Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.
Perempuan juga perlu duduk di meja keputusan desa dan daerah, karena merekalah yang paling cepat membaca perubahan air, tanah, dan tubuh.
Di sebuah desa yang dikepung cerobong dan deru truk nikel, seorang perempuan memulai pagi dengan seember air yang tak sejernih dulu. Asap smelter menyusup ke dapur, bercampur bau minyak goreng dan batuk anak yang tak kunjung reda. Debu menempel di meja makan, lantai yang baru dipel kembali kusam. Debu datang tanpa undangan, lebih rajin dari tamu rapat RT.
Di tempat lain, desa lingkar batu bara di Kalimantan Timur, beberapa jam hujan cukup mengubah parit menjadi arus cokelat yang naik ke ruang tamu. Sumur keruh, orang tua cemas setiap awan gelap muncul, anak-anak belajar membaca warna langit sebagai tanda bahaya. Bukan cuma banjir musiman, melainkan gangguan tata air yang makin sering terkait pembukaan lahan dan lobang bekas tambang yang tak dipulihkan.
Di kawasan nikel seperti Morowali atau Konawe, kebun dan sawah bergeser menjadi pagar pabrik, jalan hauling, dan mess karyawan. Sungai yang dulu dipakai mandi dan mencuci airnya berubah keruh dan berbau. Perempuan berjalan lebih jauh mencari air atau membeli air isi ulang, sementara biaya pangan naik karena hasil kebun berkurang.
Jam kerja domestik pun memanjang. Rumah lebih sering berdebu, pakaian lebih sering dicuci, kebutuhan air meningkat, dan keluarga lebih sering batuk atau sesak. Ruang hidup menyempit, tetapi beban tambahan ini jarang masuk hitungan biaya produksi.
Kerangka sirkulasi nilai membantu membaca pola ini sebagai arus yang timpang. Ekstraksi terjadi ketika keuntungan ditarik dari tanah, tenaga kerja, dan ruang hidup warga tanpa membayar penuh biaya sosial ekologisnya. Pengembalian semestinya hadir sebagai upah layak, layanan kesehatan, air bersih, dan pemulihan lingkungan, tapi sering mengecil menjadi proyek sementara.
Kebocoran muncul ketika nilai dari wilayah sumber mengalir ke pusat ekonomi dan politik di luar daerah, sementara dampaknya menetap di kampung-kampung sumber sebagai debu, banjir, dan sakit yang berulang.
Saat ekstraksi besar, pengembalian kecil, dan kebocoran besar, selisihnya menempel pada tubuh perempuan sebagai kerja perawatan tanpa bayaran, kesehatan yang menurun, dan kecemasan yang menumpuk. Memperbaikinya berarti menjadikan keselamatan warga sebagai batas evaluasi izin dan perluasan industri.
Air bersih, klinik yang benar-benar berfungsi, pemantauan kualitas udara, serta pemulihan ekologi harus menjadi kewajiban mengikat. Perempuan juga perlu duduk di meja keputusan desa dan daerah, karena merekalah yang paling cepat membaca perubahan air, tanah, dan tubuh.
Perbaikan sirkulasi nilai menuntut peningkatan evaluasi izin dan perluasan industri ekstraktif dengan menjadikan keselamatan warga sebagai batas yang jelas. Layanan kesehatan, akses air bersih, dan pemulihan ekologis di lingkar tambang perlu menjadi kewajiban yang mengikat, bukan sekadar program sukarela. Kebijakan harus mengakui kerja perawatan dan kesehatan warga sebagai bagian dari biaya resmi produksi.
Kita perlu menempatkan perempuan sebagai bagian dari pengambil keputusan di tingkat desa dan daerah, karena mereka yang paling cepat membaca perubahan air, tanah, dan tubuh. Jika iman, keadilan, dan rahmah sungguh dipegang, kita tidak bisa lagi menyebut luka ini sebagai “konsekuensi pembangunan”.
Selama sirkulasi nilai timpang, keuntungan mengalir ke pusat sementara luka tertahan di tubuh perempuan di lingkar tambang, nikel dan batu bara akan terus menjadi nama lain dari kekerasan yang disembunyikan.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


