BACAAJA, SEMARANG – Kawasan Gunungpati dan Mijen selama ini dikenal sebagai daerah penghijauan sekaligus wilayah resapan air di Kota Semarang. Tapi belakangan, wajah dua kawasan ini mulai berubah drastis.
Lahan yang dulu dipenuhi pepohonan dan hutan kecil kini perlahan berubah jadi kompleks perumahan baru. Dari pantauan di lapangan, cukup banyak area yang dibuka untuk pembangunan. Pohon ditebang, tanah diratakan, lalu berdirilah deretan rumah baru.
Perubahan ini bikin sebagian warga mulai was-was. Absori (32), warga Gunungpati, bilang kondisi lingkungannya sekarang jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Dulu, kata dia, warga lebih sering khawatir soal pohon tumbang saat hujan atau angin kencang.
Bacaaja: Semarang Atas Terus Dibangun: Lahan Resapan Pelan-pelan Hilang, Banjir Selalu Datang
Bacaaja: Walhi: Pembangunan di Hulu Bikin Semarang Bawah Tambah Banjir
“Sekarang bukan cuma takut pohon tumbang. Kita juga mulai mikir soal banjir. Kalau hujan deras, jadi kepikiran air bakal meluap atau nggak,” kata Absori, Selasa (10/3/2026).
Hal serupa juga dirasakan Mukhlis (41), warga Mijen. Ia mengaku perubahan di wilayahnya terasa banget, terutama di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB) yang dulu dikenal masih berupa hutan cukup lebat.
“Dulu daerah BSB itu masih hutan. Tapi sekarang makin banyak perumahan berdiri,” ujarnya.
Menurut Mukhlis, perubahan itu bisa jadi salah satu penyebab banjir yang sempat terjadi di Mijen beberapa waktu lalu. Padahal secara geografis, kawasan tersebut berada di dataran yang relatif lebih tinggi.
“Makanya kemarin sempat banjir, padahal ini kan daerah atas,” lanjutnya.
Mukhlis berharap pemerintah tetap menjaga fungsi kawasan penghijauan dan daerah resapan air di wilayah tersebut. Ia juga berharap pembangunan perumahan bisa lebih dikendalikan supaya tidak merusak lingkungan.
“Harapannya pemerintah masih mau memperluas area penghijauan dan menghentikan pembangunan di area resapan,” katanya.
Perubahan tata guna lahan di Gunungpati dan Mijen memang jadi perhatian banyak pihak. Selain sebagai wilayah penyangga kota, dua kawasan ini punya peran penting menahan air hujan agar tidak langsung mengalir ke wilayah bawah.
Kalau pembangunan terus ngebut tanpa memperhatikan fungsi lingkungan, warga khawatir dampaknya bukan cuma dirasakan di daerah atas—tapi juga memperparah banjir di kawasan Semarang bawah yang selama ini memang sudah rawan. (dul)


