Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Dugderan 2026: Tradisi Lama, Energi Baru
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Info

Dugderan 2026: Tradisi Lama, Energi Baru

Kalau tradisi bisa glow up, Dugderan 2026 ini contohnya. Dari warak yang “wajib ngendog” sampai anak-anak turun ke jalan, Semarang lagi-lagi nunjukin kalau budaya bisa dirawat tanpa jadi kuno, malah makin rame dan relevan.

T. Budianto
Last updated: Februari 16, 2026 9:20 pm
By T. Budianto
3 Min Read
Share
PAWAI DUGDERAN: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memimpin pelaksanaan pawai budaya Dugderan 2026 menyambut bulan suci Ramadan, Senin (16/2/2026). (Foto: Pemkot Semarang)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Dugderan 2026 digelar lebih unik dari biasanya. Bukan cuma soal pawai yang panjang dan ramai, tapi juga karena ada sentuhan baru: anak-anak ikut turun, simbol Warak Ngendog dipertegas, dan pesan toleransi disuarakan lebih lantang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menilai, Dugderan tahun ini bukan sekadar rutinitas jelang Ramadan, tapi momen penting buat nguatkan harmoni lintas budaya dan regenerasi tradisi.

Tradisi tahunan ini digelar Senin (16/2/2026), dimulai dari Balai Kota Semarang, lanjut ke Masjid Agung Semarang, dan finish di Masjid Agung Jawa Tengah. Ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat ikut meramaikan kirab budaya.

Baca juga: Dugderan 2026 Muter Kota: Dari Balai Kota Sampai MAJT

Tema “Bersama Dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi” terasa pas dengan kondisi kota yang super beragam. Menurut Agustina, Dugderan jadi penanda kebersamaan warga Semarang dalam mengantarkan umat Muslim memasuki bulan puasa. “Intinya dugderan ini jadi titik tolak menghantarkan teman-teman Muslim untuk mulai berpuasa,” ujarnya.

Sorotan utama tentu saja Warak Ngendog. Tahun ini, filosofinya ditegaskan habis-habisan. Warak yang “ngendog” dimaknai sebagai simbol kerukunan, pengendalian diri, dan harapan rezeki bersama. “Kalau waraknya nggak ngendog, bisa congkrah, bisa berantem, dan nggak ada rezeki yang bisa dibagi,” kata Agustina, setengah serius setengah bercanda.

Pawai Dugder

Yang bikin makin segar, untuk pertama kalinya ada Pawai Dugder Anak. Pelajar dan kelompok seni cilik ikut tampil, menari, dan pawai bareng. Agustina mengaku senang melihat antusiasme generasi muda yang ikut menjaga tradisi.

“Ini pertama kali kita melepas kontingen anak-anak. Senang banget lihat mereka ikut nari,” tuturnya. Menurutnya, pelibatan anak-anak adalah bentuk transfer nilai budaya agar Dugderan nggak berhenti di generasi sekarang. Tradisi harus diwariskan, bukan cuma dipajang.

Baca juga: Serunya Tradisi Gebyuran Bustaman, Ada Makna Sakral di Balik Aksi Saling Coret-Saling Siram

Momentum Dugderan tahun ini juga makin unik karena berdekatan dengan perayaan lintas agama, mulai dari Imlek sampai masa Pra-Paskah. Situasi ini, kata Agustina, justru memperkuat pesan toleransi. “Harmoni jadi lebih erat, dan Semarang jadi makin damai,” ujarnya optimistis.

Ia pun berharap suasana rukun ini berdampak positif ke pariwisata dan investasi di Semarang. Di akhir, Agustina bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat Muslim.

Dugderan 2026 diikuti ribuan peserta dari 16 kecamatan, ormas, komunitas seni, hingga pelajar. Ada kirab budaya, pentas seni, sampai pemukulan bedug penanda Ramadan, lengkap sebagai simbol persatuan kota. Jadi kalau nanti lihat warak nggak ngendog, mungkin bukan salah tradisinya, bisa jadi kita yang lupa berbagi. Karena di Semarang, damai itu bukan cuma slogan acara, tapi PR bareng yang harus terus dirawat. (tebe)

 

You Might Also Like

Rumus Baru, Nasib Lama: Buruh Tetap Mengeluh

Pabriknya Jalan, Anaknya Aman

Korupsi Plaza Klaten, Habis Rapat Terbitlah Amplop

Pengakuan Teman Kuliah Jokowi di UGM: Saya Tidak Tahu Ada Jurusan Teknologi Kayu, Skripsi Saya Ekonomi Manajemen

Gaji Driver di Jepang Tembus Rp50 Juta! JIDS Gandeng LPK Hiro & Kamisora Buka Akademi

TAGGED:agustina wilujengdugderanheadlinepemkot semarangwali kota semarangwarak ngendog
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Tanggul Sungai Cacaban jebol, merendam ratusan rumah dan ratusan hektare sawah, di Karangawen, Demak, Senin (16/2/2026). Tanggul Sungai Cacaban Jebol: 900 KK Warga Demak Terdampak, 350 Ha Sawah Terendam
Next Article Imlek di Sam Poo Kong Tak Sekadar Barongsai

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Imlek di Sam Poo Kong Tak Sekadar Barongsai

Dugderan 2026: Tradisi Lama, Energi Baru

Tanggul Sungai Cacaban jebol, merendam ratusan rumah dan ratusan hektare sawah, di Karangawen, Demak, Senin (16/2/2026).

Tanggul Sungai Cacaban Jebol: 900 KK Warga Demak Terdampak, 350 Ha Sawah Terendam

Polisi melakukan olah TKP ledakan bahan mercon di Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Minggu (15/2/2026). (Dok Polsek Toroh)

Dor! Eksperimen Brutal Tiga Remaja Grobogan: Coba Bikin Bubuk Petasan, 3 Rumah Meledak

Pecinan Semarang Jadi Titik Kumpul Semua Etnis

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Sejumlah bambu ditanam warga untuk menyangga jembatan akses keluar-masuk dari dan ke Deliksari, Rabu (11/02/2026).
Info

Longsor Ancam Akses Warga Gunungpati, Jembatan Deliksari Nyaris Ambruk

Februari 11, 2026
Ilustrasi anak-anak main game online.
Hukum

Dua Anak Kotim Terpapar Paham Ekstrem dari Game Online, Terkait Bom SMA Jakarta?

Januari 9, 2026
Daerah

Agustina Angkat 2.354 PPPK: Paruh Waktu, Tapi Komitmennya Full Time!

Desember 11, 2025
Pendidikan

Guru PAUD Kesejahteraannya Minus, Pejabat Ini Klaim Bakal Memperjuangkannya

September 25, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dugderan 2026: Tradisi Lama, Energi Baru
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?