BACAAJA, SEMARANG– Siapa bilang musik tradisional kalah pamor dari K-Pop atau lagu-lagu yang viral di TikTok? Di Atrium Mall Tentrem Semarang, Minggu (8/11/2026), alunan kolintang justru sukses mencuri perhatian.
Bukan orang dewasa saja, anak-anak pun tampil percaya diri memainkan alat musik khas Minahasa tersebut demi memperebutkan Piala Wali Kota Semarang 2026.
Ajang Music Kolintang Competition Piala Wali Kota Semarang Tahun 2026 ini bukan sekadar lomba adu kemahiran memainkan alat musik. Lebih dari itu, kompetisi tersebut menjadi cara mengenalkan warisan budaya Indonesia kepada generasi muda dengan pendekatan yang menyenangkan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengekspresikan hasil latihan mereka di hadapan publik.
Menurutnya, kesempatan tampil di atas panggung menjadi bagian penting dalam proses pembinaan seniman muda. Sebab, kemampuan yang selama ini diasah melalui latihan membutuhkan ruang untuk ditampilkan dan mendapat apresiasi.
Baca juga: Bulan Bung Karno Diperingati Lewat Musik, Teater, dan Puisi di TBRS Semarang
“Bagi seniman, hal yang paling membanggakan adalah ketika bisa mengekspresikan diri dan dilihat orang lain. Ini menjadi bentuk apresiasi bagi anak-anak yang selama ini belajar kolintang,” ujar Agustina saat memberikan sambutan.
Pemkot Semarang, lanjutnya, berkomitmen mendorong agar musik kolintang semakin dikenal dan mendapat tempat dalam berbagai agenda kegiatan daerah.
Kompetisi serupa bahkan sudah digelar pada April 2026. Kembali diselenggarakannya ajang ini menunjukkan upaya menjaga kesinambungan pembinaan para pegiat kolintang, terutama dari kalangan anak-anak.
Agustina mengingatkan bahwa pengakuan Unesco terhadap kolintang sebagai warisan budaya tak benda bukanlah garis finis pelestarian. Justru setelah pengakuan itu diperoleh, masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesenian tersebut tetap hidup.
“Pengakuan sebagai warisan budaya tak benda itu tidak mudah diraih. Karena itu, kita perlu memberikan bukti bahwa kolintang ini hidup di masyarakat dan menjadi bagian dari ritme kegiatan sehari-hari,” katanya.
Kunci Pelestarian
Menurut Agustina, regenerasi menjadi kunci agar kolintang tidak sekadar dikenal sebagai peninggalan masa lalu. Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk mengenal, memainkan, dan mencintai musik tradisional sejak dini.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para pegiat kolintang yang konsisten menghidupkan kesenian tersebut di Kota Semarang. Harapannya, pertunjukan kolintang semakin sering hadir dalam berbagai agenda kota, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk menikmatinya.
Sejumlah tokoh turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Bupeni Iryana Marsetio, Prof Dr Ir Sri Puryono, Ketua DPC Pinkan Kota Semarang Martin, serta Ketua Yayasan Sam Poo Kong. Hadir pula jajaran Pemkot Semarang, perwakilan Pemprov Jawa Tengah, dan pegiat seni budaya.
Melalui kompetisi ini, Semarang diharapkan semakin berkembang sebagai ruang tumbuh bagi seni kolintang. Bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana membangun kreativitas, karakter, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Baca juga: Dulu Sempat Ribut, Kini Reog Ponorogo Resmi Diakui Dunia
Sebab, warisan budaya tidak cukup hanya dibanggakan saat mendapat pengakuan dunia atau dipajang dalam buku sejarah. Kolintang harus terus dimainkan agar tetap bernyawa.
Jangan sampai anak-anak lebih hafal nada lagu viral yang umurnya cuma beberapa minggu, tetapi lupa bunyi alat musik warisan budaya yang sudah bertahan lintas generasi. Unesco sudah memberi pengakuan, sekarang jangan sampai kita sendiri yang membiarkannya kehilangan penonton. (tebe)

