BACAAJA, SALATIGA– Ketua Dekranasda Jateng, Nawal Arafah Yasin ngajak para pengrajin buat nggak berhenti di produksi kain doang. Targetnya jelas: Jateng tetap jadi “markas besar” batik nasional, tapi dengan sentuhan yang lebih modern.
Ajakan ini disampaikan dalam acara Gemas Sanloka yang digelar di Salatiga, Sabtu, (4/4/2026) malam. Buat Nawal, batik bukan sekadar kain, tapi kekuatan budaya sekaligus peluang ekonomi.
Baca juga: Batik Buatan Warga Lapas Bikin Agustina Angkat Topi
Data dari Kementerian Perindustrian bahkan mencatat, Jateng punya 2.299 produsen batik. Jauh ngunggulin daerah lain kayak Jawa Timur, DIY, sampai Jawa Barat. “Ini potensi besar. Harus kita jaga bareng,” ujarnya.
Tapi, menurutnya, tantangan sekarang bukan cuma soal produksi. Pengrajin harus mulai mikir “next level”, gimana caranya batik bisa punya nilai jual lebih tinggi. Salah satu caranya? Masuk ke dunia fashion ready to wear.
Parade Busana
“Biar nggak cuma jadi kain, tapi bisa langsung dipakai. Pelatihan ke arah sana penting banget,” tambahnya. Di acara itu, vibe-nya juga nggak kaku. Ada parade busana yang melibatkan berbagai kalangan, dari istri pejabat sampai pelajar SMK. Mereka tampil pede memperagakan wastra lokal, mulai dari batik sampai tenun dan lurik.
Menariknya, banyak produk yang ditampilkan justru karya pelajar dan pengrajin lokal. Jadi bukan cuma show, tapi juga ajang unjuk kreativitas. Nawal juga ngapresiasi langkah TP PKK Kota Salatiga yang nggak cuma bikin acara fashion show, tapi juga ngerangkul sekitar 54 pelaku UMKM.
Harapannya, event kayak gini bisa digelar lebih sering di seluruh daerah di Jateng. Soalnya, UMKM dinilai jadi “mesin utama” penggerak ekonomi rakyat.
Baca juga: Batik Pegon Difabel Kebumen Tembus Panggung Dunia
Ketua Dekranasda Kota Salatiga, Retno Robby Hermawan bilang, tujuan utama kegiatan ini adalah bikin masyarakat makin cinta produk lokal. “Kain tradisional itu bukan sekadar kain tua. Ini warisan yang harus dijaga,” ujarnya.
Kalau batik cuma dilipet rapi di lemari, ya nilainya segitu-segitu aja. Tapi begitu dipakai dan dijual dengan gaya, baru deh terasa. Warisan budaya juga bisa jadi cuan. (tebe)


