BACAAJA, SEMARANG- Polisi sampe sekarang masih nahan Dera dan Munif, dua aktivis Semarang. Gelombang protes pun berdatangan. Ratusan orang turun tangan. Termasuk dua putri Gus Dur, Alisa Wahid dan Inayah Wahid. Mereka desak polisi agar membatalkan penahanan Dera dan Munif.
Nama Alisa dan Inayah nongol jelas di daftar penjamin. Bukan cuma tanda tangan formal, tapi pernyataan sikap yang tegas. “Ini soal kemanusiaan dan soal keadilan,” begitu bunyi respons yang disampaikan tim penjamin, Jumat (5/12).
Baca juga: Duh, Habis Dampingi Korban Kriminalisasi, Dera Malah Dikriminalisasi
Totalnya ada 200 tokoh yang ngajuin sebagai penjamin penangguhan Dera dan Munif. Belasan orang mewakili penjamin mendatangi Kapolrestabes. Surat diterima, tapi ya begitu, belum tentu dikabulkan. “Kami tunggu jawaban tanggal 10 Desember,” ujar Hotmauli Sidabalok, perwakilan penjamin.
Para penjamin menyoroti dua hal. Pertama, soal penangkapan tanpa pemanggilan. Kedua, fakta bahwa dua aktivis itu harusnya menikah 11 Desember. “Ini urusan hak dasar, jangan dihambat,” begitu kutipan yang mereka titipkan melalui jaringan Gusdurian.
Kejanggalan
Sementara itu, penjamin lain mempertanyakan proses hukum yang janggal. “Tahu-tahu ditangkap tanpa panggilan. Ini aneh,” kata Setiawan Budi dari Pelita. Banyak yang sepakat, termasuk dua putri Gus Dur, bahwa pola begini terlalu sering menimpa aktivis.
Baca juga: Aktivis Semarang Diciduk: Tangkap Dulu, Bukti Belakangan
Polisi bilang penangkapan Dera dan Munif terkait demo rusuh 29 Agustus. Tapi belum jelas bukti keterlibatannya. Kasatreskrim cuma bilang, “Masih kami kaji.” Jawaban aman, tapi makin bikin publik curiga.
Yang jelas, desakan publik kali ini punya bobot besar. Karena ketika Alisa dan Inayah Wahid ikut bersuara, artinya masalah ini bukan cuma soal dua aktivis, tapi soal cara negara memperlakukan warganya. (bae)


