BACAAJA, BANYUMAS – Di tengah derasnya kuliner modern, warga Desa Kutaliman, Kecamatan Kedungbanteng, masih setia menjaga tradisi lewat makanan khas bernama jenang bumbung. Kudapan manis berbahan ketan ini sudah ada sejak era kolonial Belanda dan hingga kini masih diproduksi meski jumlah perajinnya semakin sedikit.
Tokoh masyarakat Kutaliman Niwan, menyebut jenang bumbung terbuat dari campuran tepung ketan, ampas kelapa, dan gula kelapa. Yang membuatnya berbeda adalah cara memasaknya. Adonan dimasukkan ke dalam batang bambu atau bumbung, lalu dibakar menggunakan daun kelapa kering.
“Prosesnya unik. Setelah dibakar, isi jenang akan mengembang hingga memenuhi batang bambu. Nanti bumbung yang gosong dibersihkan lalu dipotong-potong,” terang Niwan.
Tradisi membuat jenang bumbung ini, kata Niwan, sudah ia saksikan sejak kecil. Bahkan hingga sekarang, kuliner khas itu tetap diproduksi meski jumlah perajinnya tidak sampai 10 orang.
Produksi jenang bumbung biasanya dilakukan untuk acara tertentu, seperti hajatan, penyambutan tamu, hingga pesanan khusus dari konsumen. Karena tanpa bahan pengawet, jenang ini hanya tahan beberapa hari sehingga harus segera dikonsumsi.
Darsono (45), warga setempat, mengatakan proses pembuatan jenang bumbung bisa memakan waktu seharian penuh. Mulai dari mencari bambu di kebun, menyiapkan adonan, hingga tahap pembakaran.
“Setelah matang, bambu dibersihkan dari kulit yang hangus, dipotong-potong, lalu dikemas. Satu bungkus biasanya berisi lima potong dengan harga Rp10 ribu,” jelas Darsono.
Dulu jenang bumbung lebih sering muncul saat momen Lebaran atau acara adat. Kini, makanan tradisional ini juga dipasarkan secara komersial meski produksinya masih terbatas sesuai pesanan.
Keunikan rasa manis gurihnya, ditambah proses memasak yang masih tradisional, membuat jenang bumbung tetap dicari. Bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya, makanan ini bukan sekadar kuliner, melainkan simbol warisan budaya yang patut dijaga. (*)


