BACAAJA, JAKARTA – Pasar saham Indonesia langsung nyungsep setelah Moody’s Investors Service menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Dampaknya instan, IHSG dibuka terperosok 2,5% ke 7.901, meninggalkan level psikologis 8.000, saat pembukaan perdagangan Jumat (6/2/2026).
Mayoritas saham pun kompak berada di zona merah. Tercatat 364 saham melemah, hanya 76 menguat, sementara 518 lainnya stagnan. Nilai transaksi awal mencapai Rp505,5 miliar dengan kapitalisasi pasar turun ke Rp14.360 triliun.
Bacaaja: IHSG Ambrol Purbaya Murka! Perintahkan BEI Beresin Saham Gorengan Sebelum Maret
Bacaaja: Rombongan Pimpinan BEI dan OJK Mundur setelah IHSG Rontok, DPR: Itu Belum Cukup
Tekanan ini diperkirakan belum akan reda. Selain efek downgrade outlook dari Moody’s, sentimen global seperti rontoknya Wall Street, melemahnya pasar tenaga kerja, hingga turunnya harga emas ikut membebani pasar domestik.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai perubahan outlook terjadi karena investor global masih membutuhkan penjelasan lebih jelas terkait kebijakan pemerintah, terutama soal badan investasi baru BPI Danantara.
Menurutnya, struktur APBN tahun ini memang berbeda karena banyak mengakomodasi program prioritas pemerintah. Sementara itu, investasi ke depan akan lebih didorong melalui Danantara, bukan hanya lewat belanja negara.
“Ini yang banyak rating agency ataupun di pasar keuangan global belum paham. Jadi ini yang harus kita beri penjelasan,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, keberadaan Danantara justru membuka peluang reformasi BUMN agar bisa bergerak lebih fleksibel layaknya sektor swasta.
Meski pasar saham sedang bergejolak, fundamental ekonomi masih menunjukkan sinyal positif. BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,39% (yoy) pada kuartal IV-2025, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. (*)


