BACAAJA, SEMARANG – Kelihatannya simpel: datang, bersih-bersih, pulang. Tapi buat para pekerja jasa bersih-bersih berbasis aplikasi, realita di lapangan sering jauh dari kata mulus.
Di balik jam kerja yang fleksibel, ada cerita-cerita yang kadang bikin kaget, kadang bikin capek hati.
Itu yang dialami Dwi Wulandari, pekerja bersih-bersih via aplikasi ‘Rewangono’ (dapat diakses melalui website pembantusemarang.com) yang sehari-harinya keliling rumah warga di Semarang.
Bacaaja: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
Bacaaja: Sururi Profesor Mangrove Semarang: Wariskan Kelestarian Alam untuk Anak-Cucu
Menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari kondisi rumah yang sering kali nggak sesuai ekspektasi.
Salah satu pengalaman yang paling nempel di ingatannya adalah saat harus membersihkan rumah dengan kotoran kucing di mana-mana. Bukan cuma satu dua titik, tapi nyaris di seluruh sudut rumah.
“Enggak tahu itu kotorannya berapa hari di situ. Berserakan di teras, kamar, meja makan, sampai dapur. Jujur aja, saya jadi kayak trauma,” cerita Mbak Dwi di podcast Kerjo Aneh-Aneh Bacaajadotco, tayang 15 Desember 2025.
Harus siap mental
Kondisi kayak gitu bikin kerjaan jauh lebih berat dari yang tertulis di aplikasi. Bukan cuma soal tenaga ekstra, tapi juga mental yang harus siap. Mbak Dwi mengaku, kalau salah strategi, tenaga bisa habis duluan sebelum pekerjaan kelar.
“Biasanya saya fokus ke bagian yang paling parah dulu. Soalnya kalau nggak, bisa drop di awal,” ujarnya.
Selain urusan kebersihan, urusan komunikasi dengan pemilik rumah juga punya cerita sendiri. Ada yang pengertian, tapi ada juga yang berharap rumah langsung kinclong total cuma dalam hitungan jam.
Padahal, waktu kerja tetap terbatas.
Di dunia kerja berbasis aplikasi, rating pelanggan jadi penentu hidup-mati order berikutnya. Mbak Dwi sadar betul soal itu. Mau secapek apa pun, ia tetap berusaha profesional.
“Kalau sampai dapat rating jelek, bisa lama nunggu order lagi,” katanya.
Pelan-pelan, pengalaman di lapangan bikin Mbak Dwi makin lihai. Sekali masuk rumah, ia sudah bisa membaca kondisi, menentukan prioritas, dan mengatur tenaga biar tetap kuat sampai selesai.
Belajar dari rumah orang
Sebagai pekerja lepas, Mbak Dwi juga sadar risikonya. Nggak ada cuti, nggak ada jaminan kesehatan. Tapi dari pekerjaan ini, ia justru dapat pelajaran hidup yang nggak ia duga.
Dari rumah ke rumah, ia melihat berbagai sisi kehidupan orang lain—yang rapi, yang berantakan, yang kelihatan baik-baik saja, sampai yang menyimpan masalah sendiri.
“Kadang dari rumah orang, saya jadi sadar, tiap orang punya masalahnya masing-masing,” ucapnya pelan.
Buat Mbak Dwi, kerja bersih-bersih lewat aplikasi bukan cita-cita sejak kecil. Tapi dari situ, ia belajar bertahan. Datang, bekerja, beresin tugas, lalu pulang.
Nggak selalu nyaman. Nggak selalu ringan. Tapi cukup buat bikin hidup terus jalan. (dul)


