BACAAJA, SEMARANG – Fenomena cuaca belakangan ini bikin banyak orang terkejut. Ketika biasanya Indonesia sedang masuk kemarau, justru hujan deras mengguyur sejumlah daerah. Dari Jakarta, Jawa Barat, sampai Jawa Tengah, hujan turun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa curah hujan kali ini berada di atas normal. Kondisi ini jelas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang cenderung kering di periode Juli–September.
Di satu sisi, hujan tentu adalah rahmat dari Allah. Air hujan menyuburkan tanah, memberi kehidupan pada tumbuhan, dan menjadi sumber air bagi manusia serta hewan. Namun, saat curah hujan terlalu tinggi, kekhawatiran lain muncul: banjir, tanah longsor, hingga kerusakan fasilitas.
Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk selalu berdoa ketika hujan turun. Sebab, hujan bisa menjadi berkah jika dimohonkan kepada Allah dengan doa, tapi juga bisa jadi ujian bila tidak dikelola dengan baik.
Salah satu doa singkat yang dianjurkan Rasulullah SAW saat melihat hujan turun adalah:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Allâhumma shayyiban nâfi‘â.
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang membawa manfaat.”
Doa ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, dan Rasulullah SAW membacanya dua hingga tiga kali ketika hujan datang. Waktu turunnya hujan juga disebut sebagai salah satu momen mustajab untuk berdoa.
Namun, bagaimana kalau hujan yang turun terlalu lebat hingga membuat masyarakat khawatir? Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW juga membaca doa khusus agar hujan tidak sampai membawa bencana.
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ، وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Allāhumma hawālainā wa lā ‘alainā. Allāhumma ‘alal ākāmi wal jibāli, waz zhirābi, wa buthūnil awdiyati, wa manābitis syajari.
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami (membawa berkah), jangan di atas kami (membawa mudarat). Ya Allah, turunkanlah hujan di dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuh pepohonan.”
Doa ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan dinukil dalam kitab Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.
Konteks doa tersebut juga cukup menarik. Saat itu, Rasulullah SAW sedang berkhutbah Jumat. Seorang sahabat datang dan menyampaikan bahwa hujan deras sudah berlangsung hampir sepekan penuh, hingga membuat harta benda rusak dan jalan-jalan terputus. Lalu Rasulullah SAW pun membacakan doa ini agar hujan berpindah ke tempat yang lebih bermanfaat.
Dengan begitu, jelas bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam menyikapi hujan. Kita bersyukur karena hujan adalah karunia Allah, sekaligus berdoa agar tidak menjadi musibah yang menyulitkan kehidupan. (*)


