BACAAJA, DEMAK- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya menjaga stabilitas harga bahan pokok penting. Sebanyak 308 kali Gerakan Pangan Murah (GPM) dijadwalkan digelar di seluruh kabupaten/kota hingga Maret 2026.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi memastikan, agenda itu sudah terjadwal rapi. “Jadi kami sudah punya jadwal untuk kegiatan gerakan pangan murah ini,” katanya saat meninjau GPM di Halaman Kantor TVRI Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026).
Program ini memang bagian dari agenda nasional. Di Jateng, pembukaannya digelar di Pucang Gading, Mranggen, Demak, wilayah perbatasan dengan Kota Semarang. Lokasi ini dipilih karena pergerakan harga di daerah penyangga kota biasanya lebih cepat terasa.
Baca juga: Cabai Naik 98%, Bkin Dompet Pedas! TPID Jateng Gelar Operasi Pasar
Secara umum, stok pangan strategis di Jawa Tengah masih surplus. Tapi awal Februari ini mulai ada komoditas yang harganya naik jelang Ramadan. Yang paling bikin deg-degan? Cabai.
Harganya naik sekitar 35,7 persen dari Harga Acuan Pembelian (HAP), tembus Rp77.800 per kilogram. Nyaris sentuh Rp80 ribu. Selain itu, harga Minyak Kita naik jadi Rp16.300/liter (di atas HET Rp15.700), daging kerbau beku Rp110.000/kg (naik 38,4 persen dari HPP Rp80.000) dan jagung untuk peternak ayam petelur Rp6.250/kg (naik 7,4 persen dari HPP Rp5.500).
Penetrasi Pasar
“Ada kenaikan tapi belum signifikan, kecuali cabai yang hampir mendekati Rp80 ribu. JTAB sudah kita perintahkan penetrasi harga di seluruh pasar,” jelas Luthfi.
Karena itu, GPM jadi jurus utama untuk nahan harga supaya nggak keburu “liar”. Dalam GPM di Pucang Gading saja, ada sebelas pelaku usaha yang ikut terlibat, mulai dari Bulog, RNI, PPI, JTAB, UMKM binaan DKP Jateng, Gapoktan Catur Tani Demak, Poktan Mudo Manunggal Roso, CV Futago Farm, sampai pelaku usaha ayam dan pangan lainnya.
Selain pasar murah, Satgas Pangan Jateng juga turun tangan melakukan penyisiran distribusi. Targetnya jelas: cegah spekulan yang coba main harga dari hulu sampai hilir. “Harus kita sisir, mulai dari hilirisasi petani, distributor, sampai tempat penjualan dan konsumen,” tegasnya.
Baca juga: Jaga Stabilitas Harga, DPRD Jateng Minta Operasi Pasar Dipercepat Jelang Ramadan
Di lapangan, respons warga langsung terasa. Nuraini, warga Pucang Gading, mengaku terbantu banget. Apalagi harga cabai di GPM cuma Rp65 ribu per kilogram, beda jauh dengan harga pasar yang hampir Rp100 ribu. “Ini ada beras, telur, cabai. Cabai ini jauh lebih murah. Minyak juga lebih murah,” katanya sambil menunjukkan belanjaannya.
Jelang Ramadan, yang biasanya bikin panas bukan cuma omongan tetangga, tapi juga harga cabai. Kali ini, sebelum harga makin pedas, pemerintah pilih turun tangan. Soalnya kalau cabai sudah tembus Rp100 ribu, yang nangis bukan cuma dapur… tapi juga timeline media sosial. (tebe)


