BACAAJA, SEMARANG- Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana belum lama ini blusukan ke sejumlah destinasi unggulan di Kota Semarang. Misinya jelas: pastikan semuanya ready buat perayaan Imlek.
Menurut Widiyanti, Imlek itu bukan cuma seremoni tahunan. Ini momentum ekonomi. Hotel hidup, UMKM kebagian rezeki, pedagang senyum lebar. Jadi destinasi wisata harus aman, nyaman, dan bikin orang betah. Didampingi Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, Menpar mampir ke ikon Imlek paling legendaris di kota ini: Keenteng Sam Poo Kong.
Kalau ngomongin Imlek di Semarang, rasanya nggak sah tanpa Sam Poo Kong. Setiap tahun, tempat ini selalu full house. Ribuan orang datang, ada yang sembahyang, ada yang sekadar menikmati vibes-nya yang khas banget.
Baca juga: Imlek dan Ramadan Datang Bersamaan, Agustina: Momentum Perkuat Toleransi
Fun fact-nya, Sam Poo Kong punya sejarah panjang yang nyambung sama pelayaran Laksamana Cheng Ho. Dulunya cuma gua batu tempat singgah armada Cheng Ho saat berlabuh di Semarang. Lama-lama berkembang jadi simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang kuat banget.
Cheng Ho sendiri dikenal sebagai pelaut Muslim yang membawa misi damai dan perdagangan ke Nusantara. Jadi, tempat ini bukan cuma bangunan tua, tapi saksi hidup pertemuan budaya yang adem dan saling menghormati.
Simbol Harmoni
Widiyanti pun menyebut Sam Poo Kong sebagai simbol harmoni yang nyata. Buat dia, Imlek tahun ini harus jadi wajah pariwisata Indonesia yang inklusif, tertata, dan bikin bangga.
Pembina Yayasan Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Mulyadi Setiakusuma bilang, pihaknya sudah nyiapin pesta budaya spesial. Bukan setengah-setengah, tapi kolaborasi budaya Jawa, Tionghoa, sampai sentuhan nasional.
Baca juga: Lap-Lap Altar, Cuci Aura: Tay Kak Sie Mode Bersih Jelang Imlek
Catat tanggalnya: 15 Februari 2026. Dan kabar baiknya? Gratis. Warga Semarang dan wisatawan bisa datang, nonton, dan ngerasain langsung atmosfer Imlek yang meriah tapi tetap hangat.
Jadi ya, kalau Imlek disebut cuma ritual tahunan, kayaknya kurang update. Di Semarang, Imlek itu mesin ekonomi, panggung budaya, sekaligus reminder kalau harmoni itu nggak cuma jargon, asal destinasi siap, parkiran aman, dan UMKM kebagian cuan, semua ikut senang. (tebe)


