BACAAJA, TEMANGGUNG – Momen Harlah 100 Tahun NU di Temanggung bukan cuma soal seremoni. Di hadapan ribuan kader NU, Bupati Temanggung Agus Setyawan menegaskan sikap yang bikin banyak orang angguk-angguk setuju: sekolah tetap enam hari, bukan full day school.
Pernyataan itu disampaikan Agus saat Apel 10.000 Kader dan Parade Harlah 100 Tahun Masehi Nahdlatul Ulama (NU) di Alun-alun Temanggung, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Agus, kebijakan enam hari sekolah bukan tanpa alasan. Justru ini cara Pemkab Temanggung menjaga napas pendidikan keagamaan di desa-desa, seperti TPQ dan Madrasah Diniyah (Madin), yang selama ini jadi fondasi pendidikan karakter anak-anak.
Bacaaja: Temanggung Ikut Pulihkan Sekolah di Aceh Tamiang, Kadisdik: Bikin Kami Bangkit Lagi!
Bacaaja: Trans Jateng Magelang-Temanggung Gak Matiin Angkutan Lama, Gelangmanggung Siap Jalan 2027
“Pemkab Temanggung mendukung sepenuhnya kebijakan enam hari sekolah. Ini upaya supaya TPQ dan Madrasah Diniyah tetap hidup dan berjalan baik,” tegas Agus dari podium.
Ia menilai, kalau sekolah pulang terlalu sore seperti sistem full day school, anak-anak—terutama di kampung-kampung—bakal kelelahan dan akhirnya kehilangan waktu untuk mengaji. Sikap ini bukan hal baru. Agus juga pernah menyuarakan hal yang sama saat Apel Hari Santri 2025 lalu.
Dorong Kiai Subchi jadi Pahlawan Nasional
Selain urusan pendidikan, Agus juga menyoroti soal sejarah dan jasa ulama. Ia mendorong percepatan gelar Pahlawan Nasional untuk Kiai Subchi, ulama kharismatik asal Parakan yang dikenal dengan julukan “Kyai Bambu Runcing”.
Agus menyebut ziarah Wakil Presiden RI ke-13 KH Ma’ruf Amin ke makam Kiai Subchi pada Kamis (29/1) lalu sebagai momentum penting untuk menguatkan usulan tersebut.
“Pemkab Temanggung sepakat dengan usulan Kiai Subchi sebagai Pahlawan Nasional. Kehadiran Wapres KH Ma’ruf Amin menjadi wasilah agar usulan ini benar-benar dipertimbangkan pemerintah pusat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Temanggung KH Muhammad Furqon atau Gus Furqon mengingatkan kembali semangat para pendiri NU satu abad lalu. Menurutnya, NU lahir sebagai wadah perjuangan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan tetap relevan hingga hari ini.
“Ibarat pohon, usia 100 tahun menunjukkan akar NU sangat kuat sampai ke anak ranting. Yang menjaga NU tetap besar adalah keikhlasan para kiai di tiap dusun yang istiqamah mendampingi umat dan mendidik anak-anak kita,” tuturnya.
Harlah satu abad NU pun jadi pengingat: tradisi, pendidikan, dan perjuangan kiai tetap jadi napas utama dalam membangun generasi masa depan. (*)

