Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Emas, Imajinasi Global, dan Realitas Nilai Tukar
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Emas, Imajinasi Global, dan Realitas Nilai Tukar

Redaktur Opini
Last updated: Februari 16, 2026 12:08 pm
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Emas sangat masuk akal sebagai pelindung nilai terbatas, tetapi utopis sebagai mata uang global.

 

Wacana menjadikan emas sebagai mata uang global sebenarnya merupakan wacana lama. Tetapi terus berulang karena memiliki daya tarik naratif yang kuat. Terutama di tengah ketidakpercayaan terhadap sistem moneter modern. Emas diposisikan sebagai simbol stabilitas, keadilan, bahkan solusi moral atas krisis keuangan. Namun, masalahnya bukan pada emas itu sendiri, melainkan pada imajinasi berlebihan yang dibebankan kepadanya tanpa memahami bagaimana nilai tukar bekerja dalam ekonomi nyata.

Secara konseptual, emas memiliki dua domain yang berbeda sebagai komoditas pelindung nilai (store of value) dan sebagai alat tukar (medium of exchange). Dalam fungsi pertama, emas relatif stabil karena memiliki nilai guna dan permintaan lintas sektor, termasuk industri elektronik. Namun, ketika emas dipaksakan menjadi alat tukar global, logikanya berubah total. Nilai emas tidak lagi ditentukan oleh kegunaannya, melainkan oleh relasinya dengan barang dan jasa lain, yakni oleh struktur produksi, distribusi, dan permintaan.

Di sinilah kontradiksi muncul. Jika emas dijadikan alat tukar global, maka nilainya terhadap barang tidak akan seragam. Negara dengan kapasitas produksi rendah tetapi konsumsi tinggi akan mengalami kenaikan harga barang dalam satuan emas. Sebaliknya, negara dengan produksi dan konsumsi yang relatif seimbang tentu menolak penyesuaian nilai emas akibat distorsi di tempat lain. Pilihannya hanya dua, menaikkan harga global secara paksa, atau membiarkan nilai emas terfragmentasi secara lokal. Jika yang terjadi adalah opsi kedua, maka emas tidak lagi berbeda secara prinsip dari uang fiat.

Romantisisme terhadap dinar dan dirham sering mengaburkan fakta sejarah. Peter Spufford (1988) menunjukkan bahwa stabilitas logam mulia saat itu bukan karena keunggulan intrinsik, melainkan akibat skala ekonomi yang kecil dan rendahnya kompleksitas. Aktivitas ekonomi sangat dibatasi oleh ketersediaan fisik logam, di mana fenomena bullion famines membuktikan bahwa stabilitas tersebut hanyalah refleksi keterbatasan sistem yang kaku terhadap kebutuhan likuiditas, bukan nilai universal di luar konteks sosial ekonomi.

Masalah lain yaitu sifat suplai emas yang nyaris tetap. Dalam ekonomi modern, likuiditas elastis dibutuhkan untuk membayar gaji, merespons krisis, dan membiayai pembangunan. Eichengreen (1992) menunjukkan bahwa sistem moneter berbasis emas secara historis kesulitan menyesuaikan jumlah uang beredar dengan dinamika ekonomi awal Abad 20. Akibatnya, produksi emas tidak dapat mengikuti kebutuhan sosial bulanan.

Jika emas dijadikan basis sistem moneter, implikasinya bersifat struktural. Pertumbuhan harus ditekan, riset dikerdilkan, dan aktivitas ekonomi dibatasi agar distribusi emas tetap seimbang dengan kapasitas produksi dan konsumsi. Pilihan ini, sebagaimana ditegaskan Ingham (2004), bukan bersifat teknokratis, melainkan ideologis.

Solusi alternatif yang biasa diajukan adalah emas digital, tetapi solusi tersebut tidak jauh berbeda dengan sistem mata uang digital pada umumnya, yaitu sistem berbasis kepercayaan. Tanpa jaminan konversi fisik yang ketat, emas digital tidak berbeda secara fundamental dari uang digital biasa, hanya dengan narasi yang lebih meyakinkan. Hak kepemilikan berubah menjadi hak tagih, dan ketika terjadi krisis sistemik, yang diuji bukan nilai emasnya, melainkan kemampuan institusi memenuhi klaim tersebut.

Kesimpulannya sederhana, emas sangat masuk akal sebagai pelindung nilai terbatas, tetapi utopis sebagai mata uang global. Menjualnya sebagai solusi total bukan hanya keliru secara konseptual, tetapi juga berisiko memanipulasi ketidaktahuan publik. Masyarakat tidak kekurangan imajinasi. Yang dibutuhkan justru keberanian untuk menghadapi realitas ekonomi apa adanya.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Valuasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Jalan Tengah Pembangunan Banjarnegara Maju 2025

Banjarnegara di Atas Lereng Rapuh: Saatnya Serius Mengelola Ekosistem Sebelum Longsor Kembali Menelan Korban

Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar

Jalan Rusak: Ujian Keseriusan Tata Kelola Infrastruktur Daerah

Kita Ringkih dan Kalah, Tetapi Keras Kepala dan Enggan Menyerah

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pajak dan Kisah Suami-Istri
Next Article Ketua Golkar Jateng M Saleh meraih gelar doktor di bidang hukum dengan IPK sempurna 4,00 dan predikat Summa Cumlaude. Gelar tersebut dikukuhkan dalam sidang terbuka promosi doktor di Universitas Islam Sultan Agung pada Sabtu (14/2/2026). Membanggakan! Ketua Golkar Jateng M Saleh Raih Gelar Doktor Hukum, IPK Sempurna

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Imlek di Sam Poo Kong Tak Sekadar Barongsai

Dugderan 2026: Tradisi Lama, Energi Baru

Tanggul Sungai Cacaban jebol, merendam ratusan rumah dan ratusan hektare sawah, di Karangawen, Demak, Senin (16/2/2026).

Tanggul Sungai Cacaban Jebol: 900 KK Warga Demak Terdampak, 350 Ha Sawah Terendam

Polisi melakukan olah TKP ledakan bahan mercon di Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Minggu (15/2/2026). (Dok Polsek Toroh)

Dor! Eksperimen Brutal Tiga Remaja Grobogan: Coba Bikin Bubuk Petasan, 3 Rumah Meledak

Pecinan Semarang Jadi Titik Kumpul Semua Etnis

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Januari 23, 2026
Opini

CEO yang Menyamar dan Fantasi Kenaikan Kelas

Januari 6, 2026
Ilustrasi umbi porang.
Opini

Menilik Potensi Umbi Porang sebagai Alternatif Pengobatan Diabetes Melitus

November 5, 2025
Opini

Urban Parenting dan Mitos “Anak Baik-Baik Saja”

Januari 13, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Emas, Imajinasi Global, dan Realitas Nilai Tukar
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?