HENTAKAN kaki terdengar kuat saat belasan penari mulai bergerak. Pedang dan tameng di tangan mereka ikut dimainkan mengikuti irama. Gerakannya tegas, gagah, dan penuh tenaga.
Itulah Tari Soreng yang masih dilestarikan pemuda Dusun Wuluh Nampu, Desa Peron, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Tarian tradisional ini menjadi salah satu kesenian yang terus dijaga keberadaannya melalui Sanggar Langen Mudha Santosa.
Tari Soreng sebenarnya bukan kesenian asli Wuluh Nampu. Tarian ini lahir dari kawasan Kabupaten Magelang, khususnya daerah lereng Gunung Merbabu dan Gunung Andong, sebelum kemudian masuk dan berkembang di Wuluh Nampu sekitar 1980-an.
Nama Soreng berasal dari kata “suro” dan “ing”. Tarian ini menggambarkan sosok prajurit yang digambarkan selalu menang di mana pun berada.
Ketua Kesenian Dusun Wuluh Nampu, Parno, mengatakan karakter Tari Soreng tidak lepas dari kehidupan masyarakat di daerah pegunungan.
Hentakan kaki yang kuat menjadi bagian penting dalam tarian. Gerakan tersebut menggambarkan masyarakat pegunungan yang terbiasa bekerja keras, mulai dari mengolah ladang hingga membawa hasil pertanian melewati medan yang naik-turun.
Di Wuluh Nampu, Tari Soreng juga dikembangkan dengan jumlah penari yang lebih banyak. Jika umumnya dimainkan minimal 10 orang, para pemuda Sanggar Langen Mudha Santosa mengemasnya secara kolosal dengan melibatkan 16 penari.
Mereka memainkan sejumlah tokoh, mulai dari Wiropati, Adipati Arya Penangsang, pelatih Patih Rongga Meraung, hingga barisan prajurit. Pedang dan tameng menjadi bagian dari properti yang membuat pertunjukan terasa semakin gagah.
Selain Soreng, Sanggar Langen Mudha Santosa juga menjaga keberadaan Tari Sekarlele. Tarian ini membawa cerita berbeda, yakni menggambarkan gladi perang laskar Pangeran Diponegoro dalam menghadapi Belanda.
Tari Sekarlele dimainkan 13 orang. Delapan penari membawa tombak, empat lainnya menggunakan pedang, sedangkan satu penari berperan sebagai komandan.
Yang menarik, kekuatan Tari Sekarlele tidak hanya terlihat dari gerakannya. Kostumnya memadukan pakaian adat Jawa dengan sentuhan seragam militer prajurit Kerajaan Turki, lengkap dengan selempang khas.
Dua tarian tersebut menjadi bagian dari identitas kesenian Wuluh Nampu. Cerita tentang tokoh seperti Arya Penangsang dan Pangeran Diponegoro dipadukan dengan gerakan yang kuat serta tampilan busana yang khas.
Kesenian Wuluh Nampu telah tampil dalam sejumlah agenda daerah, seperti Karnaval HUT ke-80 RI yang diselenggarakan Dinas Kesenian dan Kebudayaan Kendal serta peringatan Hari Jadi Kabupaten Kendal ke-420.
Pelestarian itu turut mendapat dukungan dari Bidang Pengabdian Masyarakat BEM Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip).
“Kesenian tersebut ada di Wuluh Nampu yang merupakan desa binaan dari BEM FH Undip. Kami ingin mengangkat kesenian ini agar lebih dikenal masyarakat luas,” ujar Ketua Pelaksana Desa Binaan Bidang Pengabdian Masyarakat, BEM FH Undip, Raya Aqil Abdurrahman, Minggu (13/9/2026). (bae)

