BACAAJA, JAKARTA – Pasar modal Indonesia rontok. Dua hari berturut kena trading halt. Alarm tanda bahaya. Investor kehilangan kepercayaan kepada bursa Indonesia.
Pagi ini, pasar saham lagi-lagi kena rem mendadak. Sistem perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi trading halt sekitar pukul 09.30 WIB di Jakarta Automated Trading System (JATS), Kamis (29/1/2026).
Penyebabnya satu: IHSG ambyar brutal. Indeks rontok 8% ke level 7.654,66, alias anjlok 666,90 poin cuma dalam hitungan menit sejak pembukaan. Fast drop, no mercy.
Bacaaja: IHSG Ambrol Purbaya Murka! Perintahkan BEI Beresin Saham Gorengan Sebelum Maret
Bacaaja: Akademisi: Ekonomi Jateng On The Track, Tapi……
Data di papan perdagangan juga bikin geleng-geleng:
Cuma 34 saham yang masih hijau
694 saham tumbang
230 saham flat nggak ke mana-mana
Nilai transaksi tercatat Rp 10,78 triliun dengan total kapitalisasi pasar Rp 13.820 triliun. Tapi jelas, duit segitu belum cukup buat nahan kepanikan.
Ini jadi trading halt kedua dalam sepekan. Bahkan dua hari berturut-turut. Alarm tanda bahaya.
Sebelumnya, BEI juga sempat nge-freeze perdagangan pada Rabu (27/1/2026) pukul 13.43 WIB, nggak lama setelah pengumuman MSCI yang bikin pasar auto panas dingin.
Buat yang belum update, MSCI resmi kasih perlakuan khusus ke pasar Indonesia. Mulai rebalancing Februari 2026, MSCI:
Membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF)
Mengunci Number of Shares (NOS)
Stop nambah saham baru ke MSCI Investable Market Indexes (IMI)
Nggak ada migrasi saham dari Small Cap ke Standard
Intinya, MSCI lagi narik rem tangan buat pasar Indonesia demi ngurangin risiko dan ngasih waktu ke otoritas pasar buat beresin isu transparansi dan investabilitas.
Singkatnya:
- IHSG jatuh
- BEI freeze
- Pasar panik
Dan drama belum kelar. Kalau persoalan saham gorengan gak segera diberesi, pasar saham Indonesia bisa kehilangan kepercayaan dari investor. Ekonomi Indonesia bisa makin ancur. (*)


