Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Efisiensi Anggaran Kebablasan, PPPK Jadi Korban Diam-Diam Lagi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Nasional

Efisiensi Anggaran Kebablasan, PPPK Jadi Korban Diam-Diam Lagi

Dampaknya mulai terasa di dalam negeri. Pemerintah pusat lewat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi sinyal tegas soal penghematan anggaran di berbagai sektor. Instruksinya jelas, belanja yang dianggap tidak produktif harus ditekan. Semua instansi, baik pusat maupun daerah, diminta untuk lebih selektif dalam menggunakan anggaran.

Nugroho P.
Last updated: Maret 29, 2026 6:18 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
ilustrasi PPPK.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Situasi global lagi nggak santai. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel ikut memicu efek domino ke ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Dampaknya mulai terasa di dalam negeri. Pemerintah pusat lewat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi sinyal tegas soal penghematan anggaran di berbagai sektor.

Instruksinya jelas, belanja yang dianggap tidak produktif harus ditekan. Semua instansi, baik pusat maupun daerah, diminta untuk lebih selektif dalam menggunakan anggaran.

Arahan ini juga sejalan dengan kebijakan dari Presiden Prabowo Subianto yang menekankan efisiensi terutama pada kegiatan seremonial yang dinilai kurang berdampak langsung ke masyarakat.

Namun di lapangan, implementasinya justru bikin geleng kepala. Sejumlah pemerintah daerah malah salah menerjemahkan kebijakan tersebut.

Alih-alih memangkas kegiatan yang tidak penting, beberapa pemda justru memotong anggaran sektor produktif seperti pendidikan. Kebijakan ini langsung menuai sorotan.

Ironisnya lagi, di tengah narasi efisiensi, muncul kabar ada kepala daerah yang justru membeli mobil dinas dengan harga fantastis hingga Rp 8 miliar.

Situasi ini makin memancing reaksi publik. Banyak yang mempertanyakan prioritas anggaran yang dinilai tidak konsisten antara penghematan dan pengeluaran.

Dampak paling terasa justru dialami tenaga kerja di sektor pemerintahan, khususnya PPPK. Banyak dari mereka kini berada di posisi yang tidak aman.

Sejumlah daerah mulai mengambil langkah ekstrem dengan tidak memperpanjang kontrak kerja PPPK. Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari penyesuaian anggaran.

Kasus ini sudah mulai terlihat di beberapa daerah seperti Donggala, Deli Serdang, hingga Tuban. Nama-nama daerah ini jadi sorotan karena kebijakan tersebut.

Bukan tidak mungkin, tren ini akan meluas ke daerah lain. Terlebih, banyak kontrak PPPK yang memang akan habis dalam waktu dekat.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan tenaga PPPK. Mereka merasa posisinya selalu jadi yang pertama dikorbankan saat ada kebijakan efisiensi.

Ketua Forum Komunikasi ASN PPPK (FOKAP), Heti Kustrianingsih, menyuarakan keresahan tersebut.

“Sedih rasanya mendengar keluhan kawan-kawan PPPK. Ada yang akan habis masa kontrak kerjanya dan terancam dirumahkan,” ungkapnya.

Menurutnya, alasan pemda seringkali mengacu pada batas maksimal belanja pegawai yang hanya 30 persen dari total anggaran.

Jika angka itu terlampaui, maka instansi diminta melakukan restrukturisasi. Sayangnya, langkah yang diambil seringkali langsung menyasar PPPK.

Heti menilai perlakuan ini menunjukkan bahwa PPPK masih dianggap sebagai pegawai kelas dua. Padahal kontribusi mereka tidak kalah besar.

Ia juga menyoroti bahwa masih banyak opsi lain yang bisa diambil tanpa harus merumahkan tenaga PPPK.

Dalam sistem otonomi daerah saat ini, pemerintah pusat memang punya keterbatasan untuk mengintervensi kebijakan kepala daerah.

Berbeda dengan masa lalu, kini presiden tidak bisa serta-merta memberhentikan kepala daerah yang dianggap mengambil kebijakan keliru.

Karena itu, Heti mendorong solusi jangka panjang. Salah satunya dengan mengangkat PPPK menjadi PNS agar memiliki kepastian kerja.

Menurutnya, langkah ini bukan sekadar solusi administratif, tapi juga bentuk penghargaan atas kerja keras para PPPK.

Apalagi banyak di antara mereka adalah tenaga pendidik yang punya peran penting dalam membangun generasi masa depan.

Di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu, kebijakan dalam negeri diharapkan tetap berpihak pada keadilan.

Jangan sampai efisiensi justru jadi alasan untuk mengorbankan mereka yang selama ini berada di garis depan pelayanan publik. (*)

You Might Also Like

Gaji PNS Bakal Naik Tahun 2026? Nih Penjelasan Terbaru dari Kemenkeu

Bocoran Soal Gaji ASN, Menkeu Sepertinya Masih Injak Rem Awal 2026

Prabowo Ngotot Pertahankan MBG

Libur Usai, ASN Jambi Malah Kena Sanksi Tegas

DPR Gaspol Urus Lingkungan: Dari Sampah Sampai Perdagangan Karbon, Semua Disikat!

TAGGED:efisiensiPPPKpurbaya
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Digerebek Diam-Diam, Pabrik Miras Kebongkar 
Next Article Status Tahanan Yaqut Bolak-Balik, KPK Ngeles Tanpa Intervensi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ilustrasi penumpang kereta api mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiket miliknya.

Angkutan Lebaran Usai, Penumpang Kereta Daop 4 Melonjak 14 Persen

Gedung KONI Manado runtuh setelah diguncang gempa bumi pada Kamis (2/4/2026).

Gempa Sulut-Malut: 1 Korban Jiwa, 2.200 Warga Mengungsi

Jumat Buat Muslimah, Amalan Ringan Tapi Pahalanya Nggak Main-main

Tiga Prajurit Gugur, MUI Ajak Salat Gaib Bersama

Campak Mulai Ngegas Lagi, Jateng Siaga Jangan Anggap Remeh

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Nasional

Anies Datang Tak Diundang, Suasana Halal Bihalal Demokrat Ramai

Maret 25, 2026
Gedung KPU RI. KPU menetapkan 16 dokumen syarat capres-cawapres sebagai informasi tertutup selama 5 tahun, menuai kontroversi publik. Di tengah kebijakan ini, Wapres Gibran digugat Rp125 triliun terkait legalitas ijazah SMA luar negerinya. Publik mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas KPU.
Nasional

KPU ‘Lock’ 16 Dokumen Syarat Capres-Cawapres Untuk Dipublish

September 15, 2025
Nasional

KH Ma’ruf Amin Mundur Perlahan, Pilih Uzlah dari Panggung

Desember 24, 2025
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Jumat (5/9/2025), tanggapi tuntutan 17+8 dari mahasiswa. Foto: dok/ist
Nasional

DPR Gak Mau Main-main: Tanggapi 17+8 Tuntutan Rakyat, Potong Tunjangan & Stop Kunker Luar Negeri

September 5, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Efisiensi Anggaran Kebablasan, PPPK Jadi Korban Diam-Diam Lagi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?