BACAAJA, CILACAP – Sepanjang 2025, urusan api masih jadi pekerjaan rumah serius di Cilacap. Catatan Damkar menyebut, total ada 109 kejadian kebakaran yang tersebar di berbagai wilayah, dengan nilai kerugian ditaksir tembus Rp11,8 miliar. Angka ini bikin alarm kewaspadaan makin nyaring.
Kebakaran paling sering muncul di kawasan permukiman. Rumah warga jadi lokasi yang paling rawan, jauh mengungguli kejadian di dunia usaha maupun kendaraan. Aktivitas harian yang padat dan kondisi bangunan disebut ikut memperbesar risiko.
Data Damkar Cilacap menunjukkan, dari total 109 kasus, sebanyak 60 kejadian terjadi di lingkungan permukiman. Sementara kebakaran di sektor dunia usaha tercatat 34 kejadian, disusul kebakaran kendaraan sebanyak 10 kejadian, dan kategori lain berjumlah 5 kejadian.
Wilayah perkotaan jadi sorotan utama. Kepadatan bangunan dan aktivitas warga yang tinggi membuat potensi kebakaran lebih mudah muncul, terutama saat pengawasan mulai kendor.
Kepala Bidang Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Cilacap, Gatot Arif Widodo, menegaskan bahwa faktor kelistrikan masih jadi biang utama. Korsleting listrik tercatat sebagai penyebab terbanyak dengan 51 kejadian.
Selain itu, kelalaian manusia juga tak kalah berperan. Human error menyumbang 36 kejadian, sementara penggunaan tungku dan gas LPG tercatat memicu 16 kebakaran sepanjang tahun.
“Sebagian besar kejadian terjadi di rumah tinggal. Ini jadi perhatian serius karena sebenarnya bisa dicegah dengan kewaspadaan sejak awal,” ujar Gatot, Sabtu (3/1/2026).
Tak cuma soal api, Damkar Cilacap juga sibuk menangani kejadian non-kebakaran. Sepanjang 2025, ratusan laporan masuk dan butuh respons cepat di lapangan.
Operasi tangkap tawon jadi yang paling sering, dengan total 212 kejadian. Setelah itu disusul operasi tangkap ular sebanyak 110 kejadian, evakuasi hewan liar 23 kejadian, hingga bantuan evakuasi warga dan penanganan pohon tumbang.
Rentetan data ini jadi pengingat bahwa risiko bisa datang kapan saja. Damkar pun terus mengingatkan warga agar lebih peduli pada keamanan rumah, terutama soal instalasi listrik dan penggunaan peralatan sehari-hari. (*)


