BACAAJA, SEMARANG- Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi blak-blakan soal kondisi sampah di wilayahnya. Dari total sekitar 6,4 juta ton per tahun, baru 30 persen yang berhasil dikelola. Sisanya? Masih jadi PR besar.
Artinya, sekitar 70 persen sampah belum tertangani maksimal. Dan ini bukan angka kecil, ini “gunung” masalah yang selama ini cuma numpuk. Biar nggak cuma jadi beban, Pemprov Jateng mulai tancap gas lewat proyek pengolahan sampah jadi energi listrik alias waste to energy. Kolaborasi ini digarap bareng Pemkot Semarang dan Pemkab Kendal.
Baca juga: Dari Sampah Jadi Listrik: Pemprov, Pemkot Semarang dan Pemkab Kendal Teken PKS
Kesepakatannya sudah diteken: sampah bakal diolah pakai teknologi ramah lingkungan buat jadi sumber energi. Jadi, yang biasanya bau dan dibuang, ke depan bisa ikut “nyalain lampu”.
Selain itu, Pemprov juga dorong metode lain kayak RDF (refuse derived fuel). Simpelnya, sampah diolah jadi bahan bakar alternatif, biasanya dipakai industri seperti pabrik semen.
Sesuai Kondisi
Strateginya dibedain sesuai kondisi daerah. Kalau produksi sampahnya gede (di atas 1.000 ton per hari), bakal pakai pendekatan regional. Tapi kalau lebih kecil, diarahkan ke RDF. Saat ini, RDF sudah jalan di tiga daerah: Banyumas, Cilacap, dan Magelang. Dan rencananya bakal diperluas ke enam kabupaten lainnya.
Target akhirnya? Ambisius banget: zero sampah di 2029, sesuai roadmap nasional. Bahkan, Pemprov sudah bentuk Satgas Sampah buat ngegas program ini biar nggak cuma jadi wacana.
Dari sisi pemerintah pusat, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq juga kasih lampu hijau. Menurutnya, langkah ini penting, apalagi buat wilayah dengan produksi sampah tinggi seperti Semarang Raya.
Baca juga: Kolaborasi Riset: Dari Sampah Jadi Energi, Dari Beasiswa Jadi Solusi
Tapi ada catatan penting: proyek waste to energy ini nggak instan. Waktu pembangunannya bisa makan minimal tiga tahun. Artinya, selama nunggu proyek jadi, pemerintah daerah tetap harus muter otak, mulai dari pengurangan sampah sampai pengolahan pakai teknologi yang sudah ada.
Kalau selama ini sampah cuma jadi “warisan masalah”, sekarang mau diubah jadi “aset masa depan”. Tinggal satu pertanyaan: yang lebih cepat mana, sampahnya diolah, atau nambahnya? (tebe)


