BACAAJA, SEMARANG – Bagi para street photographer, jalanan bukan cuma tempat orang berlalu-lalang. Jalanan adalah panggung kehidupan, dan setiap klik kamera adalah cerita yang berhasil diselamatkan dari waktu.
Saat sebagian orang memilih pulang atau nongkrong menjelang sore, sekelompok fotografer justru bersiap mengambil posisi di pinggir jalan. Kamera di tangan, mata fokus ke arah lalu lintas, mereka menunggu satu hal: momen yang tak bisa diulang.
Pemandangan itu hampir setiap hari bisa ditemui di kawasan Jalan Burangrang Utara IV, Jangli, Tembalang, Kota Semarang. Menjelang matahari terbenam, para street photographer berkumpul untuk berburu foto kendaraan dan aktivitas jalanan yang melintas di depan lensa mereka.
Salah satunya adalah Gigi Wardana (35), fotografer asal Semarang yang sudah sekitar dua tahun menekuni street photography. Baginya, aktivitas ini bukan sekadar memotret motor atau mobil yang lewat, tetapi juga cara menikmati suasana kota dari sudut yang berbeda.
“Kalau sore itu vibes-nya beda. Cahaya mataharinya lebih estetik, terus banyak teman-teman yang lewat juga. Jadi sekalian hunting foto, sekalian nongkrong,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Setiap hari, sekitar pukul 15.30 WIB hingga menjelang magrib, Gigi dan beberapa fotografer lain sudah standby di titik favorit mereka. Saat ada pengendara melintas dengan momen yang pas, kamera langsung bekerja.
Sekilas terlihat sederhana. Tapi di balik satu foto yang keren, ada proses panjang mulai dari memilih angle, mengatur komposisi, sampai menunggu timing yang tepat dalam hitungan detik.
Menariknya, hasil foto yang mereka ambil biasanya diunggah ke media sosial. Tak jarang para pengendara yang sadar dirinya difoto akan menghubungi fotografer lewat Instagram untuk meminta file aslinya.
“Kalau ada yang tertarik biasanya beli soft file. Harganya sekitar Rp8 ribu per foto,” kata Gigi.
Meski sering terlihat nongkrong bareng, para fotografer jalanan ini ternyata tidak tergabung dalam komunitas resmi. Mereka bergerak secara independen dan hanya dipertemukan oleh hobi yang sama.
“Enggak ada komunitas khusus. Paling cuma saling kenal karena sering ketemu di lokasi yang sama,” jelasnya.
Namun solidaritas mereka cukup kuat. Belum lama ini, saat terjadi tumpahan solar di jalan yang menyebabkan sejumlah pengendara terjatuh, para fotografer justru berhenti memotret dan turun membantu membersihkan jalan menggunakan pasir.
“Waktu itu banyak yang jatuh. Kami langsung bantu bersihin supaya enggak ada korban lagi,” kenangnya.
Di luar aktivitas hunting foto jalanan, Gigi juga menerima berbagai pekerjaan profesional. Mulai dari event lari, sesi foto model, hingga prewedding.
Meski begitu, ia menilai profesi fotografer jalanan masih minim perhatian. Belum ada wadah resmi maupun sertifikasi yang bisa mendukung para pelaku street photography berkembang lebih jauh.
“Harapannya ke depan ada ruang atau wadah yang bisa mengakomodasi fotografer seperti kami supaya profesi ini lebih dihargai,” ungkapnya.
Bagi Gigi, yang membuatnya terus kembali ke pinggir jalan setiap sore bukanlah soal uang atau penghargaan. Melainkan sensasi ketika berhasil menangkap satu momen yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. (dul)

