BACAAJA, YOGYAKARTA – Tumpukan limbah kayu yang biasanya cuma jadi sisa praktikum, kini berubah jadi sesuatu yang bikin mata langsung melirik. Di SMKN 1 Kalasan, suasana belajar terasa beda setelah mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta datang membawa ide yang nggak biasa—mengubah sisa kayu jadi kotak tisu estetik yang punya nilai pakai sekaligus nilai jual.
Program ini hadir lewat kegiatan Pembelajaran Luar Kampus (PLK) Mengajar yang nggak sekadar formalitas. Mahasiswa benar-benar turun tangan, melihat langsung kondisi di lapangan, lalu mencoba menghadirkan solusi yang relevan. Dari situ, mereka menemukan satu masalah sederhana tapi sering terlewat: limbah kayu hasil praktikum siswa yang menumpuk tanpa pemanfaatan jelas.
Alih-alih dibuang atau dibiarkan menumpuk, limbah itu justru dijadikan bahan utama untuk karya baru. Ide ini digagas oleh tim mahasiswa Pendidikan Seni Kriya dari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya. Dipimpin Kautsar Ahmad Raharjo bersama timnya, mereka mencoba menggabungkan kreativitas dengan kepedulian lingkungan dalam satu kegiatan yang aplikatif.
Menurut Kautsar, pendekatan ini bukan cuma soal bikin produk, tapi juga tentang mengubah cara pandang. Limbah bukan lagi sesuatu yang harus disingkirkan, tapi bisa jadi peluang kalau diolah dengan tepat. Dari sinilah konsep kotak tisu berbahan limbah kayu mulai dikembangkan.
Prosesnya pun nggak instan. Kayu-kayu sisa dipilih, dipotong dengan ukuran kecil sekitar 2 x 6 cm, lalu dirakit satu per satu menggunakan lem hingga membentuk struktur dasar. Di tahap ini, ketelitian benar-benar diuji karena setiap potongan harus presisi agar hasil akhirnya rapi.
Supaya tampilannya nggak monoton, mahasiswa juga mengombinasikan potongan kayu dengan warna berbeda di bagian tengah. Sentuhan sederhana ini justru bikin produk terlihat lebih hidup dan punya karakter unik.
Setelah dirakit, permukaan kayu dihaluskan agar aman dan nyaman saat digunakan. Tahapan ini penting, karena selain soal estetika, produk juga harus fungsional. Hasil akhirnya adalah kotak tisu yang tidak hanya berguna, tapi juga layak jadi dekorasi ruangan.
Yang menarik, kegiatan ini nggak berhenti di produksi saja. Siswa juga diajak terlibat langsung dalam prosesnya. Mereka belajar dari awal hingga akhir, mulai dari memilah bahan, merakit, sampai finishing.
Bagi siswa, pengalaman ini terasa beda dari pembelajaran biasa. Mereka nggak hanya menerima teori, tapi langsung praktik dengan hasil nyata yang bisa dilihat dan digunakan.
Keterlibatan ini juga memicu rasa bangga. Produk yang awalnya berasal dari limbah, kini berubah jadi barang yang punya nilai. Ada kepuasan tersendiri saat melihat hasil karya sendiri bisa dipakai sehari-hari.
Selain itu, kegiatan ini secara tidak langsung mengajarkan pentingnya pengelolaan limbah. Siswa jadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan mulai berpikir ulang sebelum membuang sesuatu.
Mahasiswa PLK Mengajar UNY juga berperan sebagai fasilitator yang aktif. Mereka tidak hanya mengarahkan, tapi juga memberi ruang bagi siswa untuk bereksplorasi dan mencoba ide-ide baru.
Kolaborasi ini menciptakan suasana belajar yang lebih hidup. Interaksi antara mahasiswa dan siswa berjalan dua arah, saling bertukar ide dan pengalaman.
Program ini juga sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan limbah menjadi produk baru mendukung prinsip konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.
Di sisi lain, pendekatan pembelajaran berbasis praktik seperti ini juga memperkuat kualitas pendidikan. Siswa tidak hanya siap secara teori, tapi juga punya keterampilan yang bisa langsung diterapkan.
Ke depan, kegiatan seperti ini diharapkan bisa terus berkembang. Bukan hanya di satu sekolah, tapi juga di tempat lain dengan konsep yang bisa disesuaikan.
Potensi limbah di lingkungan pendidikan sebenarnya sangat besar. Tinggal bagaimana kreativitas dimanfaatkan untuk mengolahnya jadi sesuatu yang bernilai.
Dari kegiatan sederhana ini, muncul pesan kuat bahwa inovasi tidak selalu harus rumit. Kadang, ide terbaik justru datang dari hal-hal yang sering dianggap sepele.
Kotak tisu dari limbah kayu ini jadi bukti nyata bahwa kreativitas bisa berjalan beriringan dengan kepedulian lingkungan.
Di tangan yang tepat, sesuatu yang dianggap sisa bisa berubah jadi karya yang punya cerita dan makna.
Dan di ruang kelas sederhana itu, siswa belajar satu hal penting—bahwa setiap bahan, sekecil apa pun, selalu punya potensi untuk jadi sesuatu yang lebih besar. (*/uny.ac.id)

