BACAAJA, JAKARTA – Lagi-lagi politik panas, tapi Ganjar Pranowo minta rem dulu. Korban bencana di penjuru nusantara gak bisa nunggu.
Ketua DPP PDI Perjuangan itu mengajak semua partai politik buat fokus bantu korban banjir dan longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh—bukan malah ribut soal pilkada mau dipilih siapa.
Menurut Ganjar, ngurus nyawa dan penderitaan warga jelas lebih penting ketimbang ngotot bahas pilkada lewat DPRD.
Bacaaja: Ambulans Meluncur ke Sumatera, PDIP Bawa Tenaga Medis
Bacaaja: Pilkada Emang Banyak Masalah, tapi Bukan Lempar ke DPRD Solusinya
“Untuk sekarang ini, semua parpol sebaiknya konsentrasi membantu saudara kita yang terkena bencana. Itu lebih penting dibanding urusan pilkada dipilih oleh siapa,” kata Ganjar, Senin (29/12/2025).
Geger pilkada bisa ditunda, korban bencana gak bisa nunggu
Ganjar juga ngingetin, wacana pilkada lewat DPRD itu bukan barang baru. Indonesia pernah ngalamin, dan semua alasannya bisa dibaca lagi di risalah undang-undang.
Intinya: gak usah grasak-grusuk ngebet ngegolin pilkada lewat DPRD, apalagi saat ribuan warga lagi berjuang di tengah bencana.
PDIP: hak rakyat jangan ditarik mundur
Senada dengan Ganjar, Ketua DPP PDI-P Andreas Hugo Pareira tegas menolak ide pilkada dipilih DPRD. Menurutnya, hak demokrasi yang sudah dikasih ke rakyat pantang diambil lagi.
“Kalau hak yang sudah diberikan ke rakyat mau diambil kembali, saya kira rakyat akan marah,” kata Andreas.
Ia menilai, wacana ini berpotensi jadi langkah elite buat melanggengkan kekuasaan, bukan memperbaiki demokrasi.
Daripada ngotak-atik sistem, Andreas mendorong negara membenahi pilkada langsung supaya lebih berkualitas dan gak mahal secara politik.
Wacana pilkada lewat DPRD muncul lagi
Seperti diketahui, ide pilkada lewat DPRD kembali diangkat Presiden Prabowo Subianto dan Partai Golkar. Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia bahkan terang-terangan mengusulkan mekanisme ini saat HUT ke-61 Golkar awal Desember lalu.
Alasannya klasik: biar gak ribet dan gak pusing. Tapi, Bahlil juga ngaku waswas—meski UU dibikin rapi, Mahkamah Konstitusi bisa aja ngebatalin.
Di tengah hujan deras, banjir, dan longsor yang masih nyisain luka, pesan Ganjar cukup jelas:
jangan sibuk ngatur kursi kekuasaan, kalau kursi korban aja masih terendam lumpur.
Politik boleh jalan, tapi empati jangan libur. (*)


