Sri Mulyani: Pajak Itu Kayak Zakat, Guru Itu Beban? Publik: Lah, Serius Bu?

Agustus 19, 2025
Pasar Sora SKK Vol.2 resmi dibuka di Gedung Wanita Sasana Krida Kusuma, Kamis (19/2/2026). Ini jadi tempat berburu takjil paling hype di Solo.
Info

Pasar Sora SKK Vol.2 Resmi Dibuka, Spot Ngabuburit & Berburu Takjil Paling Hype di Solo!

Februari 20, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kisah Street Photographer, Pemburu Momen di Pinggir Jalan Semarang
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?