Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.
Emas sangat masuk akal sebagai pelindung nilai terbatas, tetapi utopis sebagai mata uang global.
Wacana menjadikan emas sebagai mata uang global sebenarnya merupakan wacana lama. Tetapi terus berulang karena memiliki daya tarik naratif yang kuat. Terutama di tengah ketidakpercayaan terhadap sistem moneter modern. Emas diposisikan sebagai simbol stabilitas, keadilan, bahkan solusi moral atas krisis keuangan. Namun, masalahnya bukan pada emas itu sendiri, melainkan pada imajinasi berlebihan yang dibebankan kepadanya tanpa memahami bagaimana nilai tukar bekerja dalam ekonomi nyata.
Secara konseptual, emas memiliki dua domain yang berbeda sebagai komoditas pelindung nilai (store of value) dan sebagai alat tukar (medium of exchange). Dalam fungsi pertama, emas relatif stabil karena memiliki nilai guna dan permintaan lintas sektor, termasuk industri elektronik. Namun, ketika emas dipaksakan menjadi alat tukar global, logikanya berubah total. Nilai emas tidak lagi ditentukan oleh kegunaannya, melainkan oleh relasinya dengan barang dan jasa lain, yakni oleh struktur produksi, distribusi, dan permintaan.
Di sinilah kontradiksi muncul. Jika emas dijadikan alat tukar global, maka nilainya terhadap barang tidak akan seragam. Negara dengan kapasitas produksi rendah tetapi konsumsi tinggi akan mengalami kenaikan harga barang dalam satuan emas. Sebaliknya, negara dengan produksi dan konsumsi yang relatif seimbang tentu menolak penyesuaian nilai emas akibat distorsi di tempat lain. Pilihannya hanya dua, menaikkan harga global secara paksa, atau membiarkan nilai emas terfragmentasi secara lokal. Jika yang terjadi adalah opsi kedua, maka emas tidak lagi berbeda secara prinsip dari uang fiat.
Romantisisme terhadap dinar dan dirham sering mengaburkan fakta sejarah. Peter Spufford (1988) menunjukkan bahwa stabilitas logam mulia saat itu bukan karena keunggulan intrinsik, melainkan akibat skala ekonomi yang kecil dan rendahnya kompleksitas. Aktivitas ekonomi sangat dibatasi oleh ketersediaan fisik logam, di mana fenomena bullion famines membuktikan bahwa stabilitas tersebut hanyalah refleksi keterbatasan sistem yang kaku terhadap kebutuhan likuiditas, bukan nilai universal di luar konteks sosial ekonomi.
Masalah lain yaitu sifat suplai emas yang nyaris tetap. Dalam ekonomi modern, likuiditas elastis dibutuhkan untuk membayar gaji, merespons krisis, dan membiayai pembangunan. Eichengreen (1992) menunjukkan bahwa sistem moneter berbasis emas secara historis kesulitan menyesuaikan jumlah uang beredar dengan dinamika ekonomi awal Abad 20. Akibatnya, produksi emas tidak dapat mengikuti kebutuhan sosial bulanan.
Jika emas dijadikan basis sistem moneter, implikasinya bersifat struktural. Pertumbuhan harus ditekan, riset dikerdilkan, dan aktivitas ekonomi dibatasi agar distribusi emas tetap seimbang dengan kapasitas produksi dan konsumsi. Pilihan ini, sebagaimana ditegaskan Ingham (2004), bukan bersifat teknokratis, melainkan ideologis.
Solusi alternatif yang biasa diajukan adalah emas digital, tetapi solusi tersebut tidak jauh berbeda dengan sistem mata uang digital pada umumnya, yaitu sistem berbasis kepercayaan. Tanpa jaminan konversi fisik yang ketat, emas digital tidak berbeda secara fundamental dari uang digital biasa, hanya dengan narasi yang lebih meyakinkan. Hak kepemilikan berubah menjadi hak tagih, dan ketika terjadi krisis sistemik, yang diuji bukan nilai emasnya, melainkan kemampuan institusi memenuhi klaim tersebut.
Kesimpulannya sederhana, emas sangat masuk akal sebagai pelindung nilai terbatas, tetapi utopis sebagai mata uang global. Menjualnya sebagai solusi total bukan hanya keliru secara konseptual, tetapi juga berisiko memanipulasi ketidaktahuan publik. Masyarakat tidak kekurangan imajinasi. Yang dibutuhkan justru keberanian untuk menghadapi realitas ekonomi apa adanya.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


