BACAAJA, SEMARANG – Video singkat yang tersebar di media sosial seolah mengubah jalan dakwah seorang pendakwah muda, Gus Elham Yahya Luqman. Tindakan yang tampak sederhana di matanya—mencium anak perempuan—mendadak jadi sorotan besar publik.
Di berbagai platform, potongan video itu langsung memicu diskusi sengit. Netizen ramai menilai perbuatannya tak pantas, terlebih karena konteksnya terjadi di ruang publik. Kata-kata seperti “tidak etis” hingga “pelecehan” pun bermunculan di kolom komentar.
Tak butuh waktu lama, perhatian publik pun menarik respons dari pejabat negara. Wakil Menteri Agama, Romo Syafi’i, ikut angkat suara. Ia menegaskan tindakan semacam itu memang tak patut dilakukan oleh seorang tokoh agama.
“Publik benar, itu memang tidak pantas,” tegasnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Pengawasan Dakwah dan Ruang Ramah Anak
Menurut Romo Syafi’i, Kementerian Agama sebenarnya telah memiliki pedoman tentang lingkungan ramah anak di madrasah dan pesantren. Regulasi itu menekankan perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan, termasuk perlakuan yang bisa dianggap melanggar batas.
Ia menegaskan pengawasan akan diperketat, khususnya untuk tokoh publik keagamaan yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. “Kita akan pastikan pengawasannya berjalan agar tidak terulang,” ujarnya.
Kemenag, lanjutnya, akan mengevaluasi kembali aturan etik dan sanksi bagi pelanggar, agar dakwah tetap membawa nilai-nilai keteladanan.
Bagi sebagian masyarakat, kasus ini membuka mata bahwa citra dakwah tak hanya soal isi ceramah, tapi juga sikap dan perilaku sang pendakwah di hadapan publik.
Sosok Muda di Lingkaran Pesantren
Gus Elham lahir di Tarokan, Kediri, 8 Juli 2001. Ia tumbuh di lingkungan pesantren, dikelilingi nilai-nilai religius sejak kecil. Putra KH. Luqman Arifin Dhofir dan Hj. Ernisa Zulfa Al-Hafidz ini memang disiapkan untuk meneruskan perjuangan dakwah keluarganya.
Sebutan “Gus” melekat padanya sebagai bentuk penghormatan dalam tradisi pesantren Jawa—sebuah gelar yang membawa tanggung jawab moral besar.
Meski masih muda, kiprahnya cukup mencolok. Ia rutin mengisi pengajian setiap Kamis dan Sabtu malam di pondoknya, Pondok Pesantren Al Ikhlas Kediri.
Selain itu, Gus Elham aktif di media sosial, tempat ia menyampaikan ceramah dengan gaya santai dan interaktif. Konten dakwahnya biasanya berisi motivasi, kisah hikmah, dan nasihat ringan untuk anak muda.
Dakwah Zaman Digital dan Risiko Viral
Era digital membuat batas antara ruang privat dan publik semakin kabur. Bagi pendakwah seperti Gus Elham, kamera bisa jadi sahabat sekaligus musuh.
Setiap gerak, tutur, bahkan ekspresi bisa ditafsirkan secara berbeda oleh penonton dunia maya. Ketika video ciuman itu tersebar, narasi yang terbentuk pun tak bisa lagi dikendalikan.
Sebagian netizen menilai Gus Elham hanya bermaksud menunjukkan kasih sayang layaknya seorang kakak terhadap adik. Namun sebagian lainnya menilai itu sebagai pelanggaran adab dan norma sosial.
“Di dunia digital, interpretasi bisa bergeser sangat cepat. Sekali viral, sulit dikendalikan,” kata seorang pengamat komunikasi publik dari UIN Sunan Ampel.
Permintaan Maaf
Gus Elham akhirnya muncul dalam video klarifikasi. Wajahnya tampak tenang tapi jelas menyesal.
“Dengan penuh kerendahan hati saya Muhammad Elham Yahya secara pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat,” katanya pelan.
Ia mengakui perbuatannya salah dan berkomitmen untuk memperbaiki diri. “Saya jadikan ini sebagai pelajaran agar tidak mengulangi hal serupa di masa mendatang.”
Dalam video yang sama, ia menegaskan tekad untuk berdakwah dengan cara yang lebih bijak dan sesuai norma agama serta budaya bangsa.
Dari Pesantren ke Media Sosial
Sebelum viral, Gus Elham dikenal aktif membina jamaah muda lewat pengajian daring. Ia mendirikan Pondok Pesantren Al Ikhlas 2 di Desa Kaliboto, Tarokan, serta Majelis Taklim Ibadallah.
Tujuannya sederhana: menyebarkan nilai Islam dengan pendekatan lembut dan penuh kasih. Namun, peristiwa ini menjadi cambuk besar baginya untuk lebih berhati-hati.
“Setiap dakwah punya konsekuensi sosial, apalagi di era kamera,” ujar seorang rekan sepesantren.
Kini, publik menantikan langkah perbaikan yang nyata dari Gus Elham.
Netizen dan Fenomena Moralitas Publik
Kasus Gus Elham juga menunjukkan bagaimana netizen memegang peran dalam membentuk moral publik. Dunia maya kini menjadi arena pengadilan opini, tempat siapa pun bisa dinilai hanya dari satu potongan video.
Sebagian pengguna media sosial meminta agar publik juga memberi ruang maaf, mengingat Gus Elham sudah mengakui kesalahan dan menyesalinya.
Namun, perdebatan ini menunjukkan pentingnya batas etika dan tanggung jawab dalam dunia dakwah digital.
Akhir yang Jadi Awal Baru
Meski dihujat, Gus Elham tetap memilih jalur damai: introspeksi. Ia menyebut bahwa video tersebut sebenarnya sudah lama dan sudah dihapus dari akun pribadinya.
“Semoga Allah beri saya kekuatan untuk memperbaiki diri,” ujarnya dalam penutup klarifikasinya.
Kasus ini menjadi pengingat bagi semua tokoh agama, bahwa dakwah bukan hanya diukur dari ceramah, tapi juga sikap dalam menjaga kehormatan di ruang publik.
Badai viral boleh datang, tapi pelajaran moral di baliknya tetap bisa jadi bekal. (*)

