BACAAJA, DEPOK – Kasus tewasnya Arifianti, guru SD swasta asal Depok, masih menyisakan banyak tanda tanya. Hingga kini, terduga pelaku pembunuhan belum juga tertangkap meski polisi sudah mengantongi identitas dan menerbitkan status DPO.
Arifianti ditemukan tak bernyawa di kawasan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, pada Sabtu malam (6/12). Kondisinya bikin merinding: tangan terikat dan tubuhnya tergeletak di pinggir jalan.
Kapolsek Gunung Putri, KP Aulia Robby Kartika Putra, membenarkan bahwa pelaku masih dalam pengejaran. Polisi memilih belum membuka identitas terduga pelaku ke publik.
“Sampai sekarang belum tertangkap. Sudah kami terbitkan DPO,” kata Aulia saat dikonfirmasi, Minggu (4/1).
Kasus ini makin mengundang perhatian setelah muncul kesaksian warga sekitar. Dayat, pemilik warung dekat lokasi kejadian, mengungkap ada kejadian janggal sebelum jasad Arifianti ditemukan.
Menurut Dayat, seorang pemotor sempat melihat Arifianti dibonceng seseorang. Yang bikin curiga, kaki korban terlihat terkatung-katung, bahkan sampai menyeret aspal.
Pemotor lain sempat menegur pengendara tersebut karena melihat kondisi kaki penumpang yang sudah terluka. Namun teguran itu tak digubris.
“Ditegur karena kakinya sudah nyeret aspal, tapi orangnya langsung jalan saja,” ujar Dayat saat ditemui di warungnya.
Belakangan, pemotor yang sempat menegur itu melihat kabar penemuan mayat di media sosial. Ia pun teringat kejadian sebelumnya dan menduga orang yang dibonceng saat itu bisa jadi sudah tak bernyawa.
Polisi kini fokus memburu sosok yang membonceng Arifianti sebelum ditemukan tewas. Penyelidikan disebut sudah mengerucut ke satu arah.
Hal itu juga disampaikan Agus, mantan suami Arifianti. Ia menyebut aparat dari Polres Bogor dan Polsek Gunung Putri terus bekerja mengumpulkan informasi.
“Polisi sudah mengerucutkan ke seseorang. Mereka sedang berjuang keras,” ujar Agus saat ditemui di Depok.
Hingga kini, keluarga dan publik masih menunggu titik terang. Kasus ini bukan cuma soal penangkapan pelaku, tapi juga keadilan bagi seorang guru yang pergi dengan cara tragis. (*)


